edelweiss jawa bunga abadi pegunungan semeru dan bromo yang kini hampir punah - News | Good News From Indonesia 2026

Edelweiss Jawa, Bunga Abadi Pegunungan Semeru & Bromo yang Kini Hampir Punah

Edelweiss Jawa, Bunga Abadi Pegunungan Semeru & Bromo yang Kini Hampir Punah
images info

Ilustrasi Edelweiss Jawa (commons.wikimedia.org/Nara-tea162)


Pernahkah Kawan GNFI mendaki gunung dan tiba-tiba berhenti, terpaku menatap hamparan bunga putih kecil yang bergoyang di antara angin pegunungan? Itulah Edelweiss Jawa bunga yang namanya sudah melegenda di kalangan pecinta alam Indonesia.

Bunga Edelweiss Jawa, atau yang dalam bahasa ilmiah disebut Anaphalis javanica, bukan sekadar tanaman biasa. Ia adalah hasil alam Jawa yang tumbuh di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, menjadi mahkota tak terucap dari puncak-puncak tertinggi di Pulau Jawa.

Apa Itu Bunga Edelweiss Jawa?

Bunga Edelweiss Jawa, atau Anaphalis javanica, merupakan tumbuhan asli Indonesia yang hanya ada di pegunungan tinggi. Masyarakat Tengger di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyebut bunga ini Bunga Senduro. Ini adalah salah satu hasil alam Jawa yang paling terkenal dan paling berbahaya sekaligus.

Bunga Edelweiss Jawa unik karena tidak rusak bahkan setelah dipetik. Bulu-bulu halus berwarna putih menyerupai wol melapisi daunnya, melindunginya dari suhu yang beku di gunung. Tanaman biasanya tidak lebih dari satu meter tinggi, tetapi beberapa bisa mencapai tinggi hingga delapan meter.

baca juga

Di Mana Bunga Edelweiss Jawa Tumbuh?

Edelweiss Jawa sebagai hasil alam Jawayang ditemukan di beberapa pegunungan tinggi di Indonesia. Habitatnya terletak di tanah vulkanik muda yang terbuka, seperti kawah dan puncak gunung yang kering dan panas. Bukan di hutan lebat yang gelap dan lembap, tetapi justru di situlah ia bersinar.

Saat ini, Tegal Alun di Gunung Papandayan, Alun-Alun Surya Kencana di Gunung Gede, Alun-Alun Mandalawangi di Gunung Pangrango, dan Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani adalah tempat terbaik untuk melihat hamparan Bunga Edelweiss Jawa.

Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sekarang disebut "Desa Wisata Edelweiss" oleh Kelompok Tani Hulun Hyang setelah mendapatkan SK resmi dari Bupati pada 2018.

Kelompok Tani Hulun Hyang dibentuk oleh warga Suku Tengger setempat untuk membudidayakan bunga edelweiss secara mandiri. Kelompok ini mendapatkan izin budidaya secara resmi karena edelweiss merupakan tanaman yang dilindungi undang-undang, namun tetap dibutuhkan oleh masyarakat adat Tengger untuk keperluan ritual sakral.

Siapa yang Terlibat dalam Kisah Bunga Ini?

Dalam kisahnya, Edelweiss memiliki dua wajah manusia. Pertama merupakan orang-orang Tengger, yang tinggal di sekitar kaki Gunung Bromo dan Semeru. Bagi mereka, Bunga Edelweiss Jawa adalah bagian dari ritual, sesaji leluhur, dan identitas budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Bukan sekadar tanaman. Dalam sebuah penelitian, 641 warga dari tujuh desa Tengger diwawancarai untuk meningkatkan pemahaman ekologis tradisional mereka tentang tanaman ini.

Wajah kedua adalah pendaki dan kolektor yang sangat disayangkan terus memetik bunga ini secara ilegal sebagai kenang-kenangan. Inilah paradoks yang menyakitkan bahwa bunga yang ditawarkan sebagai representasi cinta malah dirusak.

Melalui Peraturan Menteri Nomor P.106/MENLHK/2018, tanaman Edelweiss Jawa telah ditetapkan sebagai tanaman yang dilindungi oleh pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kapan Edelweiss Jawa Mekar? Mitos vs. Fakta

Banyak orang percaya bahwa Edelweiss Jawa, bunga abadi yang ditemukan di gunung Semeru dan Bromo, mekar setiap sepuluh tahun sekali. Pecinta alam sangat menyukai cerita ini karena suara magisnya.

Namun, perlu diingat bahwa, secara ilmiah, Edelweiss Jawa sebenarnya dapat berbunga sepanjang tahun, bergantung pada cuaca dan keadaan di sekitar gunung. Tanaman ini tampak "langka mekar" karena pertumbuhannya yang sangat lambat untuk mencapai ukuran dewasa dan berbunga lebat; yang di mana membutuhkan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk terjadi.

MeIihat dan membaca legenda 'mekar sepuluh tahun sekali' lahir bukan dari kebohongan, melainkan dari rasa kagum manusia terhadap sesuatu yang begitu sabar tumbuh di tempat yang begitu keras. Justru kesabaran itulah yang membuat kita seharusnya lebih sabar pula dalam menjaganya.

baca juga

Bagaimana Cara Melestarikan Bunga Edelweiss Jawa?

Berita baiknya, masih ada kemungkinan. Salah satu upaya Kelompok Tani Hulun Hyang di Desa Wonokitri adalah untuk membuktikan bahwa bunga Edelweiss Jawa dapat dibudidayakan di luar habitat alaminya. Program ini muncul dari kesadaran bahwa larangan memetik tidak cukup; masyarakat membutuhkan alternatif ekonomi yang legal dan menguntungkan.

Hasilnya, desa ini sekarang menjadi tempat wisata untuk belajar tentang lingkungan dan pusat pelestarian Edelweiss yang diakui secara resmi.

Sebagai individu, kita dapat mengambil tindakan nyata. Kita dapat menghindari mengambil bunga Edelweiss Jawa saat mendaki, melaporkan tindakan ilegal kepada petugas TNBTS, mendukung produk pertanian dari desa wisata resmi, dan menyebarkan informasi ini kepada siapa pun yang peduli pada lingkungan dan kekayaan hasil alam Jawa.

Mengapa Edelweiss Jawa Kini Terancam?

Bagian yang paling menyedihkan fakta tentang Edelweiss Jawa menunjukkan bahwa populasinya di wilayah TNBTS akan menurun drastis hingga 2026. Lebih mengejutkan lagi, sekarang dilaporkan bahwa Edelweiss Jawa sudah tidak ditemukan sama sekali di jalur pendakian Gunung Semeru. Ini bahkan dikategorikan sebagai tanaman kritis oleh IUCN (Badan Konservasi Dunia) sebagai status konservasi.

Tiga ancaman utama kepunahan Edelweiss Jawa disebabkan dari adanya pemanenan ilegal oleh pendaki untuk dijadikan suvenir, kemudian penggunaan berlebihan untuk kegiatan adat tanpa regenerasi, dan faktor perubahan iklim yang mengubah wilayah suhu di pegunungan, sehingga habitat alami tanaman ini semakin terbatas.

Guna mencegah kepunahan total, Balai Besar TNBTS bersama masyarakat setempat (seperti di Desa Wisata Tosari) terus menggalakkan program budidaya atau konservasi di luar habitat asli (ex-situ). Bunga yang dijual secara resmi sebagai cenderamata di kawasan wisata merupakan hasil budidaya, bukan dari memetik liar.

Edelweiss Jawa, Bunga yang Abadi

Bunga Edelweiss Jawa mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam, bunga ini mengartikan keabadian bukan berarti tidak bisa punah. Ia abadi hanya jika kita memilih untuk menjaganya. Di tahun 2026, saat data dan fakta Edelweiss Jawa semakin mengkhawatirkan, pilihan ada di tangan generasi yang masih sempat melihatnya mekar, dan masih punya waktu untuk memastikan generasi berikutnya juga bisa merasakannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.