Ruang kelas di SMA Kolese De Britto Yogyakarta dirancang unik. Di sekolah ini, ruang kelas dibuat semi-terbuka.
Berbeda dengan ruang kelas pada umumnya yang tertutup rapat oleh empat sisi dinding, salah satu sisi kelas di De Britto dibuat terbuka ke arah koridor. Hanya ada pembatas setinggi dada orang dewasa yang memisahkan ruang belajar dengan area lalu lalang siswa.
Dari luar, jelas orang dapat melihat papan tulis, layar proyektor, hingga suasana pembelajaran yang sedang berlangsung. Sebaliknya, siswa juga tidak sepenuhnya terpisah dari aktivitas sekolah di sekitarnya.
Bagi De Britto, ruang kelas semacam ini menjadi bagian dari proses pendidikan. Siswa dilatih untuk tetap fokus meski selalu ada aktivitas di luar kelas.
desain tersebut bukan hasil renovasi atau tren arsitektur pendidikan modern. Konsep kelas terbuka itu sudah menjadi bagian dari De Britto sejak sekolah ini berdiri pada 19 Agustus 1948. Hingga kini, bentuknya tetap dipertahankan sebagai salah satu ciri khas sekolah.
"Ini desain sejak awal berdiri. Meski kelasnya terbuka tetapi tidak mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar, justru malah melatih konsentrasi siswa mengikuti pembelajaran karena terbiasa tidak terganggu dengan aktivitas lain di luar mereka," kata H.J. Sriyanto yang kala itu menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, sebagaimana dikutip dari Okezone 2022 lalu.
Semangat keterbukaan yang tampak dari bangunan sekolah ini ternyata selaras dengan budaya pendidikan yang dikembangkan De Britto selama puluhan tahun. Kebebasan berekspresi, keberanian mengambil keputusan, dan tanggung jawab terhadap pilihan, menjadi nilai yang terus ditanamkan kepada para siswa.
Bangunan Sekolah Mencerminkan Filosofi Pendidikan
De Britto dikenal luas sebagai sekolah yang memberi ruang kebebasan cukup besar kepada siswanya. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah kebijakan rambut gondrong.
Di sekolah ini, siswa diperbolehkan memanjangkan rambut selama tetap menjaga kebersihan dan tidak mewarnainya.
"Gimbal boleh, tetapi gimbal alami bukan gimbal buatan. Pokoknya asal alami maka diperbolehkan, termasuk gondrong mau sepanjang apa pun boleh," ujar Sriyanto.
Bukan hanya soal rambut. Dalam kesehariannya, siswa juga tidak selalu diwajibkan mengenakan seragam seperti sekolah pada umumnya.
"Siswa boleh berkaos asal berkerah dan boleh tidak memakai sepatu, tetapi bukan sandal jepit. Boleh sandal sepatu," kata Sriyanto.
Menurut Sriyanto, kebebasan diberikan agar siswa belajar membuat keputusan dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan yang mereka ambil.
"Pilihan merdeka anak ini mengajarkan siswa untuk membuat keputusan. Dan selama ini dibutuhkan untuk membangun leadership," ujarnya.
Karena itu, ruang kelas terbuka dan rambut gondrong sebenarnya berasal dari akar pemikiran yang sama. Keduanya lahir dari kepercayaan bahwa siswa perlu belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Pendidikan yang Tidak Hanya Mengejar Nilai Akademik
SMA Kolese De Britto merupakan sekolah Katolik yang dikelola oleh Serikat Yesuit. Namun sekolah ini tidak hanya berfokus pada prestasi akademik. Mereka menerapkan konsep pendidikan yang dikenal sebagai 1L5C, yaitu Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment, dan Consistency.
Secara sederhana, konsep ini bertujuan membentuk siswa yang mampu memimpin, memiliki kemampuan intelektual yang baik, hati nurani yang benar, peduli kepada sesama, memiliki komitmen, dan konsisten dalam tindakan.
De Britto juga menggunakan pendekatan Ignatian Pedagogical Paradigm atau Paradigma Pedagogi Ignasian. Siswa tidak hanya diajak memahami teori di kelas. Mereka juga didorong belajar dari pengalaman, melakukan refleksi, lalu menerapkannya dalam tindakan nyata.
Tinggal di Kampung Pemulung hingga Pondok Pesantren
Sebagai bagian dari pendidikan karakter, siswa mengikuti berbagai program sosial. Mereka dapat tinggal sementara di kampung pemulung, mendampingi penghuni panti penyandang disabilitas ganda, hingga mengikuti program live in di pondok pesantren.`
"Live in toleransi anak-anak tinggal di Pondok Pesantren berinteraksi dengan mereka," kata Sriyanto.
Program tersebut dirancang agar siswa berinteraksi langsung dengan kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang. Tujuannya bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga membangun empati dan kepedulian sosial.
Pendekatan itu pula yang membuat De Britto memiliki siswa dari berbagai agama. Menurut Sriyanto, pada tahun 2022, sekitar 20% hingga 25% siswa berasal dari luar Katolik, termasuk Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


