melalui belenggu armijn pane menggambarkan kesepian jarak emosional dan krisis komunikasi yang masih relevan bagi generasi z saat ini - News | Good News From Indonesia 2026

Belenggu dan Kesepian yang Tidak Banyak Dibicarakan Generasi Z

Belenggu dan Kesepian yang Tidak Banyak Dibicarakan Generasi Z
images info

Sumber: ChatGPT


Di tengah dunia yang semakin canggih, kesepian justru menjadi pengalaman yang semakin banyak dirasakan anak muda. Kita hidup di era ketika mengirim pesan hanya membutuhkan hitungan detik, media sosial memungkinkan kita mengetahui aktivitas teman setiap saat dan berbagai platform digital membuat komunikasi terasa lebih mudah daripada sebelumnya. Namun, kemudahan itu ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kedekatan emosional.

Banyak orang memiliki lingkaran pertemanan yang luas di dunia maya, tetapi tetap merasa tidak benar-benar dipahami. Kesibukan kuliah, pekerjaan, organisasi, hingga tuntutan untuk selalu produktif membuat ruang untuk membangun hubungan yang mendalam semakin sempit. Akibatnya, kesepian sering hadir bukan karena seseorang tidak memiliki teman, melainkan karena ia kehilangan koneksi yang bermakna dengan orang-orang di sekitarnya.

Menariknya, perasaan semacam ini sudah digambarkan oleh Armijn Pane dalam novel Belenggu yang terbit pada 1940. Meski lahir puluhan tahun sebelum internet dan media sosial, novel ini menghadirkan gambaran yang terasa dekat dengan kehidupan Generasi Z saat ini.

baca juga

Tokoh utama dalam novel ini adalah Dokter Sukartono atau Tono dan istrinya, Sumartini atau Tini. Keduanya merupakan pasangan terdidik yang hidup di lingkungan modern pada zamannya. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan ideal. Namun, kehidupan rumah tangga mereka justru dipenuhi jarak emosional.

Dalam novel Belenggu, hubungan Tono dan Tini digambarkan sebagai hubungan kehilangan komunikasi yang baik dan hilangnya sifat saling pengertian. Pernikahan ideal seharusnya dibangun atas dasar cinta, komitmen, komunikasi, kepercayaan, dan sikap saling menghargai.

Ketika unsur-unsur tersebut mulai melemah, konflik pun akan muncul.Kesibukan menjadi salah satu sumber persoalan. Tono terlalu larut dalam pekerjaannya sebagai dokter, sementara Tini aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Mereka sama-sama sibuk menjalani kehidupan masing-masing, tetapi perlahan kehilangan ruang untuk memahami satu sama lain.

Salah satu konflik dalam novel muncul ketika Tini merasa diabaikan oleh suaminya. Dalam sebuah dialog, ia meluapkan kekecewaannya berikut dialognya

"Patient, patient, selamanya patient, isterinya terlantar, tidak malu engkau isterimu sendirian pulang?" (hlm 35)

Kalimat keluhan itu terasa sangat relevan hingga saat ini. Banyak anak muda saat ini mungkin tidak menghadapi persoalan yang sama persis, tetapi mengalami situasi serupa dalam bentuk yang berbeda. Ada yang merasa pasangannya lebih sibuk dengan pekerjaan, lebih fokus pada gawai atau lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan lain dibandingkan membangun kedekatan emosional.

Kesepian yang ditampilkan dalam Belenggu juga menarik karena tidak hadir saat seseorang benar-benar sendirian. Tono dan Tini hidup bersama, berbagi rumah yang sama, tetapi tetap merasa jauh satu sama lain. Inilah bentuk kesepian yang sering dibicarakan, yaitu kesepian di tengah keberadaan orang lain.

Fenomena tersebut masih sangat relevan bagi Generasi Z. Di tengah budaya hustle culture dan tuntutan untuk terus berkembang, banyak anak muda tanpa sadar mengorbankan kualitas hubungan mereka. Kita sering diajak untuk mengejar pencapaian, tetapi jarang diajak belajar bagaimana mempertahankan komunikasi yang sehat dengan orang-orang terdekat.

Selain itu, Belenggu juga memperlihatkan bahwa manusia sering kali mencari tempat di mana dirinya merasa didengar dan dipahami. Ketika Tono berada di rumah Rohayah, ia merasakan ketenangan yang tidak ia temukan dalam rumah tangganya sendiri. Dalam novel, Rohayah berkata kepadanya:

"Janganlah merengut. Janganlah susahkan pikiranmu: Kalau datang kesini tanggalkanlah pikiranmu. Diluar masih banyak yang mesti engkau pikirkan." (hlm 37 )

Kalimat sederhana itu menunjukkan betapa besarnya kebutuhan manusia untuk memiliki ruang yang membuatnya merasa diterima tanpa tekanan.

baca juga

Mungkin itulah sebabnya Belenggu masih terasa relevan hingga hari ini. Novel ini tidak sekadar bercerita tentang cinta segitiga atau konflik rumah tangga, tetapi juga tentang kebutuhan manusia untuk dipahami. Armijn Pane menunjukkan bahwa kesepian bukan selalu soal tidak memiliki siapa-siapa, melainkan tentang tidak menemukan tempat untuk berbagi isi kepala dan perasaan.

Delapan puluh tahun setelah diterbitkan, Belenggu masih mengingatkan bahwa teknologi dapat membantu kita terhubung, tetapi tidak selalu mampu membuat kita dekat. Pada akhirnya yang dibutuhkan manusia bukan sekadar komunikasi, melainkan kehadiran yang sungguh-sungguh. Mungkin di tengah kesibukan yang terus kita kejar, itulah jenis kesepian yang masih banyak dialami Generasi Z hingga saat ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

LE
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.