Armijn Pane menampilkan Dr. Sukartono dalam novel Belenggu sebagai potret manusia modern yang terjebak dalam ketidakselarasan kognitif antara gejolak batin yang tidak teratur dan tuntutan rasionalitas profesinya.
Sebagai seorang dokter yang menginginkan sebuah keteraturan dan logika, Tono justru gagal saat mencoba menerapkan pola pikir klinisnya ke dalam situasi emosional rumah tangganya.
Ia digambarkan sebagai orang yang sukses dan terpelajar secara lahiriah, tetapi ketidakmampuannya untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan atau rencananya. Tekad Sukartono untuk mencari kebebasan batin di tengah keruwetan hidupnya terpancar saat ia merenungkan,
"Kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan lain-lain. Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau, jangan enggan menempuh angin ribut, taufan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tu. Berlayarlah engkau ke dunia baru". (Pane, 2000).
Kutipan ini menegaskan pergulatan Sukartono untuk meraih otonomi diri meskipun ia sadar bahwa langkah tersebut tidak mudah untuk ditempuh.
Konflik internal yang dialami Tono sepanjang cerita digerakkan oleh perasaan rendah diri atau minderwaardigheidscomplex. Sebab, Tono merasa kehilangan kendali atas peran tradisional yang ia harapkan dari seorang pendamping, Tini—istrinya— sehingga menumbuhkan kecemasan ini.
Harapan Tono akan sosok istri yang pasif dan menenangkan bertentangan dengan sifat mandiri Tini. Ini menciptakan jarak emosional yang lebih besar. Kondisi tersebut memaksa Tono untuk mempertanyakan harga diri dan maskulinitasnya di depan orang-orang yang paling dekat dengannya, di mana Armijn Pane menuliskan,
"Sama-sama maklum, itulah yang tidak menyenangkan hati dokter Sukartono. Orang lain sudah maklum akan tingkah laku isterinya kepadanya". (Pane, 2000).
Narasi tersebut diperburuk oleh ketidakselarasan antara peran tradisional yang diharapkan Sukartono dengan aspirasi modern yang dimiliki Tini.
Kemudian, karena kesengsaraan batinnya, Tono melakukan pelarian mental melalui sosok Yah. Dia menemukan Yah sebagai representasi dari kerinduan bawah sadarnya akan pemahaman tanpa syarat dan kebutuhannya untuk didengar dan diterima apa adanya, tanpa perlu memikirkan bagaimana cara membedah masalah hanya dengan kepala dingin.
Bukan hanya hubungan romantis, Tono bertemu dengan Yah sebagai upaya bawah sadar untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Sukartono sempat mengungkapkan perasaannya kepada Yah.
"Yah, seperti pernah engkau kulihat dahulu. Tiada lepas-lepas dari pikiranku, engkau mesti pernah kulihat dahulu." (Pane, 2000).
Percakapan ini kemudian disambut Yah, "Maksudku, tiada heran kita lekas berkenalan, kalau kita dahulu berkenalan juga. Sekarang kita heran, baru saja berkenalan, hati sudah bersua". (Pane, 2000).
Melalui interaksi ini, ia mencoba memproyeksikan semua idealisme yang tidak ia temui dalam kehidupan rumah tangganya.
Ketidakberdayaan Tono dalam menentukan pilihan antara kenyamanan yang mapan, tetapi hambar bersama Tini, atau ketulusan emosional yang berisiko bersama Yah, menunjukkan puncak dari krisis eksistensialnya.
Ia merasa terasing dari lingkungan sosialnya sendiri. Sebab, ia terjepit di antara dua kutub nilai yang saling bertentangan. Tono sadar bahwa ia sedang dikuasai oleh angan-angan. Namun, ia tidak memiliki keteguhan untuk melepaskan diri dari belenggu tersebut.
Kesepian yang ia rasakan di tengah keramaian masyarakat kota adalah wujud nyata dari keterasingan individu modern yang memiliki segalanya secara materi, namun kehilangan arah dalam pemaknaan batin.
Secara keseluruhan, kondisi psikologis Tono menunjukkan kegelisahan manusia yang mencoba mendapatkan kebebasan tetapi tetap terikat oleh kebiasaan, bias, dan pengalaman masa lalu.
Armijn Pane dengan jelas menunjukkan bahwa "belenggu" yang dimaksud bukanlah jeruji besi, tetapi belenggu yang dibuat olehp manusia sendiri untuk pikiran dan perasaan mereka.
Melalui sosok Tono, pembaca diajak untuk merenungkan bagaimana kegagalan dalam memahami diri sendiri dan ketidakjujuran terhadap perasaan hati dapat menyebabkan seseorang terperangkap dalam siklus penderitaan yang tak berujung. Meskipun di dunia nyata, ia tampaknya menjalani kehidupan yang ideal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


