Pernahkah kawan-kawan membayangkan betapa susahnya mencari lowongan pekerjaan di zaman sekarang? Banyak sekali lulusan dari jenjang pendidikan yang ingin lanjut bekerja mengalami kesulitan untuk mendapatkan posisi yang diinginkan. Bahkan, terkadang bergelar sarjana belum cukup akibat makin banyak kualifikasi yang diinginkan perusahaan. Tidak heran, mereka beralih membuka bisnis dibandingkan dengan terus-terusan mencari lowongan pekerjaan yang tidak pasti.
Namun, memulai sebuah usaha tentu tidak semudah yang dipikirkan. Banyak pelaku usaha langsung memulainya tanpa bekal yang matang sehingga bisnis mereka rentan gulung tikar di tengah jalan. Memahami tantangan tersebut, sebuah program pelatihan dari AIESEC in UNS hadir untuk memberikan arahan bagi para calon wirausahawan muda.
Agenda capacity building luring pertama yang bertajuk “Strategic Business Modeling & Market Analysis” merupakan salah satu bagian dari AIESEC Future Leaders (AFL) 2026 yang berhasil menggaet 61 delegates dan 13 coach untuk berkumpul bersama guna membedah secara tuntas bagaimana caranya membangun bisnis yang berkelanjutan.
Dalam kegiatan ini, para peserta diajak untuk memahami pengembangan dan evaluasi ide bisnis secara sistematis sebelum akhirnya diimplementasikan secara langsung. Pelajaran utama yang dibahas adalah Business Model Canvas (BMC). Lewat kerangka kerja ini, peserta mampu menentukan customer segment, value proposition, key resources, key activities, key partners, cost structure, dan revenue streams. Pemahaman BMC ini menjadi awalan yang wajib dilakukan agar bisnis yang direncanakan memiliki arah yang jelas.
Langkah selanjutnya adalah menganalisis bisnis melalui SWOT dan PESTLE. Analisis SWOT sangatlah diperlukan karena dari situ para peserta dilatih untuk jeli melihat kekuatan dan kelemahan usaha mereka, sekaligus melihat peluang serta mengantisipasi ancaman yang akan datang. Sementara itu, analisis PESTLE berfungsi untuk mengetahui faktor-faktor lainnya, seperti politik, ekonomi, sosial, teknologi, hukum, dan lingkungan. Kombinasi kedua analisis tersebut sangat penting dilakukan untuk menilai kelayakan sebuah ide bisnis yang dibuat.
Menariknya, seluruh materi yang disampaikan tidak sebatas teori saja. Novita Anggun Pratiwi, S.M., selaku pemateri menegaskan sebuah pesan penting, yaitu "Bisnis yang baik bukan yang perencanaannya sempurna, tetapi yang dijalankan dan direalisasikan. Namun, perencanaan yang matang tetap dibutuhkan untuk menghindari kerugian." Nasihat dari beliau lah yang menyadarkan para peserta bahwa keberanian dalam membangun bisnis harus diiringi dengan kalkulasi risiko agar usaha tidak mengalami kerugian.
Selain itu, para peserta juga diminta untuk mempraktikkan pembelajaran yang didapat ke dalam aktivitas kelompok. Para peserta disajikan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, kemudian mereka harus merumuskan ide bisnis kreatif sebagai solusinya.
Hebatnya lagi, ide-ide bisnis mereka diwajibkan untuk selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Langkah ini merupakan bukti implementasi dari materi SDGs yang sudah mereka dapatkan pada sesi pelatihan sebelumnya, diharapkan bisnis yang dirintis nantinya mampu membawa dampak positif bagi lingkungan dan sosial.
Kesuksesan ruang belajar yang produktif dan nyaman ini tentu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, seperti OCTO CIMB Niaga, Saluran Sebelas, Peta Careers, Oh Be Shine, Ousean, BEM Psikologi UMS, Himpunan Mahasiswa Bisnis Digital UNS, serta Natureline. Harapannya, kolaborasi ini bisa menjadi awalan yang baik bagi para peserta selaku calon pengusaha muda agar mampu menciptakan lapangan kerja baru dan membawa dampak positif bagi Indonesia. Jadi, bagi kawan-kawan yang penasaran dengan info menarik lainnya, silakan ikuti lebih lanjut di Instagram @unstopable.youth!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


