Surabaya, 23 Juni 2026 - Di tengah arus informasi global yang semakin deras, dua organisasi mahasiswa di Surabaya memilih untuk tidak hanya mengikuti berita, melainkan duduk bersama dan mendiskusikannya secara serius. AIESEC in Surabaya dan ILSA (International Law Students Association) Universitas Airlangga menggelar Global Crossroad, sebuah forum talkshow yang mempertemukan mahasiswa dengan pakar hukum internasional dan pelaku program relawan global, dengan dukungan Grab, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Diselenggarakan pada Jumat, 5 Juni 2026, forum diskusi sore hari ini berhasil mengajak lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Surabaya untuk bersama-sama membahas isu-isu global yang semakin relevan bagi generasi muda.

Yang menarik dari forum ini bukan hanya temanya, tapi siapa yang datang bicara. Jany Purnawanty S.H., S.S., LL.M., dosen Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Airlangga, mengajak kawan semua melihat bagaimana krisis iklim sudah memberikan tekanan nyata pada ketahanan pangan negara-negara berkembang, jauh sebelum isu ini terasa dekat di berita lokal. Beliau juga membahas bagaimana perebutan sumber energi sedang menggeser peta kekuatan antarbangsa, dan di mana posisi hukum internasional dalam menjaga keseimbangan yang semakin rapuh itu. Setelah pemaparannya, peserta diberi ruang untuk bertanya langsung, termasuk soal posisi Indonesia di tengah dinamika tersebut.
Sesi berikutnya mengangkat ketimpangan pendidikan global dari sudut pandang yang jarang masuk ke perbincangan kampus sehari-hari. Kawan mungkin familiar dengan data angka putus sekolah, tapi forum ini membahas lapisan yang lebih dalam: bagaimana kesenjangan infrastruktur dan kelangkaan sumber daya membuat jutaan pelajar di negara berkembang menempuh pendidikan dalam kondisi yang sama sekali tidak setara dengan standar yang kita anggap normal.
Lalu ada Rozan Herdiwinata, Presiden AIESEC in Surabaya 2026, yang berbagi cerita dari pengalamannya menjalani KKN di Vietnam melalui program Global Volunteer. Kak Rozan tidak datang dengan data atau teori. Ia datang dengan pengalaman masuk ke komunitas yang target-target SDGs-nya adalah kebutuhan hidup yang belum terpenuhi, bukan poin presentasi. Ceritanya memberi gambaran yang paling jujur tentang seperti apa keterlibatan pemuda Indonesia di program internasional bisa berarti sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman pribadi.
Global Crossroad memperlihatkan bahwa mahasiswa Indonesia tidak kekurangan kepedulian terhadap isu-isu dunia. Yang selama ini dibutuhkan mungkin hanya ruang yang tepat untuk membicarakannya dengan serius. Dan dua organisasi mahasiswa di Surabaya ini sudah mulai membangunnya.
Bagi kawan yang ingin mengenal lebih jauh isu-isu global sekaligus menemukan berbagai kesempatan untuk terlibat dalam aksi nyata bersama pemuda dari berbagai belahan dunia, kawan dapat mengunjungi AIESEC.org atau mengikuti @aiesecinsurabaya di Instagram karena memberikan perhatian kita terhadap isu-isu global tidak berhenti di Global Crossroad!
(Marsha Muntahir)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


