Perayaan ulang tahun ke-11 Toko Kopi TUKU menjadi momentum untuk melihat bagaimana sebuah jenama kopi lokal berkembang tidak hanya melalui ekspansi bisnis, tetapi juga melalui keterlibatan dengan komunitas, petani, dan pelaku usaha kecil.
Di tengah tantangan industri kopi yang dipengaruhi perubahan iklim, gangguan rantai pasok, dan kondisi ekonomi, TUKU memilih mengangkat tema "Sewelas Asih" sebagai refleksi atas pentingnya menjaga hubungan yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade.
Mengusung tema tersebut, TUKU merayakan hari jadinya melalui rangkaian acara Kumpul Tetangga TUKU, agenda tahunan yang mempertemukan pelanggan, mitra, komunitas, hingga pelaku usaha yang menjadi bagian dari perjalanan perusahaan.
Bagi TUKU, perayaan ini tidak hanya menjadi penanda bertambahnya usia, tetapi juga kesempatan untuk mengapresiasi berbagai pihak yang berkontribusi dalam pertumbuhan perusahaan sejak pertama kali berdiri di kawasan Cipete Raya, Jakarta Selatan, pada 2015.
Bertumbuh Bersama Komunitas
Dalam sebelas tahun terakhir, TUKU telah berkembang menjadi 80 gerai yang tersebar di 11 kota, termasuk membuka kehadiran di Amsterdam, Belanda. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya jangkauan jenama kopi lokal Indonesia di dalam maupun luar negeri.
Namun, perusahaan menilai pertumbuhan tidak hanya diukur dari jumlah gerai yang dibuka. Hubungan dengan pelanggan dan komunitas menjadi aspek yang terus dipertahankan di tengah ekspansi. Setiap hari, lebih dari 85 ribu cangkir kopi disajikan kepada pelanggan melalui jaringan gerainya. Di balik operasional tersebut, terdapat 1.096 barista, juru masak, helper, dan kru yang menjalankan aktivitas sehari-hari di berbagai lokasi.
Melalui tema "Sewelas Asih", TUKU ingin menegaskan kembali nilai kedekatan yang sejak awal menjadi identitas perusahaan. Konsep bertetangga yang diusung bukan hanya dimaknai sebagai kedekatan geografis, tetapi juga hubungan yang terbangun antara perusahaan dengan pelanggan, mitra, maupun komunitas lokal yang tumbuh bersama.
Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Industri Kopi
Industri kopi dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan cuaca memengaruhi kualitas dan karakter biji kopi, sementara rantai pasok global mengalami berbagai tekanan yang berdampak pada proses produksi hingga distribusi.
Di tengah situasi tersebut, TUKU mencatat pertumbuhan bisnis sepanjang 2025. Pendapatan perusahaan meningkat 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) selama tiga tahun mencapai 68 persen. Selain itu, laba sebelum pajak atau earnings before tax (EBT) naik 9 persen, sedangkan laba bersih meningkat 8 persen.
Perusahaan memandang capaian tersebut bukan semata-mata sebagai indikator finansial. Menurut TUKU, hasil tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga operasional di tengah dinamika industri sekaligus mempertahankan hubungan yang telah dibangun dengan pelanggan, mitra usaha, serta seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok kopi.
Meski demikian, perusahaan juga mengakui bahwa pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi di tingkat hulu. Salah satunya terjadi ketika bencana di Aceh Tengah merusak sejumlah kebun kopi yang selama ini menjadi sumber pasokan sekaligus mata pencaharian banyak keluarga petani. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa industri kopi sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan keberlangsungan ekosistem pertanian.
Mendorong Keberlanjutan dari Hulu hingga Hilir
Selain mengembangkan bisnis, TUKU juga melanjutkan sejumlah program keberlanjutan yang melibatkan berbagai organisasi dan komunitas. Dalam upaya menjaga lingkungan, perusahaan bekerja sama dengan Yayasan Tanah Air Semesta dan Bumiterra untuk melakukan reforestasi melalui penanaman lebih dari 13.000 pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) di Garut, Jawa Barat, dan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Di sisi pengelolaan limbah, TUKU berkolaborasi dengan Waste4Change, DUITIN, dan Envmission dalam menangani lebih dari 1.124 ton sampah operasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dari aktivitas bisnis sehari-hari.
Program keberlanjutan juga dikembangkan melalui pemberdayaan masyarakat. Bekerja sama dengan pelaku UMKM di Gunung Sindur, limbah kemasan kopi dan krimer diolah kembali menjadi tas yang dapat digunakan sehari-hari. Kegiatan ini melibatkan sekitar 40 perempuan pengrajin yang memperoleh tambahan sumber pendapatan melalui pemanfaatan limbah tersebut.
Apresiasi bagi Seluruh Ekosistem
Puncak perayaan ulang tahun ke-11 TUKU menghadirkan "11 Tetangga di Balik Perjalanan 11 Tahun TUKU", yaitu representasi berbagai pihak yang berkontribusi terhadap perkembangan perusahaan, mulai dari petani kopi, barista, mitra UMKM, hingga individu yang menjaga berbagai nilai yang dipegang perusahaan sejak awal berdiri.
CEO dan Founder TUKU, Andanu Prasetyo, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan selama sebelas tahun terakhir.
"Terima kasih kepada seluruh tetangga yang sudah berjalan bersama kami selama sebelas tahun. Semua yang kami lakukan adalah bentuk rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran kalian di perjalanan ini. Karena pada akhirnya, TUKU bukan hanya tentang kopi, tetapi tentang berbagi cerita, berbagi hari, dan berbagi hidup. Perayaan ini bukan tentang kami lagi, tetapi tentang bagaimana kita semua, sebagai keluarga besar TUKU, membawa cerita ini lebih jauh dan menghadirkan hal-hal baik bagi lebih banyak orang."
Melalui tema "Sewelas Asih", TUKU ingin menegaskan bahwa pertumbuhan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh ekspansi dan capaian bisnis, tetapi juga oleh hubungan yang dibangun dengan seluruh ekosistemnya. Dari petani di daerah penghasil kopi hingga pelanggan di gerai, setiap pihak menjadi bagian dari perjalanan yang memungkinkan perusahaan terus berkembang sekaligus berkontribusi terhadap ekonomi lokal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

