Kawan GNFI, kalau bicara soal kesenjangan gender dalam pendidikan, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada anak perempuan yang tertinggal, putus sekolah, atau sulit mengakses pendidikan tinggi. Gambaran itu memang masih nyata di banyak negara. Tapi ternyata, ceritanya berbeda di Indonesia.
Laporan UNESCO Global Education Monitoring (GEM) Report secara global menemukan fakta yang menarik: secara keseluruhan, anak perempuan telah membalikkan atau menutup kesenjangan pendaftaran dan kehadiran sekolah selama 20 tahun terakhir. Meski begitu, kesenjangan gender masih bertahan di berbagai wilayah, seperti Afrika Sub-Sahara, dan eksklusi pendidikan masih menjadi ciri banyak negara di dunia.
Indonesia ternyata menjadi salah satu contoh negara yang justru menunjukkan tren sangat positif dalam isu ini.
Data BPS: Anak Perempuan Unggul di Semua Jenjang
Kawan mungkin akan terkejut melihat data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS). Angka partisipasi sekolah perempuan di Indonesia konsisten lebih tinggi dibandingkan laki-laki pada seluruh kelompok usia sekolah, mencerminkan perkembangan positif dalam akses pendidikan yang semakin merata serta meningkatnya kesadaran pentingnya pendidikan bagi anak perempuan di berbagai wilayah.
Pada jenjang sekolah dasar (usia 7-12 tahun), anak laki-laki mencatatkan angka partisipasi sebesar 99,04%, sementara perempuan sedikit lebih tinggi yakni 99,42%. Memasuki jenjang sekolah menengah pertama (usia 13-15 tahun), selisihnya mulai lebih terlihat: angka partisipasi sekolah laki-laki tercatat 95,43%, sedangkan perempuan mencapai 97,22%.
Pola serupa juga terjadi pada jenjang yang lebih tinggi. Pada kelompok usia sekolah menengah atas, BPS mencatat angka partisipasi sekolah laki-laki sebesar 76,21%, sementara perempuan mencapai 79,56%.
Bahkan di Bangku Kuliah, Perempuan Memimpin
Fenomena ini berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi, dan bahkan sudah berlangsung cukup lama. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi perempuan telah menyalip APK laki-laki sejak tahun 2012. Pada 2024, APK perguruan tinggi untuk perempuan berada di angka 35,23%, sementara laki-laki hanya berada di angka 28,89%. Tren ini terus berlanjut, dengan selisih sekitar 6 poin persentase yang konsisten bertahan hingga tahun-tahun berikutnya.
Artinya, sejak satu dekade lalu, perempuan Indonesia secara konsisten lebih banyak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah dibandingkan laki-laki, sebuah tren yang berkebalikan dengan stereotip lama soal pendidikan perempuan di banyak negara berkembang.
Tantangan Global yang Masih Perlu Diwaspadai
Meski capaian Indonesia menggembirakan, Kawan GNFI tetap perlu memahami konteks global yang lebih luas. Laporan GEM terbaru turut mengingatkan, terdapat persistensi kesenjangan di tingkat negara meski secara global perbedaan tingkat anak putus sekolah antara perempuan dan laki-laki sudah tertutup.
Faktor kemiskinan juga masih menjadi penentu besar siapa yang bisa mengakses dan menyelesaikan pendidikan, terutama bagi anak perempuan yang menghadapi kerugian berlapis akibat pendapatan keluarga rendah, tinggal di wilayah terpencil, disabilitas, atau status minoritas, yang cenderung paling tertinggal dalam akses dan penyelesaian pendidikan.
Ini jadi pengingat bahwa pencapaian Indonesia secara nasional tidak serta-merta berarti seluruh wilayah dan kelompok sosial ekonomi sudah merasakan hal yang sama. Kesenjangan di tingkat daerah, terutama di kawasan timur Indonesia atau wilayah dengan akses terbatas, tetap perlu jadi perhatian serius.
Mengapa Capaian Ini Layak Dirayakan, tapi Bukan Akhir Cerita
Kawan, capaian partisipasi pendidikan anak perempuan Indonesia yang unggul ini sesungguhnya adalah cerita baik yang jarang terdengar. Di tengah berbagai pemberitaan global soal kesenjangan akses pendidikan perempuan, Indonesia justru menunjukkan arah yang berlawanan: anak perempuan kita semakin percaya diri melangkah ke ruang kelas, bahkan hingga jenjang tertinggi.
Namun, angka partisipasi yang tinggi bukan berarti seluruh persoalan sudah selesai. Pertanyaan berikutnya yang perlu terus kita kawal adalah soal kualitas pembelajaran, kesempatan kerja yang setara setelah lulus, dan apakah pendidikan yang ditempuh benar-benar mampu membuka jalan menuju kesetaraan ekonomi yang lebih luas, seperti yang juga menjadi fokus berbagai program ekonomi perawatan dan ketenagakerjaan perempuan saat ini.
Yang jelas, dari sisi akses pendidikan dasar hingga tinggi, anak-anak perempuan Indonesia sudah membuktikan satu hal: mereka tidak pernah benar-benar tertinggal. Justru, merekalah yang kini banyak memimpin jalan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


