150 anak di yogyakarta belajar kelola sampah dan penghijauan di kalurahan karangwaru - News | Good News From Indonesia 2026

150 Anak di Yogyakarta Belajar Kelola Sampah dan Penghijauan di Kalurahan Karangwaru

150 Anak di Yogyakarta Belajar Kelola Sampah dan Penghijauan di Kalurahan Karangwaru
images info

150 Anak di Yogyakarta Belajar Kelola Sampah dan Penghijauan di Kalurahan Karangwaru


Kota Yogyakarta terus menghadapi berbagai tantangan perkotaan, mulai dari pengelolaan sampah hingga kebutuhan memperluas ruang terbuka hijau. Di tengah upaya tersebut, berbagai kampung mulai menghadirkan pendekatan yang melibatkan masyarakat sejak usia dini.

Salah satunya dilakukan Kalurahan Karangwaru melalui penyelenggaraan Jambore Anak yang menggabungkan kegiatan bermain, belajar, dan berkreasi sekaligus mengenalkan isu lingkungan kepada anak-anak.

Tahun ini, Jambore Anak Karangwaru memasuki penyelenggaraan keempat dengan melibatkan sekitar 150 anak. Kegiatan tersebut berlangsung melalui kolaborasi antara Pemerintah Kalurahan Karangwaru, Bappeda Kota Yogyakarta, Kampung Markisa, serta perguruan tinggi, yaitu KKN Universitas Sanata Dharma (USD), Fakultas Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Kolaborasi itu menghadirkan berbagai aktivitas edukatif yang mengangkat isu pengelolaan sampah dan penghijauan. Anak-anak tidak hanya mengikuti permainan, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengolah bahan bekas menjadi produk yang bermanfaat sekaligus mengenal pentingnya menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.

Belajar Mengolah Sampah Lewat Karya Kreatif

Pelaksanaan Jambore Anak di Kampung Markisa Blunyahrejo, Karangwaru, Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer
info gambar

Pelaksanaan Jambore Anak di Kampung Markisa Blunyahrejo, Karangwaru, Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer


Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Universitas Sanata Dharma mengajak peserta memanfaatkan botol plastik bekas air mineral menjadi pot tanaman dengan berbagai bentuk menarik. Pot-pot tersebut kemudian dipersiapkan untuk ditanami bibit cabai sehingga dapat dimanfaatkan kembali di lingkungan rumah.

Sementara itu, Fakultas Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa mengenalkan media tanam berbentuk briket yang dibuat dari sampah organik. Melalui praktik sederhana ini, anak-anak diperkenalkan bahwa limbah organik masih memiliki nilai guna apabila diolah dengan tepat.

Di sisi lain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta bersama kelompok perajin batik lokal Waru Craft mengajak peserta membuat tas pilah sampah bermotif daun waru menggunakan teknik gosok godhong.

Aktivitas tersebut mempertemukan unsur seni, budaya lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu kegiatan yang mudah dipahami anak-anak.

Selain memberikan pengalaman baru, rangkaian kegiatan itu juga memperlihatkan bagaimana isu lingkungan dapat dikenalkan melalui pendekatan kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Makin Ramah Anak, Karangwaru Targetkan 20% Ruang Hijau

Pelaksanaan Jambore Anak di Kampung Markisa Blunyahrejo, Karangwaru, Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer
info gambar

Pelaksanaan Jambore Anak di Kampung Markisa Blunyahrejo, Karangwaru, Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer


Lurah Karangwaru Anggit Safrudin, menjelaskan bahwa kampungnya terus berupaya memenuhi target penyediaan sekitar 20% ruang hijau di setiap wilayah. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah membangun Kampung Markisa pada masa pandemi di lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. 

Ke depan, Karangwaru juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan kampung yang lebih rendah emisi karbon.

Ketua LPMK Kalurahan Karangwaru Bandono, menceritakan bahwa gagasan revitalisasi Karangwaru berawal dari keprihatinan atas kasus klitih yang sempat menimpa seorang mahasiswa pada 2018. Peristiwa tersebut mendorong warga untuk memperkuat pembangunan sosial yang dimulai dari anak-anak melalui kegiatan positif di lingkungan sendiri.

Menurutnya, kawasan Karangwaru dirancang agar anak-anak mengenal wilayah tempat tinggalnya, membangun pertemanan dengan sesama anak di tingkat kalurahan, serta belajar mengenai persoalan yang dihadapi kampung, terutama pengelolaan sampah. Pada penyelenggaraan sebelumnya, peserta juga dikenalkan pada pembuatan pupuk dari sampah organik.

Melalui kegiatan tahunan ini, Karangwaru berupaya menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Dengan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku UMKM lokal dalam satu ruang belajar bersama, anak-anak dapat memperoleh pengalaman langsung yang diharapkan membentuk kebiasaan peduli lingkungan sejak dini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Pierre Rainer lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Pierre Rainer.

PR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.