istana kadriah di istana sultan pertama pontianak yang dibangun sejak 1771 - News | Good News From Indonesia 2026

Istana Kadriah, Istana Sultan Pertama Pontianak yang Dibangun Sejak 1771

Istana Kadriah, Istana Sultan Pertama Pontianak yang Dibangun Sejak 1771
images info

Dok. Zhilal Dharma (Wikimedia)


Di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, berdiri sebuah istana berwarna kuning cerah yang menjadi saksi lahirnya Kota Pontianak.

Istana Kadriah dibangun antara 1771 hingga 1778 oleh Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie, sultan pertama Kesultanan Pontianak. Lokasinya berada di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, sebuah titik yang dipilih setelah Syarif Abdurrahman beserta para pengikutnya menyusuri sungai untuk mencari lokasi pusat kekuasaan baru setelah ayahnya wafat.

Warna kuning yang mendominasi bangunan rumah panggung khas Melayu ini bukan kebetulan, melainkan menjadi simbol keagungan dan kemegahan kerajaan yang masih dipertahankan hingga sekarang meskipun bangunannya sudah beberapa kali mengalami renovasi.

Selama berdiri hingga 1950, Kesultanan Kadriah dipimpin oleh delapan sultan sebelum akhirnya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sultan terakhirnya, Syarif Hamid II yang memerintah antara 1945 hingga 1950, memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia modern. Beliau merupakan tokoh perancang lambang negara burung Garuda Pancasila yang masih digunakan secara resmi sampai saat ini.

 

Sekilas Mengenai Istana Kadriah

Istana ini awalnya terdiri dari tiga balai utama, yakni Balai Cermin untuk menerima tamu, Balai Kisi-Kisi untuk tempat tinggal kerabat sultan, dan Balai Sari untuk kediaman putri-putri istana.

Setelah bangunan aslinya mengalami kerusakan dimakan usia, istana dibangun kembali dalam ukuran yang lebih ringkas yang terdiri atas teras, ruang singgasana, ruang belakang, serta beberapa ruang penunjang lain dengan atap bertingkat tiga.

Yang menarik dari arsitekturnya adalah perpaduan tiga pengaruh budaya sekaligus dalam satu kesatuan.

Gaya Melayu terlihat kuat dari bentuk rumah panggung secara keseluruhan. Pengaruh Eropa tampak pada ukiran pintu, jendela lebar berkaca kristal warna-warni, keramik, mebel, serta penggunaan meja marmer. Sementara itu, pengaruh Timur Tengah hadir lewat tiang-tiang berlengkung dan hiasan kerawang berbentuk bulan bintang di atas ambang pintu.

Posisi istana yang berada di pertemuan dua sungai membuatnya rawan serangan bajak laut pada masanya, sehingga 13 meriam kuno buatan Portugis dan Prancis ditempatkan di bagian depan sebagai alat pertahanan taktis kesultanan.

 

Daya Tarik Utama Istana Kadriah

Istana Kadriah menarik karena menyimpan koleksi benda bersejarah yang masih tersusun rapi serta bisa dilihat langsung oleh pengunjung yang datang.

Di dalam istana terdapat deretan foto para sultan beserta keluarga kerajaan, lambang Kesultanan Pontianak, lampu hias kuno, keris pusaka, meja giok, singgasana sultan dan permaisuri, hingga aneka senjata tradisional.

Ada pula cermin pecah seribu yang konon bisa memantulkan banyak bayangan sekaligus, sebuah benda koleksi yang selalu menarik perhatian pengunjung.

Salah satu pusaka paling berharga di sini adalah Al-Quran 30 juz yang ditulis tangan langsung oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Di luar area bangunan, selain deretan meriam kuno, ada juga lancang kuning yang merupakan alat transportasi air tradisional kesultanan pada masa lalu.

Tidak jauh dari istana, sekitar 300 meter berjalan kaki, berdiri Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang dibangun bersamaan dengan istana ini. Struktur kayunya yang megah di tepi sungai membuat kunjungan ke masjid ini terasa melengkapi perjalanan narasi sejarah yang dimulai dari istana.

 

Akses Menuju Istana Kadriah

Istana Kadriah berlokasi di Jalan Tanjung Raya 1, Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak. Lokasinya berada di pusat kota, sehingga Kawan bisa mencapainya melalui jalur darat dengan kendaraan pribadi maupun ojek daring.

Sebagai alternatif petualangan yang unik, perjalanan juga bisa ditempuh melalui jalur sungai menggunakan sampan atau kapal motor cepat yang banyak tersedia di dermaga sekitar.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Istana Kadriah terbuka untuk umum setiap hari sepanjang pagi hingga sore hari tanpa pungutan tiket masuk alias gratis. Pengunjung hanya disarankan memberikan donasi pemeliharaan seikhlasnya di kotak yang sudah disediakan pihak pengelola.

Fasilitas di sekitar lokasi sudah memadai, mulai dari warung kuliner lokal, restoran terapung, pusat oleh-oleh cenderamata, hingga jasa sewa perahu wisata sungai.

 

Ayo Berkunjung ke Istana Kadriah!

Istana Kadriah cocok untuk Kawan GNFI yang sedang berada di Pontianak dan ingin menelusuri akar sejarah berdirinya kota ini secara mendalam.

Datang dengan waktu yang cukup luang agar bisa menjelajahi setiap ruangan dan koleksi pusaka yang ada, serta sempatkan berjalan kaki ke Masjid Jami yang letaknya tidak jauh untuk melengkapi perjalanan wisata sejarah di kawasan Kampung Beting ini.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.