Halo, Kawan GNFI! Di tengah laju modernisasi yang semakin pesat, merawat tradisi leluhur menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi masyarakat Nusantara.
Namun, pemandangan yang menyejukkan hati dan penuh inspirasi baru saja tersaji di wilayah timur Kabupaten Malang, tepatnya di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo.
Pada hari Sabtu (27/6/2026), masyarakat setempat sukses menggelar tradisi Bersih Desa dirangkai dengan peringatan Suroan.
Acara ini tidak hanya kental akan nuansa kebudayaan dan keagamaan pedesaan Jawa. Namun, juga berlangsung sangat istimewa karena dipenuhi dengan semangat kolaborasi lintas generasi yang patut diacungi jempol.
Jika biasanya acara adat dan kebudayaan lebih banyak didominasi oleh para sesepuh atau tetua desa, perayaan di Balai Desa Wringinanom ini justru memberikan panggung yang luas bagi para pemuda.
Kawan GNFI, kegiatan yang dihadiri oleh seluruh warga sedesa tersebut sukses menjelma menjadi wadah sinergi dan perpaduan yang sangat luar biasa.
Kolaborasi erat yang membanggakan ini terjalin dengan indah antara pemuda Karang Taruna yang mewakili Dusun Besuki, Kunci, dan Simpar, dengan barisan akademisi muda dari berbagai institusi pendidikan terkemuka.

Tahukah Kawan? Barisan akademisi muda ini terdiri dari para mahasiswa pengabdian santri Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al-Hikam Malang, serta perwakilan mahasiswa KKN dari tiga kampus negeri favorit di Indonesia, yaitu Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kehadiran para agen perubahan muda yang membawa berbagai latar belakang kampus ini diakui telah sukses menjadi poros utama yang menyemarakkan jalannya acara.
Sinergi pemuda ini bukanlah isapan jempol belaka. Sejak masa persiapan acara hingga hari pelaksanaan tiba, para pemuda Karang Taruna desa setempat tampak sangat solid bahu-membahu dengan para mahasiswa.
Fokus keterlibatan mereka nyatanya tidak hanya sebatas pada penyuksesan hal-hal teknis acara di lapangan saja, Kawan.
Lebih jauh dan bermakna dari itu, keterlibatan aktif mereka telah menjelma menjadi simbol regenerasi yang sangat esensial dalam upaya merawat tradisi luhur di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus budaya lokal.

Kepala Desa Wringinanom, Ahmad Muslimin, atau figur yang lebih akrab disapa Cak Muslimin oleh warganya, secara khusus menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas antusiasme dan kolaborasi dari para pemuda serta mahasiswa tersebut.
Menurut pemaparan beliau di hadapan warga, acara Bersih Desa ini pada dasarnya merupakan sebuah perwujudan syukur kolektif dari seluruh lapisan masyarakat atas segala karunia yang telah diberikan oleh Tuhan.
"Selamatan desa ini kita selenggarakan sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat, nikmat aman, tenteram, dan kesehatan kepada kita semua," ungkap Cak Muslimin dengan nada yang penuh kehangatan.
Lebih lanjut, Kawan GNFI, Cak Muslimin juga menyoroti dengan rasa bangga terkait keberhasilan para mahasiswa dalam membaur dengan ritme kehidupan warga desa.
Beliau memuji secara khusus bagaimana para santri Al-Hikam dan mahasiswa KKN lainnya dinilai sangat baik dalam beradaptasi dengan masyarakat setempat.
"Kami sangat mengapresiasi kawan-kawan dari Al-Hikam, sejak awal kedatangan mereka disambut antusias dan mampu berbaur dengan warga kami. Begitu pula dengan teman-teman dari UGM, UM, dan UB, semuanya bisa bareng-bareng belajar dan berbaur di sini," tambahnya.
Satu hal yang sangat menarik untuk dicatat adalah, meskipun keseluruhan rangkaian acara ini dikemas dengan penuh kesederhanaan, peringatan Suroan dan Bersih Desa di Wringinanom ini tetap tidak kehilangan esensi serta nilai kesakralannya sama sekali.
Nuansa khidmat sangat terasa dan terlihat jelas dari prosesi doa bersama yang dilakukan oleh warga, dengan duduk mengelilingi sajian tumpeng, aneka hasil bumi yang melimpah, serta diiringi dengan kepulan asap dupa sebagai simbolisasi rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Tidak berhenti pada aspek spiritual dan pelestarian kebudayaan saja, wujud syukur masyarakat Desa Wringinanom ini juga secara apik direalisasikan dalam bentuk kepedulian sosial yang nyata.
Di sela-sela doa bersama tersebut, warga desa turut merealisasikan kegiatan sosial yang mulia berupa pemberian santunan kepada anak-anak yatim di desa tersebut.
Melihat fenomena membanggakan ini, tentu kita bisa menarik sebuah kesimpulan yang melegakan. Kolaborasi yang sangat apik dan terstruktur antara pemerintah desa, warga masyarakat, Karang Taruna, santri Al-Hikam, hingga perwakilan mahasiswa KKN dari berbagai kampus ini menjadi bukti nyata kekuatan sosial masyarakat pedesaan.
Sinergi ini secara meyakinkan membuktikan bahwa tradisi lokal yang diwariskan oleh para leluhur kita dapat terus hidup, lestari, dan akan selalu relevan dengan perkembangan zaman. Terlebih, ketika ia dirangkul dan didukung penuh oleh semangat kebersamaan para pemudanya.
Semoga kabar baik dari Poncokusumo ini bisa menjadi pemantik inspirasi bagi Kawan GNFI di seluruh penjuru negeri untuk tidak pernah lelah mencintai, merayakan, dan melestarikan kekayaan budaya di daerah masing-masing!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


