Hutan selama ini dikenal sebagai penyerap karbon dan penyangga kehidupan berbagai satwa liar. Namun, manfaatnya ternyata juga dirasakan langsung oleh manusia, terutama bagi kesehatan fisik dan mental. Guru Besar IPB University, Prof. Siti Badriyah Rushayati, menjelaskan bahwa konsep healing forest atau terapi hutan didukung oleh berbagai temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa paparan lingkungan hutan mampu membantu mengurangi stres hingga meningkatkan daya tahan tubuh.
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada Sabtu (27/6), Prof. Siti menyampaikan bahwa keberadaan hutan menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Menurutnya, jasa lingkungan yang diberikan hutan tidak hanya berkaitan dengan keseimbangan ekosistem, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas hidup manusia.
"Hutan tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan iklim dan ekosistem, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesehatan manusia melalui konsep healing forest," jelasnya.
Phytoncide, Senyawa Alami yang Menenangkan Tubuh
Salah satu faktor yang membuat terapi hutan memberikan efek positif adalah keberadaan phytoncide, senyawa volatil alami yang dilepaskan tumbuhan. Senyawa ini sebenarnya diproduksi sebagai mekanisme pertahanan pohon terhadap serangan mikroorganisme, serangga, maupun tekanan lingkungan. Namun, ketika dihirup manusia, phytoncide ternyata memberikan berbagai manfaat kesehatan.
Prof. Siti menjelaskan bahwa sejumlah penelitian menemukan paparan udara hutan mampu meningkatkan aktivitas natural killer cells, yaitu sel-sel sistem imun yang berfungsi melawan infeksi dan membantu menghancurkan sel kanker.
"Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental," ungkapnya.
Ia menambahkan, manfaat tersebut berkaitan erat dengan sifat antioksidan yang dimiliki phytoncide. Senyawa ini membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas sekaligus memberikan efek relaksasi.
"Phytoncide memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Paparan senyawa ini secara teratur juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental," jelas Prof. Siti.
Healing Forest Perlu Lokasi yang Tepat
Meski terdengar sederhana, terapi hutan tidak berarti setiap kawasan berhutan dapat langsung dijadikan lokasi healing forest. Menurut Prof. Siti, kawasan yang digunakan harus memenuhi sejumlah persyaratan agar manfaat kesehatannya benar-benar optimal.
Lingkungan tersebut harus memiliki tingkat kebisingan yang rendah, kualitas udara yang baik, kondisi medan yang aman, serta suasana yang mampu menciptakan rasa tenang. Seluruh pengalaman selama berada di kawasan hutan juga harus melibatkan pancaindra secara utuh, mulai dari udara yang dihirup, suara alam, hingga pemandangan vegetasi.
"Dalam healing forest, seluruh panca indera harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal," katanya.
Konsep ini mulai diterapkan di sejumlah kawasan konservasi. Salah satu contohnya adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang telah mengembangkan paket wisata healing forest lengkap dengan jalur khusus, aktivitas terapi alam, serta pendampingan pemandu terlatih.
Menurut Prof. Siti, pengembangan wisata berbasis jasa lingkungan tersebut dapat menjadi peluang ekonomi sekaligus memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pelestarian hutan.
"Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan," ujarnya.
Menjaga Hutan untuk Kesehatan dan Lingkungan
Prof. Siti menilai upaya menghadapi triple planetary crisis memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari konservasi dan restorasi ekosistem, pembangunan hutan kota, peningkatan kemampuan vegetasi menyerap polutan, hingga pemanfaatan teknologi dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, manfaat hutan bagi kesehatan manusia akan tetap terjaga apabila fungsi ekologisnya juga terlindungi. Karena itu, pelestarian hutan tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga bagian dari investasi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
"Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya dapat tercapai apabila pembangunan berjalan selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan," pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


