regenerasi petani investasi publik untuk menjaga ketahanan pangan indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Regenerasi Petani: Investasi Publik untuk Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia

Regenerasi Petani: Investasi Publik untuk Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia
images info

Foto oleh Redicul Pict di Unsplash


Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Lahan pertanian yang luas serta kondisi iklim tropis menjadi modal penting dalam menghasilkan berbagai komoditas pangan. Selama bertahun-tahun sektor pertanian telah menjadi penopang kehidupan jutaan masyarakat sekaligus berperan menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, terdapat persoalan yang mulai mengkhawatirkan, yakni semakin sedikit generasi muda yang tertarik menjadi petani.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa jumlah petani milenial di Indonesia mencapai sekitar 6,18 juta orang atau hanya 21,93 persen dari total petani. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha pertanian masih didominasi kelompok usia yang lebih tua. Pada saat yang sama, jumlah usaha pertanian perorangan juga mengalami penurunan dibandingkan satu dekade sebelumnya. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa proses regenerasi petani belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Fenomena tersebut tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata. Dalam perspektif ekonomi publik, keberadaan petani memiliki kaitan erat dengan kepentingan masyarakat luas. Ketahanan pangan merupakan kebutuhan publik karena setiap orang membutuhkan akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan terjangkau. Ketika jumlah petani terus menurun tanpa adanya regenerasi yang memadai, maka ancaman terhadap stabilitas produksi pangan akan semakin besar. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga seluruh masyarakat melalui kenaikan harga pangan, meningkatnya inflasi, hingga bertambahnya ketergantungan terhadap impor.

baca juga

Rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian dipengaruhi oleh berbagai faktor. Banyak anak muda masih memandang bertani sebagai pekerjaan yang identik dengan aktivitas fisik yang berat, pendapatan yang tidak menentu, serta memiliki risiko gagal panen akibat perubahan cuaca maupun serangan organisme pengganggu tanaman. Di sisi lain, perkembangan sektor industri, jasa, dan ekonomi digital menawarkan peluang kerja yang dianggap lebih menjanjikan dari segi pendapatan maupun prestise.

Padahal, pandangan tersebut tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan kondisi saat ini. Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pertanian. Berbagai inovasi seperti Internet of Things (IoT), drone pertanian, sensor kelembapan tanah, sistem irigasi otomatis, hingga teknologi smart farming mulai diterapkan di berbagai daerah. Teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, pupuk, dan tenaga kerja sekaligus meningkatkan produktivitas hasil panen. Pertanian modern tidak lagi hanya mengandalkan tenaga fisik, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengelola data, teknologi, dan bisnis.

Sayangnya, transformasi menuju pertanian modern masih menghadapi berbagai kendala. Banyak petani muda memiliki semangat untuk mengembangkan usaha pertanian, tetapi terbentur keterbatasan modal, akses teknologi, kepemilikan lahan, maupun pemasaran hasil panen. Dalam kondisi seperti ini, mekanisme pasar belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang ada. Di sinilah pemerintah memiliki peran penting sebagaimana dijelaskan dalam teori ekonomi publik. Pemerintah perlu hadir untuk mengatasi kegagalan pasar melalui kebijakan yang mampu menciptakan kesempatan yang lebih adil bagi masyarakat.

Intervensi pemerintah dapat diwujudkan melalui berbagai kebijakan, seperti memperluas akses pembiayaan bagi petani muda dengan bunga yang terjangkau, meningkatkan pelatihan mengenai pertanian digital, memperkuat penyuluhan pertanian, memperbaiki infrastruktur produksi, hingga memperluas akses pasar melalui pemanfaatan platform digital. Selain itu, berbagai program regenerasi petani yang telah dijalankan pemerintah perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mampu menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting dalam mendukung regenerasi petani. Sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan yang menguasai teori, tetapi juga harus mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun kegiatan kewirausahaan, mahasiswa dapat menjadi motor penggerak transformasi pertanian menuju sektor yang lebih modern dan kompetitif.

Bagi mahasiswa agribisnis, pertanian seharusnya dipandang sebagai sebuah sistem bisnis yang terintegrasi. Aktivitas pertanian tidak berhenti pada proses budidaya, tetapi juga mencakup pengolahan hasil, pemasaran, manajemen rantai pasok, hingga pemanfaatan teknologi digital. Dengan pendekatan agribisnis yang tepat, sektor pertanian memiliki peluang keuntungan yang besar sekaligus mampu memberikan manfaat sosial melalui penyediaan pangan dan penciptaan lapangan kerja.

Saat ini Indonesia juga menghadapi tantangan global berupa perubahan iklim, pertumbuhan jumlah penduduk, serta ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi tersebut menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu isu strategis dalam pembangunan nasional. Negara yang mampu menjaga produksi pangannya sendiri akan lebih siap menghadapi berbagai krisis dibandingkan negara yang terlalu bergantung pada impor.

baca juga

Oleh karena itu, regenerasi petani tidak boleh dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi publik jangka panjang. Investasi ini bukan hanya untuk kepentingan sektor pertanian, tetapi juga untuk menjaga stabilitas ekonomi, mengendalikan inflasi pangan, mengurangi kemiskinan, serta memperkuat kedaulatan bangsa. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi agar sektor pertanian menjadi ruang yang menarik bagi generasi muda untuk berkarya.

Pada akhirnya, masa depan ketahanan pangan Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan kita menyiapkan generasi petani baru sejak hari ini. Jika regenerasi petani berjalan dengan baik, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tetapi juga memiliki peluang menjadi negara agraris modern yang berdaya saing tinggi di tingkat global. Sebaliknya, apabila persoalan ini terus diabaikan, ancaman terhadap ketahanan pangan akan menjadi tantangan yang semakin sulit diatasi pada masa mendatang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.