apa itu agricultural rural farmers training center yang baru saja diresmikan kembali di gambia - News | Good News From Indonesia 2026

Apa Itu Agricultural Rural Farmers Training Center yang Baru Saja Diresmikan Kembali di Gambia?

Apa Itu Agricultural Rural Farmers Training Center yang Baru Saja Diresmikan Kembali di Gambia?
images info

Agricultural Rural Farmers Training Center | Kemlu RI


Indonesia kembali mengukuhkan eksistensinya di Benua Afrika melalui diplomasi pertanian yang moncer. Indonesia meresmikan kembali Agricultural Rural Farmers Training Center (ARFTC) yang berlokasi di Jenoi, Gambia.

Pusat pelatihan pertanian ini resmi beroperasi kembali setelah melalui proses revitalisasi intensif oleh Pemerintah Indonesia. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, bersama Menlu Gambia pada 1 Juli 2026.

Langkah ini bukan sekadar urusan peremajaan infrastruktur fisik semata. ARFTC menjadi bukti komitmen Indonesia untuk terus bekerja sama di bidang strategis bersama Gambia untuk memperkuat ketahanan pangan.

Apa Itu ARFTC?

Agricultural Rural Farmers Training Center (ARFTC) di Gambia | Kemlu RI
info gambar

Agricultural Rural Farmers Training Center (ARFTC) di Gambia | Kemlu RI


Agricultural Rural Farmers Training Center alias ARFTC adalah pusat pelatihan pertanian dan penggerak ketahanan pangan di Afrika Barat. ARFTC pertama kali didirikan pada tahun 1996 atas inisiasi Indonesia. Pendiriannya melibatkan kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Yayasan Amal Masyarakat Pertanian Indonesia (YAMPI), dan FAO.

Sejak berdiri, pusat pelatihan ini banyak berkontribusi untuk melatih ribuan petani Gambia. Afrika. Tercatat lebih dari 6.000 petani dan penyuluh pertanian telah menimba ilmu di tempat ini. Bahkan, petani yang mendapatkan penyuluhan juga berasal dari berbagai negara Afrika Barat, seperti Guinea, Liberia, Mali, dan Senegal.

Revitalisasi ini bertujuan untuk memodernisasi fasilitas dan meningkatkan kapasitas pelatihan. Indonesia ingin memastikan ARFTC tetap relevan dengan tantangan pertanian modern dan perubahan iklim.

baca juga

Membangun Kemandirian Pangan Afrika Barat

Gambia saat ini masih menghadapi tantangan serius terkait ketahanan pangan nasional. Mereka harus mengimpor sekitar 80–90 persen kebutuhan beras setiap tahunnya.

Kondisi ini dipicu oleh rendahnya hasil panen dan ketergantungan pada metode tradisional. Selain itu, perubahan iklim dan intrusi air laut mulai mengancam lahan-lahan sawah mereka.

Melihat kondisi ini, peran ARFTC menjadi sangat vital bagi masa depan pertanian Gambia. Pusat ini berfungsi sebagai tempat berbagai pengetahuan dan inovasi teknologi pertanian terbaru.

Pelatihan di ARFTC mencakup teknik budi daya beras hingga manajemen lahan yang berkelanjutan. Harapannya, hasil produksi lokal dapat meningkat drastis guna mengurangi ketergantungan impor beras dari luar.

ARFTC diproyeksikan berkembang menjadi sebuah Regional Centre of Excellence. Tempat ini akan menjadi pusat keunggulan pertanian untuk seluruh kawasan Afrika Barat.

Pemerintah Indonesia tengah menjajaki kolaborasi dengan berbagai mitra pembangunan internasional lainnya. Skema Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular akan menjadi landasan operasionalnya.

Konsep ini memungkinkan Indonesia berbagi pengalaman keberhasilan swasembada pangan kepada negara-negara di Afrika. Pengetahuan yang dibagikan diharapkan mampu mengubah masa depan ekonomi sebuah bangsa.

Upaya ini merupakan bagian dari upaya memperkuat diplomasi ekonomi di pasar non-tradisional. Melalui ARFTC, diharapkan petani Gambia bisa mengelola sawahnya dan mendukung ketahanan pangan di kawasan Afrika Barat.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.