Ilabulo, salah satu makanan tradisional khas Gorontalo yang patut Kawan coba ketika berkunjung ke daerah ini. Bagi Kawan yang tinggal di Gorontalo, apakah sudah pernah mencicipi makanan tradisional ini sebelumnya?
Tahukah Kawan, ternyata keberadaan ilabulo sudah ada sejak lama di tengah masyarakat Gorontalo. Bahkan kuliner tradisional yang satu ini diketahui sudah ada sejak abad ke-15 dulunya.
Keberadaan ini membuat ilabulo tidak hanya dipandang sebagai makanan biasa saja. Sebab ada makna dan nilai filosofi yang terkandung di balik makanan tradisional Gorontalo tersebut.
Apa saja hal menarik yang bisa Kawan ketahui terkait ilabulo khas Gorontalo ini? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Ilabulo, Makanan Tradisional Khas Gorontalo
Ilabulo merupakan salah satu makanan tradisional khas Gorontalo yang memiliki riwayat panjang. Kuliner yang satu ini diketahui sudah ada di tengah masyarakat Gorontalo sejak ratusan tahun silam.
Pada dasarnya, ilabulo merupakan sejenis makanan yang terbuat dari bahan dasar tepung sagu dan hati ampela ayam atau sapi. Kedua bahan ini nantinya akan dicampur dengan beberapa bumbu rempah lainnya, sebelum dibungkus ke dalam daun pisang dan dimasak.
Terdapat dua cara memasak ilabulo yang umum dijumpai di tengah masyarakat, yakni dikukus dan dibakar. Namun cara memasak ilabulo yang dibakar biasanya akan memberikan cita rasa yang khas pada kuliner tradisional tersebut.
Mirip dengan Pepes
Sekilas, ilabulo memiliki kemiripan dengan pepes yang bisa Kawan jumpai di beberapa daerah lain yang ada di Indonesia. Apalagi kedua makanan ini sama-sama dibungkus dengan menggunakan daun pisang dan memiliki ukuran yang mirip.
Namun sebenarnya ilabulo dan pepes merupakan dua kuliner yang jauh berbeda, terutama pada bahan yang digunakan pada proses pembuatannya.
Perbedaan bahan yang digunakan ini juga membedakan cita rasa dari ilabulo dan pepes. Meskipun demikian, cara mengonsumsi ilabulo tidak jauh berbeda dengan pepes.
Makanan tradisional khas Gorontalo ini biasa dikonsumsi sebagai pendamping lauk oleh masyarakat. Namun tidak jarang juga ilabulo dikonsumsi secara langsung sebagai cemilan sehari-harinya.
Simbol dan Lambang Persatuan
Menurut riwayatnya, keberadaan ilabulo diketahui sudah dihidangkan sejak abad ke-15 silam. Pada waktu itu, kuliner yang satu ini biasanya disajikan untuk kalangan bangsawan.
Dulunya makanan ini menjadi salah satu hidangan favorit dari bangsawan yang ada di Kesultanan Gorontalo dan Kesultanan Bolango. Seiring berjalannya waktu, kuliner yang satu ini tidak hanya terbatas di kalangan bangsawan saja, tetapi juga dinikmati oleh siapa saja.
Bagi masyarakat Gorontalo, ilabulo ternyata memiliki nilai yang lebih dari sekadar makanan saja. Bahkan makanan tradisional Gorontalo tersebut dianggap sebagai simbol dan lambang persatuan antarsesama.
Hal ini merujuk pada definisi dari nama "Ilabulo" yang disematkan pada makanan tradisional tersebut. Dilansir dari laman Indonesia Kaya, nama ilabulo sendiri berasal dari bahasa Gorontalo, yakni "Totombowata" yang berarti bersatu padu.
Definisi ini merujuk pada berbagai bahan yang digunakan untuk membuat ilabulo yang bersatu padu hingga menjadi sebuah sajian makanan. Hal inilah yang dimaknai sebagai simbol perdamaian yang mampu memadukan perbedaan yang ada di tengah masyarakat.
Simbol perdamaian pada ilabulo ini pula yang membuat sajian tersebut sering disajikan oleh para raja saat ada perundingan antarkerajaan dulunya. Saat ini, ilabulo juga bisa Kawan jumpai di berbagai acara adat yang ada di tengah masyarakat Gorontalo.
Berkat nilai yang terkandung di dalamnya ini pula, makanan tradisional khas Gorontalo tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019 silam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


