Halo, Kawan GNFI! Sadar atau tidak, hampir semua orang yang kita temui di jalan kini selalu sibuk dengan layar ponsel mereka, bukan? Di era digital saat ini, penggunaan media sosial dan konsumsi konten online memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Platform-platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok menawarkan hiburan dan konektivitas tanpa batas. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat sistem algoritma yang bekerja dengan sangat cerdas. Sistem algoritma media sosial dirancang untuk terus menyodorkan konten yang memikat perhatian secara personal agar pengguna tetap bertahan di dalam aplikasi.
Jika tidak disikapi dengan bijak, sistem ini dapat memicu kecanduan dan membuat aktivitas digital berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan, hingga akhirnya menjebak seseorang dalam fenomena doomscrolling.
Doomscrolling sendiri merupakan kebiasaan tanpa sadar menelusuri layar ponsel untuk terus membaca atau mengonsumsi berita dan konten negatif di media sosial. Didukung oleh algoritma yang terus menyuplai konten serupa, kebiasaan ini dapat mengurangi rentang perhatian seseorang di dunia nyata serta memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental pengguna.
Mengapa Doomscrolling Marak di Zaman Sekarang?
Bukan tanpa alasan mengapa menghentikan kebiasaan menggeser layar ponsel terasa begitu menantang. Media sosial modern memang dirancang sedemikian rupa agar penggunanya terus melihat konten baru sehingga mereka sulit untuk berhenti. Akibat dari kenyamanan visual dan kemudahan akses ini, banyak orang akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama di media sosial daripada yang mereka sadari sebelumnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh dinamika informasi yang beredar saat ini. Terkait hal tersebut, dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Atika Dian Ariana, M.Sc., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa doomscrolling merupakan perwujudan kecemasan manusia dalam menghadapi ketidakpastian yang cenderung negatif.
Sejalan dengan hal itu, artikel berjudul “Attachment Insecurity and Social Media Fear of Missing Out: The Mediating Role of Intolerance of Uncertainty” yang diterbitkan dalam jurnal Digital Psychology mengungkapkan bahwa manusia secara alami memiliki insting untuk mencari informasi demi memegang kendali saat menghadapi ketidakpastian. Sayangnya, insting ini terstimulasi secara berlebihan oleh media sosial yang terus dibanjiri kabar buruk. Situasi yang tidak kondusif ini akhirnya memicu rasa cemas, lalu mendorong seseorang untuk terus menggali informasi negatif demi mencari kejelasan, hingga membentuk siklus doomscrolling yang sulit dihentikan.
Ironisnya, dorongan psikologis untuk mencari kepastian di tengah badai informasi inilah yang membuat doomscrolling makin marak. Jika kebiasaan mengonsumsi konten singkat dan bermuatan negatif ini dilakukan secara berlebihan, pengguna media sosial berisiko menjadi lebih mudah terdistraksi dan mendadak sulit untuk menjaga fokus dalam jangka waktu yang lama ketika beraktivitas di dunia nyata.
Menjaga Keseimbangan dalam Penggunaan Media Sosial
Agar tidak terjebak dalam dampak buruk yang menguras mental, pengguna media sosial perlu mengambil langkah aktif untuk merebut kembali kendali atas perhatian mereka. Kuncinya bukan meninggalkan teknologi sepenuhnya, melainkan menjaga keseimbangan dalam pemanfaatannya sehari-hari.
Langkah taktis yang dapat diterapkan antara lain membuat batasan waktu yang disiplin saat mengakses aplikasi media sosial. Membiasakan diri untuk melakukan jeda digital (digital detox) atau menjauhkan gawai menjelang waktu tidur terbukti efektif untuk mengembalikan ketenangan pikiran.
Selain itu, penting juga untuk membangun kesadaran penuh (mindfulness) saat menggunakan ponsel. Dengan begitu, pengguna bisa memilah mana konten yang benar-benar bermanfaat dan mana yang hanya memicu kecemasan.
Algoritma media sosial akan selalu bekerja untuk menyajikan konten-konten yang mampu mengikat perhatian penggunanya. Namun pada akhirnya, kendali penuh untuk menyudahi pusaran doomscrolling tetap berada di tangan masing-masing individu. Dengan membangun kesadaran digital yang lebih sehat, layar ponsel tidak akan sampai merenggut kedamaian mental maupun fokus berharga dalam menikmati kehidupan nyata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


