Stasiun Tanjung Priok adalah salah satu stasiun kereta api paling bersejarah di Indonesia. Terletak di kawasan Jakarta Utara, Stasiun Tanjung Priok merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda.
Uniknya, wilayah sekitar stasiun dulunya adalah kawasan hutan dan rawa-rawa. Pembangunan stasiun dibuat untuk mempermudah akses penumpang kapal dan perdagangan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju pusat Batavia.
Stasiun Tanjung Priok berdiri megah di atas tahan seluas 4,693 hektare, menjadikannya salah satu stasiun terbesar di Jakarta. Saking bersejarahnya, bangunan Stasiun Tanjung Priok ditetapkan sebagai cagar budaya.
Sejarah Stasiun Tanjung Priok
Pembangunan stasiun ini tidak terlepas dari pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok pada akhir abad ke-19. Kala itu, pembangunannya bertujuan untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa yang mulai mengalami pendangkalan dan tidak lagi memadai bagi kapal-kapal besar.
Sebagai informasi, Stasiun Tanjung Priok sebetulnya memiliki dua generasi. Generasi pertama diresmikan pada 2 November 1885.
Lokasinya sangat dekat dengan dermaga pelabuhan untuk mendukung kelancaran distribusi logistik. Namun, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dunia pasca-pembukaan Terusan Suez, volume barang dan penumpang melonjak drastis sehingga stasiun lama dianggap tidak lagi memadai.
Pembangunan stasiun generasi kedua dimulai pada tahun 1914 di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal A.F.W. Idenburg. Proyek ini melibatkan sekitar 1.700 tenaga kerja, di mana 130 pekerjanya berasal dari Eropa.
Bangunan megah Stasiun Tanjung Priok generasi kedua ini dirancang langsung oleh arsitek termasyhur Belanda, Ir. C.W. Koch dari Staatsspoorwegen (SS). Setelah pembangunan yang cukup lama, stasiun ini akhirnya resmi dioperasikan dan dibuka untuk umum pada 6 April 1925.
Momen tersebut juga menjadi tonggak sejarah penting karena bertepatan dengan pengoperasian jalur kereta listrik (KRL) pertama di Indonesia yang menghubungkan Tanjung Priok ke Meester Cornelis (Jatinegara).
Arsitektur Art Deco yang Ciamik
Yang paling khas dari Stasiun Tanjung Priok adalah arstitekturnya. Stasiun ini menggunakan langgam arsitektur Art Deco.
Art Deco (Arts Décoratifs) adalah gaya seni arsitektur dan desain interior yang sempat populer di tahun 1920-an sampai 1940-an. Di masa penjajahan dahulu, cukup banyak bangunan di Indonesia yang dibangun Belanda dengan gaya arsitektur ini, salah satunya Gedung Bank Indonesia.
Bangunan Art Deco bentuknya cederung simetris dan tampak sederhana, tapi tetap mewah. Salah satu ciri khasnya adalah struktur ziggurat atau bidang berundak yang di bagian atap tengah bangunan.
Penggunaan garis-garis vertikal pada kolom besar dan garis horizontal pada list atap mempertegas kemegahan khas awal abad ke-20.
Keunikan lainnya ada pada area peron yang menggunakan struktur rangka baja lengkung bentang lebar (overcapping) yang menaungi delapan jalur sekaligus. Model semacam ini serupa dengan Stasiun Amsterdam Centraal di Belanda.
Material yang digunakan pun tergolong mewah pada zamannya. Belanda menggunakan perpaduan beton, baja, dan ornamen kaca patri dan keramik hias pada dindingnya.
Pernah Punya Ruang Dansa
Di masa kejayaannya, stasiun ini juga berfungsi sebagai penginapan mewah bagi penumpang Eropa. Ada banyak fasilitas penunjang yang sangat tidak biasa ditemukan di stasiun lain, seperti bar, ruang dansa, restoran, hingga rumah sakit.
Selain itu, ada ruang bawah tanah yang konon difungsikan bunker atau gudang logistik yang luas. Setelah sempat mengalami penurunan kualitas fisik dan nonaktif pada awal tahun 2000-an, stasiun ini kembali difungsikan setelah renovasi besar-besaran pada 2008.
Pada 28 April 2009, stasiun ini diresmikan kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai stasiun penumpang. Saat ini, Stasiun Tanjung Priok melayani KRL Commuter Line Lin Pinkrelasi Jakarta Kota-Tanjung Priok serta angkutan barang peti kemas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


