industri tahu tempe lokal masih bergantung kedelai impor begini saran dari pakar ipb - News | Good News From Indonesia 2026

Tahu Tempe Lokal Masih Bergantung Kedelai Impor, Begini Saran dari Pakar IPB

Tahu Tempe Lokal Masih Bergantung Kedelai Impor, Begini Saran dari Pakar IPB
images info

Foto oleh Fairuz Naufal Zaki di Unsplash


Gejolak ekonomi global belakangan ini kembali menghantam dapur rumah tangga dan pelaku usaha kecil di tanah air. Dampaknya terlihat pada meroketnya harga komoditas kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe.

Karakteristik industri pangan lokal yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri membuat sektor ini menjadi rapuh setiap kali terjadi fluktuasi nilai tukar mata uang asing.

Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor membuat industri tahu dan tempe sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan dinamika pasar global.

Pasokan dari luar negeri saat ini masih mendominasi kebutuhan pasar domestik dengan persentase mencapai sekitar 90 hingga 95 persen. Ketika posisi mata uang dolar AS menguat atau rupiah melemah, harga tebus kedelai otomatis menjadi jauh lebih mahal dalam satuan rupiah meskipun harga komoditas tersebut di pasar dunia sebenarnya cenderung stabil.

Kondisi ini langsung memicu pembengkakan biaya produksi di tingkat pengrajin lokal. Di sisi lain, para pelaku UMKM tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk di pasar karena konsumen tahu dan tempe mayoritas berasal dari lapisan masyarakat bawah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga sekecil apa pun.

"Pelemahan rupiah membuat biaya produksi naik lebih cepat dibanding kemampuan UMKM menyesuaikan harga jual. Inilah yang membuat banyak pengrajin merasa terimpit," ujar Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr Tanti Novianti.

Situasi dilematis ini memaksa para pengrajin mengambil pilihan-pilihan sulit demi bisa bertahan hidup. Mulai dari nekat menaikkan harga dengan risiko ditinggal pembeli, mempertahankan harga lama namun mengorbankan ukuran tempe menjadi lebih tipis, hingga terpaksa mengurangi volume produksi harian yang berujung pada pemangkasan pendapatan para pekerja tambak.

 

Ketimpangan Angka Produksi dan Solusi Jangka Pendek

Akar masalah dari kerentanan pangan ini bermuara pada minimnya angka produksi kedelai dalam negeri. Saat ini, kemampuan pasokan dari petani lokal masih jauh dari total kebutuhan nasional yang menyentuh angka 2,5 sampai 2,7 juta ton per tahun.

Selain terkendala masalah luas lahan, tingkat produktivitas hasil panen kedelai domestik secara rata-rata juga masih kalah jauh jika disandingkan dengan negara-negara produsen utama dunia.

Melihat situasi kritis yang dihadapi pelaku usaha kecil, pemerintah didorong untuk segera mengambil langkah intervensi taktis guna menyelamatkan kelangsungan usaha mikro di lapangan.

Untuk strategi jangka pendek, fokus utama harus diarahkan pada penguatan stabilitas harga di pasar, memperketat sistem pengawasan jalur distribusi agar tidak terjadi penimbunan, serta membuka keran pembiayaan modal yang murah bagi UMKM.

Optimalisasi penyaluran modal usaha melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai bisa menjadi bantalan sementara agar para perajin memiliki napas lebih panjang untuk menutup selisih biaya produksi yang membengkak akibat selisih kurs mata uang.

 

Insentif Petani Lokal dan Kemandirian Protein Nasional

Meskipun kondisinya sedang sulit, peluang untuk membenahi tata kelola kedelai nasional dinilai masih terbuka lebar mengingat Indonesia memiliki potensi lahan yang luas dan pasar domestik yang sangat besar.

Kunci utamanya terletak pada keberanian pemerintah untuk memberikan kepastian ekosistem kerja yang menguntungkan bagi para petani lokal agar mereka tertarik untuk kembali menanam kedelai.

"Petani perlu diberikan insentif ekonomi yang jelas. Tidak cukup hanya mendorong mereka menanam kedelai, tetapi juga harus ada kepastian harga, pasar, benih, teknologi, dan pendampingan," kata Tanti Novianti.

Untuk target jangka panjang, pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari riset varietas benih unggul, penguatan kelembagaan melalui koperasi pengrajin, hingga modernisasi alat produksi tahu dan tempe agar lebih efisien.

Pembongkaran jalur tata niaga ini penting dilakukan karena urusan ketahanan pangan nasional tidak boleh hanya bertumpu pada komoditas beras semata, melainkan juga harus melindungi ketersediaan sumber protein murah yang dikonsumsi oleh jutaan rakyat setiap harinya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.