sengkulun jajanan tradisional khas jawa dengan warna pink menarik dan cita rasa yang khas - News | Good News From Indonesia 2026

Sengkulun, Jajanan Tradisional Khas Jawa dengan Warna Pink Menarik dan Cita Rasa yang Khas

Sengkulun, Jajanan Tradisional Khas Jawa dengan Warna Pink Menarik dan Cita Rasa yang Khas
images info

Sengkulun, jajanan tradisional khas Jawa dengan warna pink yang menarik (Sumber: Affandy Murad/Wikimedia Commons)


Di tengah banyaknya jajanan modern, beberapa kuliner tradisional masih mampu bertahan dengan cita rasa khasnya.

Salah satunya adalah sengkulun, kue tradisional berbahan dasar tepung ketan yang memiliki tekstur lembut, kenyal, dan rasa manis gurih dari perpaduan gula serta santan.

Sengkulun dikenal di berbagai daerah Indonesia dengan nama yang berbeda-beda, seperti sengkolon di Jepara, Jando Beraes di Palembang, dan Sangkolun di Bangka. Perbedaan sebutan tersebut menunjukkan bagaimana jajanan ini berkembang mengikuti budaya masyarakat setempat.

Nah, mari mengenal lebih dekat Sengkulun, jajanan tradisional yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga menyimpan cerita budaya di balik proses pembuatannya.

Mengenal Sengkulun, Jajanan Tradisional Berbahan Ketan

Sengkulun merupakan salah satu jajanan tradisional yang dibuat dari bahan utama tepung ketan. Bentuknya sederhana, biasanya berupa potongan persegi dengan permukaan yang terlihat berbintil kasar.

Sekilas, kue ini memiliki kemiripan dengan kue keranjang karena sama-sama menggunakan bahan dasar ketan dan memiliki tekstur yang kenyal.

Ciri khas utama sengkulun terletak pada teksturnya yang lembut dan sedikit lengket ketika disantap. Penggunaan tepung ketan membuat kue ini memiliki rasa yang berbeda dibandingkan jajanan berbahan tepung biasa.

Dalam pembuatannya, gula merah sering digunakan sebagai pemanis alami yang memberikan rasa manis sekaligus warna cokelat khas.

Namun, seiring perkembangan zaman, muncul berbagai variasi sengkulun dengan warna yang lebih beragam, seperti merah muda, hijau, atau warna lainnya agar tampilannya semakin menarik.

Selain gula, penggunaan santan juga menjadi bagian penting dalam pembuatan sengkulun. Santan memberikan rasa gurih yang berpadu dengan manisnya gula sehingga menciptakan cita rasa sederhana tetapi tetap khas.

baca juga

Kisah Sengkulun dalam Tradisi Betawi

Bagi masyarakat Betawi, sengkulun memiliki cerita yang lebih dari sekadar makanan. Kue ini sering dikaitkan dengan berbagai perayaan dan menjadi salah satu sajian yang memiliki nilai budaya.

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat Betawi, sengkulun disebut telah dikenal sejak masa Kerajaan Sunda Pajajaran. Kue ini dipercaya memiliki hubungan dengan bentuk persembahan dan simbol kesetiaan kepada Raja Pakuan di Bogor.

Nama sengkulun juga sering dikaitkan dengan istilah “Sang Kulun” yang memiliki makna berkaitan dengan keraton. Meskipun kisah tersebut berkembang sebagai cerita rakyat, keberadaannya menunjukkan bagaimana makanan tradisional sering memiliki hubungan erat dengan sejarah dan kebudayaan masyarakat.

Selain cerita dari Betawi, ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa sengkulun mendapat pengaruh dari budaya Tionghoa, terutama dari tradisi pembuatan kue berbahan ketan seperti kue keranjang. 

Perpaduan berbagai pengaruh budaya tersebut kemudian menghasilkan variasi Sengkulun yang dikenal masyarakat hingga sekarang.

baca juga

Sengkulun dari Jawa dan Berbagai Daerah Indonesia

Selain dikenal dalam budaya Betawi, sengkulun juga berkembang di beberapa wilayah Jawa, seperti Jepara dan Demak. Di daerah tersebut, kue ini menjadi bagian dari jajanan tradisional yang masih ditemukan hingga saat ini.

Perbedaan penyebutan di setiap daerah menunjukkan bahwa kuliner Indonesia punya kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan budaya masing-masing.

Meskipun punya nama berbeda, ciri utama Sengkulun tetap sama, yaitu berbahan ketan dengan rasa manis gurih dan tekstur yang khas.

Perjalanan sengkulun dari satu daerah ke daerah lain menjadi bukti bahwa kuliner tidak hanya berpindah sebagai makanan, tetapi juga membawa cerita, kebiasaan, dan nilai budaya masyarakat yang membuatnya.

Proses Pembuatan Sengkulun yang Masih Tradisional

Sengkulun dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana seperti tepung ketan, gula, santan, dan bahan tambahan lainnya. Adonan tersebut kemudian dicampurkan hingga memiliki tekstur yang sesuai sebelum dikukus.

Proses pengukusan menjadi tahap penting karena menentukan kelembutan dan kekenyalan kue. Setelah matang, Sengkulun biasanya dipotong menjadi beberapa bagian dan disajikan bersama parutan kelapa.

Cara pembuatan yang masih mempertahankan metode tradisional menjadi salah satu daya tarik sengkulun. Dari proses tersebut, masyarakat tetap menjaga cita rasa yang diwariskan secara turun-temurun.

Menjaga Warisan Sengkulun di Tengah Perkembangan Zaman

Di tengah banyaknya makanan modern, keberadaan sengkulun perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Sebab, kuliner tradisional bukan hanya tentang rasa, tetapi juga menyimpan cerita panjang mengenai budaya suatu daerah.

Sengkulun menjadi contoh bahwa makanan sederhana dapat memiliki nilai yang besar. Dari bahan berupa tepung ketan, gula, dan santan, tercipta sebuah jajanan yang mampu bertahan melewati perubahan zaman.

Melestarikan sengkulun berarti menjaga lebih dari sekadar sebuah kue. Di dalamnya terdapat cerita tentang tradisi, keberagaman budaya, dan kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan pangan.

Jadi, ketika Kawan GNFI menemukan sengkulun di pasar tradisional atau tempat penjual jajanan khas daerah, jangan ragu untuk mencicipinya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.