zufar alfaruqi kisah santri yang menemukan jalan berkarya lewat menulis - News | Good News From Indonesia 2026

Zufar Alfaruqi, Kisah Santri yang Menemukan Jalan Berkarya lewat Menulis

Zufar Alfaruqi, Kisah Santri yang Menemukan Jalan Berkarya lewat Menulis
images info

@Juparrrrr_


Kawan GNFI, ketika mendengar kata santri, sebagian orang mungkin langsung membayangkan kehidupan yang lekat dengan kitab kuning, mengaji, dan rutinitas di pesantren. Padahal, di balik lorong-lorong asrama yang sederhana, banyak mimpi besar yang tumbuh dan menemukan jalannya. Salah satunya adalah melalui dunia literasi.

Hal itu tercermin dari perjalanan Zufar Alfaruqi, seorang penulis muda yang memulai langkahnya dari lingkungan pesantren hingga berhasil menerbitkan karya yang kini dipasarkan di jaringan toko buku Gramedia di berbagai kota di Indonesia.

Perjalanan tersebut bukan tentang keberuntungan semata, melainkan buah dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Semuanya bermula dari kebiasaan membaca dan menulis saat menjadi santri. Di sela-sela aktivitas dan belajar, Zufar aktif mengikuti kegiatan seni, dari bergabung dengan komunitas Triscap Production, hingga mengisi rubrik Jumat serta majalah pondok.

baca juga

Dari ruang sederhana itulah ia belajar menyusun gagasan, mengolah bahasa, sekaligus memahami bahwa tulisan dapat menjadi cara untuk menyampaikan manfaat kepada lebih banyak orang.

Baginya, pesantren tidak pernah menjadi batas untuk berkarya. Sebaliknya, lingkungan pesantren justru membentuk karakter yang disiplin, tekun, dan berani menyampaikan gagasan melalui tulisan.

Kebiasaan tersebut kemudian membawanya menerbitkan buku pertama berjudul Gelebah Pos Ronda, disusul Melangkah Semampunya. Kedua buku itu menjadi bagian dari proses belajarnya sebagai penulis yang terus bertumbuh, sekaligus menjadi bukti bahwa karya besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Perjalanan itu mencapai babak baru ketika ia menulis buku ketiga, Seni Memengaruhi Orang Lain: Sebuah Kiat Berkomunikasi dan Membersamai Manusia. Menariknya, buku tersebut bukanlah proyek yang sejak awal direncanakan.

Ide-idenya tumbuh dari pengalaman berorganisasi, berdialog dengan banyak orang, hingga refleksi mengenai pentingnya membangun komunikasi yang sehat dan penuh empati.

Tanpa ekspektasi berlebihan, buku tersebut justru mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kini, Seni Memengaruhi Orang Lain dipasarkan melalui jaringan toko buku Gramedia di berbagai daerah di Indonesia dan telah terjual dalam ribuan eksemplar.

Sebuah pencapaian yang mungkin tidak pernah terbayangkan ketika ia pertama kali menulis untuk majalah pondok.

Bagi Zufar, keberhasilan sebuah buku bukan hanya diukur dari jumlah eksemplar yang terjual, melainkan dari sejauh mana tulisan itu mampu memberikan manfaat bagi pembacanya. Ia percaya bahwa tulisan memiliki umur yang lebih panjang daripada penulisnya sendiri.

Prinsip itulah yang membuatnya terus menulis di tengah berbagai aktivitas lain. Saat ini, ia tengah melanjutkan Studi Magister (S2) di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah. Di sisi lain, ia juga mengembangkan usaha di sektor pariwisata. Meski demikian, dunia literasi tetap menjadi ruang yang selalu ia rawat karena menulis adalah cara baginya meninggalkan jejak kebaikan.

Perjalanan Zufar menjadi pengingat bahwa pesantren bukan hanya tempat menempa pemahaman keagamaan, tetapi juga ruang untuk membangun daya pikir, kreativitas, dan keberanian berkarya.

Nilai-nilai seperti kedisiplinan, keikhlasan, dan ketekunan yang tumbuh di lingkungan pesantren justru menjadi bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan di luar tembok asrama.

baca juga

Kawan GNFI, kisah ini menunjukkan bahwa latar belakang seseorang tidak pernah menentukan sejauh apa ia bisa melangkah. Dari lorong-lorong asrama yang sederhana, seorang santri dapat melahirkan gagasan, menulis buku, dan menghadirkan manfaat yang menjangkau pembaca di berbagai penjuru Indonesia.

Pada akhirnya, perjalanan dari lorong asrama menuju rak Gramedia bukan hanya tentang keberhasilan menerbitkan buku. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa semangat membaca, menulis, dan terus belajar dapat membuka jalan bagi siapa saja untuk berkarya.

Sebab, karya yang lahir dari ketulusan dan konsistensi akan selalu menemukan pembacanya, sekaligus menjadi jejak kebaikan yang terus hidup melampaui waktu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.