Liburan sekolah sering kali menjadi masa yang membingungkan bagi orang tua. Di satu sisi, anak membutuhkan waktu untuk beristirahat dari rutinitas belajar. Di sisi lain, waktu luang yang terlalu banyak justru membuat layar gawai menjadi "tempat bermain" paling mudah dijangkau.
Tak heran jika banyak orang tua memilih membatasi penggunaan gadget. Sayangnya, larangan saja sering kali tidak cukup. Anak memang berhenti bermain ponsel, tetapi mereka juga tidak menemukan aktivitas lain yang sama menyenangkan.
Bagi Dyah Bodrohini, pendiri Hompimpa Solo, persoalannya bukan semata-mata pada gadget. Yang lebih penting adalah menghadirkan ruang bermain yang mampu membuat anak kembali menikmati dunia nyata.
Pendekatan inilah yang membuat Hompimpa Solo menarik. Komunitas ini tidak mengajak anak menjauhi teknologi secara ekstrem, tetapi menawarkan pengalaman bermain, membaca, berkarya, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
RadarSolo menuliskan bahwa Hompimpa Solo lahir dari Taman Baca Teras Kita pada 2017. Dari sekadar menyediakan buku untuk anak-anak, komunitas ini berkembang menjadi gerakan sosial yang menggabungkan literasi, permainan tradisional, kegiatan kreatif, hingga pendampingan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Anak Tidak Kekurangan Hiburan, tetapi Kekurangan Pengalaman
Selama ini pembahasan mengenai kecanduan gadget sering berpusat pada durasi penggunaan layar. Padahal, ada persoalan lain yang jarang dibahas.
Banyak anak sebenarnya tidak kekurangan hiburan. Mereka justru kekurangan pengalaman yang melibatkan tubuh, imajinasi, dan interaksi dengan orang lain.
Melalui Hompimpa Solo, Dyah menghadirkan pengalaman tersebut dalam bentuk yang sederhana. Anak-anak diajak membaca cerita, membuat kerajinan, berkebun, bermain egrang, bakiak, dakon, hingga membuat wayang dari rumput.
Setelah membaca buku tentang laut, misalnya, mereka tidak berhenti pada cerita. Mereka melanjutkannya dengan membuat karya bertema biota laut dari barang bekas. Pendekatan seperti ini membuat proses belajar terasa sebagai petualangan, bukan kewajiban.
Permainan Tradisional Mengajarkan Hal yang Tidak Dimiliki Layar
Permainan digital memang mampu melatih kecepatan berpikir. Namun permainan tradisional menawarkan sesuatu yang berbeda. Ada kerja sama. Ada negosiasi. Ada tawa ketika kalah. Ada keberanian mencoba lagi setelah gagal.
Kompas pernah menyoroti kiprah Kampoeng Hompimpa yang mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak. Permainan seperti egrang, bakiak, dakon, lompat tali, dan gasing dinilai mendorong anak lebih aktif bergerak sekaligus memperkuat interaksi sosial dengan teman sebaya.
Nilai-nilai inilah yang juga menjadi ruh berbagai kegiatan Hompimpa Solo. Anak tidak hanya bermain. Mereka belajar menunggu giliran, menyusun strategi, bekerja sama, sekaligus menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sportif.
Liburan yang Tidak Bergantung pada Tempat Wisata
Ketika berbicara tentang liburan anak, bayangan banyak orang adalah bepergian ke tempat wisata.
Padahal, tidak semua keluarga memiliki kesempatan atau anggaran untuk melakukannya. Dyah menawarkan gagasan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Halaman rumah. Lapangan kampung. Taman kota. Ruang publik. Semuanya dapat berubah menjadi ruang bermain apabila diisi aktivitas yang tepat.
Karena itu Hompimpa Solo rutin mengadakan Play Day, yaitu kegiatan bermain bersama menggunakan permainan tradisional yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya agar semakin banyak anak dapat ikut merasakan pengalaman tersebut. Dengan cara ini, liburan menjadi lebih bermakna tanpa harus identik dengan biaya besar.
Orang Tua Ikut Bermain, Bukan Sekadar Mengawasi
Hal lain yang membedakan Hompimpa Solo adalah keterlibatan keluarga. Menurut Dyah, tantangan terbesar saat ini bukan hanya dominasi gawai, tetapi juga minimnya pendampingan. Masih banyak anak menggunakan ponsel tanpa teman berdiskusi atau bermain.
Karena itu, Hompimpa Solo juga menghadirkan diskusi ringan dan kelas parenting agar orang tua tidak hanya menjadi pengawas, tetapi ikut menjadi teman belajar dan bermain anak.
Pendekatan ini membuat solusi terhadap penggunaan gadget tidak dibebankan sepenuhnya kepada anak. Lingkungan keluarga juga ikut berubah.
Masa Kecil Perlu Ruang untuk Kotor dan Berkeringat
Salah satu pernyataan Dyah yang menarik adalah bahwa mereka tidak anti teknologi. Namun, menurutnya, masa kecil adalah waktu terbaik untuk bereksplorasi.
Anak perlu menyentuh tanah, berlari, berkeringat, dan berinteraksi dengan teman-temannya, bukan hanya menatap layar sepanjang hari. Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi sebenarnya bukan musuh.
Masalah muncul ketika layar menggantikan hampir seluruh pengalaman masa kecil. Permainan tradisional tidak hadir untuk menghapus teknologi. Ia hadir untuk mengembalikan keseimbangan.
Solusi Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Apa yang dilakukan Dyah Bodrohini melalui Hompimpa Solo menunjukkan bahwa mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget tidak selalu membutuhkan aturan yang semakin ketat. Kadang, yang dibutuhkan justru menciptakan aktivitas yang lebih menarik daripada layar itu sendiri.
Membaca bersama. Bermain bakiak. Belajar membuat kerajinan. Menanam tanaman. Atau sekadar tertawa bersama teman-teman di lapangan.
Semua itu mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari pengalaman sederhana itulah anak belajar bekerja sama, mengenal budaya, membangun rasa ingin tahu, dan menikmati masa kecil sebagaimana mestinya.
Liburan sekolah pada akhirnya bukan hanya tentang mengurangi waktu bermain gadget. Liburan adalah kesempatan mengembalikan pengalaman yang perlahan mulai hilang dari kehidupan anak: bermain, bergerak, berimajinasi, dan bertumbuh bersama orang-orang di sekitarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

