Kawan, pernah menggalang dana untuk kegiatan sosial dan bingung mengelola laporannya? Atau pernah donasi tapi tidak pernah tahu uangnya dipakai untuk apa? Situasi ini bukan karena ada niat buruk, tetapi karena proses pencatatan yang masih manual dan tersebar di mana-mana. Di sinilah sistem informasi mengambil peran penting.
Pada Mei 2026, Komunitas Muslim Pakuwon City Masjid Al Madani di Surabaya melakukan sesuatu yang belum banyak dilakukan masjid lain. Mereka membangun dashboard digital untuk Idul Adha. Setiap sapi kurban diberi nametag, disembelih, dipotong, dan didistribusikan.
Semua tercatat dalam satu sistem. Sahibul kurban bisa membuka dashboard kapan saja untuk melihat bahwa sapinya sudah diproses, dagingnya sudah dikemas dalam sekian bungkus, dan ke mana saja bungkusan itu disalurkan. Hasilnya terlihat langsung: proses penyembelihan selesai jam sebelas siang. Masjid Istiqlal Jakarta bahkan sudah menghubungi mereka untuk mereplikasi sistem yang sama.
Bukan Sekadar Catatan Digital
Kasus Masjid Al Madani bukan sekadar cerita tentang masjid yang rapi mengelola daging kurban. Ini adalah contoh bagaimana sistem informasi bisa menyelesaikan masalah klasik dalam kegiatan sosial: transparansi. Selama ini, catatan donasi sering tercatat di buku, tersimpan di pesan WhatsApp, atau hanya diingat oleh satu orang. Kalau orang itu lupa atau catatannya hilang, laporan pun ikut hilang.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Penelitian Mubarok dan Idris (2023) di AUTOMATA UII mengidentifikasi bahwa platform donasi online seperti Kitabisa.com sudah menerapkan indikator transparansi, tetapi masih banyak kegiatan sosial lain yang belum menggunakan sistem serupa. Indikator tersebut mencakup laporan dana masuk, rincian penyaluran, hingga dokumentasi kegiatan. Semakin lengkap sistem yang dimiliki, semakin tinggi kepercayaan publik. Sekarang tinggal bagaimana kegiatan sosial di tingkat komunitas bisa mengadopsi pola yang sama.
Dari Excel ke Dashboard, Cerita Masjid Al Madani
Apa yang dilakukan Masjid Al Madani adalah contoh penerapan sistem informasi manajemen donasi berbasis web. Abdullah dan timnya (2024) dalam jurnal IJAI Universitas Sebelas Maret mengembangkan sistem serupa bernama E-Donate untuk Yayasan Bina Insan Murni (BINSANI). Sebelum sistem itu ada, yayasan tersebut mengelola donasi secara manual menggunakan Microsoft Excel.
Tidak efisien dan donatur tidak bisa memantau. Setelah sistem berbasis web dibangun, pengelola bisa mencatat donasi secara otomatis dan donatur bisa mengakses laporan kapan saja. Sistem ini mendapat skor kepuasan 72,75 dari administrator dan 70,93 dari donatur. Angka ini masuk dalam kategori baik.
Pola yang diterapkan Masjid Al Madani dan Yayasan BINSANI ini sebenarnya bisa dipakai di berbagai kegiatan sosial lainnya. Bayangkan: kegiatan sosial apa pun mulai dari penggalangan dana bencana, program beasiswa, pembangunan fasilitas umum, hingga pemberdayaan masyarakat semuanya bisa memanfaatkan sistem serupa. Semua membutuhkan transparansi agar kepercayaan publik tidak luntur.
Transparansi Butuh Sistem, Bukan Sekadar Niat
Ramadani (2026) dalam penelitiannya di Jurnal RIGGS menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan dalam administrasi publik mampu mendorong tata kelola yang lebih transparan dan responsif. Prinsip yang sama berlaku untuk kegiatan sosial.
Ketika data donasi dikelola secara digital dan terstruktur, risiko kesalahan pencatatan berkurang dan laporan keuangan bisa dihasilkan secara otomatis. Donatur tidak perlu lagi bertanya, mereka cukup membuka sistem dan melihat sendiri.
Teknologi saat ini sudah sangat mudah diakses. Banyak platform gratis yang bisa dipakai komunitas untuk mencatat donasi. Mulai dari Google Sheets yang sederhana sampai sistem berbasis web yang lebih lengkap. Kuncinya bukan pada kecanggihan teknologinya, tetapi pada kemauan untuk mencatat secara terbuka dan konsisten.
Selama ini transparansi sering dianggap sebagai urusan niat. Kalau pengelolanya jujur, hasilnya pasti transparan. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak cukup. Tanpa sistem yang mencatat setiap transaksi, niat baik pun bisa hilang di tengah jalan. Kawan, di era digital ini, sistem informasi untuk kegiatan sosial bukan lagi barang mewah.
Kebutuhan ini sudah mendasar. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa transparansi adalah sistem yang sengaja dibangun, dipelihara, dan dibiasakan. Karena pada akhirnya, orang tidak akan ragu memberi selama mereka bisa melihat ke mana perginya setiap rupiah yang mereka berikan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

