Ratusan orang dari puluhan negara turun di ajang Japan Design Idea and Invention Expo, 3-4 Juli 2026, di Osaka, Jepang. Peserta datang dengan riset dari berbagai bidang, mulai dari robotika, bioteknologi, hingga rekayasa material canggih. Tim dari Medan, yang mengolah kulit pisang, kulit jeruk, dan kulit buah naga turut turun membawa medali. Emas pula.
Sebagai informasi, Japan Design Idea and Invention Expo (JDIE) adalah ajang pameran dan kompetisi inovasi internasional yang mempertemukan penemu, peneliti, mahasiswa, startup, hingga perusahaan untuk memamerkan hasil desain, ide kreatif, dan invensi mereka. Acara ini diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) dan telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Memang apa inovasi yang dibawa oleh tim Medan? Tujuh siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan, yakni Fauzul Huda, Rafa Ruzain Ahmad, Tiara Qalbi Aswani, Azka Azzahra Putri Dalimunthe, Sandria Shelba Yafizham, Ariq Zaidan Dhaufa, dan Zahra Putri mengubah limbah kulit buah dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bata dan genteng. Karya itu mengalahkan tim dari Thailand, China, Arab Saudi, Myanmar, Filipina, bahkan Inggris, dan membawa pulang medali emas kategori applied science.
Bermula dari Kantong Plastik Keliling Kelas
Ide memanfaatkan limbah kulit buah diilhami oleh pemandangan sehari-hari di sekolah. Setiap siswa mendapat jatah MBG, program makan bergizi gratis besutan Presiden Prabowo Subianto yang kini sudah berjalan hampir setahun.
"Inspirasi kami sebenarnya datang ketika melihat program MBG di sekolah. Banyak teman-teman saya itu membuang sampah atau kulit buah sampai menumpuk," kata Fauzul, dikutip dari Kompas, Kamis (9/7/2026).
Fauzul dan kawan-kawan lalu berkeliling dari kelas ke kelas membawa kantong plastik besar, mengumpulkan kulit pisang, jeruk, sampai buah naga jadi satu. Mereka akan mengolah limbah-limbah itu. Sebab menurutnya, kulit buah punya serat yang, jika diolah dengan benar, bisa membentuk struktur yang kuat.
"Kulit buahnya campur-campur. Karena kulitnya kan mengandung serat. Jadi serat-serat itu bisa dibentuk dan jadi bahan yang kuat," ujar Fauzul.
Proses Belasan Hari, Berkali-kali Gagal
Nah, proses untuk mengolah kulit buah menjadi batu bata jelas jauh dari instan. Kulit buah dikeringkan tiga hari, digiling dengan blender sampai jadi bubuk, lalu dicampur tanah liat sebelum dibakar. Total pengerjaan satu batch memakan waktu hingga 14 hari.
Komposisi yang pas juga tidak ditemukan sekali coba. Percobaan pertama gagal total.
"Ada beberapa kali gagal. Itu gagal karena mungkin komposisinya salah. Jadi awalnya kami itu buat dua banding satu, dua untuk kulit buahnya dan satu untuk tanah liatnya. Kami coba tapi ternyata gagal karena pas proses pembakaran pokoknya enggak bisa terbentuk. Jadi kami ubah lah, dua tanah liat, satu kulit buah. Lalu pas itu kami berhasil, jadilah hasilnya," jelas Fauzul, sebagaimana dikutip dari Kumparan.
Selama dua bulan mereka bereksperimen di luar jam pelajaran, di bawah bimbingan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Uji coba manual pun dilakukan sebelum berangkat ke Jepang. Hasil dari kerja keras itu, bata dan genteng buatan mereka diklaim mampu menahan beban hingga 80 kilogram.
Menang, Tapi Tak Menyangka
Dengan lima batu bata di koper, mereka terbang ke Osaka tanpa ekspektasi tinggi. Melihat inovasi peserta lain dari berbagai negara, rasa minder sempat muncul.
"Kalau menurut saya, kami tuh biasa-biasa saja. Menurut saya, yang sebelah saya lihat kami tuh lebih bagus. Tapi pada saat pengumuman, kami mendapatkan gold medali. Kami pun enggak expect, senang banget lah," kata Fauzul.
Guru pembimbing KIR, Doni Anggara, menyebut persiapan matang selama dua bulan jadi kunci. Selain praktik mencetak bata, para siswa juga dilatih khusus presentasi berbahasa Inggris karena kompetisi berskala internasional.
"Kalau total ada ratusan tim dari seluruh dunia yang ikut. Kita dapat achievement-nya gold medal di bidang applied science," ungkap Doni.
Bukan Emas Pertama dari Ekstrakurikuler Ini
Prestasi ini bukan kebetulan satu kali. Kepala MAN 1 Medan, Reza Faisal, menyebut ekstrakurikuler KIR sudah beberapa kali menyabet gelar internasional, termasuk dari Korea Selatan, Kuala Lumpur, dan Bali. Sebelumnya, tim KIR MAN 1 Medan juga pernah menang lewat inovasi serum dari buah naga.
"Jadi kita sudah memiliki banyak prestasi internasional dari ekstrakurikuler KIR," ungkap Reza kepada Kompas.
Karya bata dan genteng dari limbah MBG ini pun sudah didaftarkan hak kekayaan intelektual (HAKI). Ke depan, sekolah berencana melakukan uji material lebih profesional untuk memastikan daya tahan produk.
"Bahan-bahannya kemudian kemarin ini informasi juga, jadi produk ini juga sudah didaftarkan di-HAKI," kata Reza.
Masalah Limbah MBG yang Lebih Besar dari Satu Sekolah
Di balik euforia medali emas, ada persoalan nyata yang coba dijawab para siswa ini, yakni limbah dari program makan bergizi gratis yang menumpuk hampir di setiap sekolah penerima. Doni Anggara mengakui sekolah punya keterbatasan mengelola sampah organik dari program yang sudah berjalan setahun ini, dan bukan tidak mungkin dapur-dapur penyedia MBG lain menghadapi masalah serupa.
"Sudah setahun MBG berjalan, di balik itu sekolah punya keterbatasan dalam mengolah limbahnya. Konon lagi dapur-dapur yang lain punya keterbatasan juga. Jadi ini bisa dijadikan salah satu inovasi terbaik," ujar Doni.
Karena itu, baik Doni maupun Reza berharap ada dukungan pemerintah agar inovasi ini bisa naik kelas, dari eksperimen manual anak sekolah menjadi fasilitas pengolahan limbah yang lebih terstandar.
"Kalau misalnya didukung pemerintah, bisa dibuat pabrik yang menjadi salah satu tempat pengolahan limbah bagus gitu," kata Doni kepada kumparan.
Reza menambahkan, sekolah terbuka bagi pegiat lingkungan yang ingin membantu menguji daya tahan bata dan genteng tersebut secara lebih ilmiah, mengingat uji yang selama ini dilakukan masih sebatas cara sederhana.
"Kami pun bersedia untuk itu kepada pegiat-pegiat yang lain, terbuka untuk itu. Kita uji daya tahannya, karena sampai sekarang ngujinya itu kami pun belum tahu ke mana itu. Tadi anak-anak cuma injak-injak saja," pungkas Reza kepada kumparan.
Bagi Reza, nilai paling penting dari pencapaian ini bukan sekadar trofi, melainkan cara siswa belajar mengamati masalah di sekitar mereka dan mengubahnya jadi solusi.
"Pada prinsipnya tidak ada sekolah yang didesain lebih unggul. Yang penting adalah program yang kita lakukan. Baik itu yang akademik ataupun yang non-akademik atau ekstrakurikuler," tutup Reza.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


