Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) akan menggelar Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 di Surakarta pada 17–18 Oktober 2026. Agenda ini resmi diperkenalkan melalui Kick Off di Jakarta pada Sabtu (11/07/2026). Pertemuan tersebut mengusung tema :Humas sebagai Daya Bangsa, Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Bangsa".
Konvensi bertujuan merespons disinformasi masif akibat pesatnya teknologi informasi global. Fokus utama di Solo adalah memposisikan humas sebagai penjaga reputasi institusi di tengah perubahan. Penyelenggara menilai integritas informasi menjadi isu krusial saat ini.
Ketua Umum Perhumas, Boy Kelana Soebroto, menyebut risiko reputasi dapat runtuh dalam hitungan menit akibat AI. Menurutnya, fenomena informasi tanpa batas memicu penyebaran hoaks yang mengancam kepercayaan masyarakat. Maka, peran humas kini melampaui fungsi penyampai pesan, tetapi juga penjaga kepercayaan perusahaan atau instansi. Sebab, tanpa kepercayaan, komunikasi dinilai akan kehilangan maknanya.
"Dan di tengah semua itu, kepercayaan menjadi sesuatu yang semakin mahal nilainya. Namun sesungguhnya tantangan terbesar kita bukan sekedar perkembangan teknologi, tetapi juga tantangan terbesar kita adalah krisis kepercayaan," ujar Boy.
Konvensi Perhumas di Solo, Apa Maknanya?
Ditetapkannya Surakarta sebagai lokasi Konvensi Humas Indonesia 2026 tentu bukan tanpa alasan. Ada tujuan dan makna yang terkandung di dalamnya.
Bagi Solo, Konvensi Humas 2026 juga jadi sejarah baru. Ketua BPC Perhumas Surakarta, Andre Rahmanto, menjelaskan jika perhelatan ini menjadi momentum perdana bagi Solo sebagai tuan rumah konvensi humas nasional tersebut.
Penunjukan didasari posisi strategis Solo yang kerap menjadi sorotan media nasional dengan karakter tenang namun dinamis. Kota ini merepresentasikan identitas bangsa melalui nilai historis kuat sebagai tempat lahirnya pers dan sumbu politik Indonesia. Kekayaan budaya lokal dipandang sebagai daya tarik utama bagi ribuan delegasi yang hadir nanti.
Andre menjelaskan pemilihan Solo bertujuan mengajak praktisi humas kembali pada identitas asli di tengah pesatnya kecerdasan artifisial. Tradisi lokal Jawa dipandang sebagai fondasi penting untuk menjawab tantangan disrupsi digital yang kompleks. Nilai kemanusiaan menjadi fokus guna meninjau kembali esensi komunikasi pada era teknologi saat ini.
"Kalau kenapa Solo, saya kira ada banyak hal yang menjadi alasan, barangkali terlalu banyak karena saya kira Solo itu salah satu kota di luar Jakarta yang paling sering disebut oleh media," ungkap Andre.
"Nah bagaimana kultur ini bisa kita gali untuk di era teknologi yang seperti sekarang, tantangan yang begitu banyak, tradisi awal kita sebagai bangsa Indonesia itu bagaimana kemanusiaan," tambahnya.


