modal kandungan karbon tinggi limbah penyulingan jahe sukses jadi jagoan energi baru - News | Good News From Indonesia 2026

Modal Kandungan Karbon Tinggi, Limbah Penyulingan Jahe Sukses Jadi Jagoan Energi Baru

Modal Kandungan Karbon Tinggi, Limbah Penyulingan Jahe Sukses Jadi Jagoan Energi Baru
images info

Foto oleh Dean David di Unsplash


Lonjakan aktivitas produksi minyak atsiri dan industri herbal di tanah air belakangan ini ternyata menyisakan persoalan tersendiri di area hilir.

Proses hidrodistilasi atau penyulingan bahan alam seperti akar wangi, sereh, kayu manis, hingga rimpang jahe selalu menghasilkan residu berupa limbah padat biomassa dalam volume yang sangat besar.

Selama ini, tumpukan ampas basah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga sering kali menumpuk di area pabrik dan berpotensi mencemari ekosistem lingkungan sekitar.

Melihat problem lingkungan tersebut, tim peneliti dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN mencoba mencari jalan keluar lewat pendekatan ekonomi sirkular.

Mereka melakukan serangkaian eksperimen laboratorium untuk mendaur ulang ampas jahe menjadi bahan bakar padat alternatif berbentuk biobriket.

Peluang pemanfaatan sisa rimpang jahe ini terbuka lebar karena material alaminya masih menyimpan komponen lignoselulosa yang sangat pekat.

Kandungan senyawa lignin di dalam ampas jahe tercatat menyentuh angka 45,98 persen, sehingga sangat ideal untuk dikonversi menjadi arang aktif melalui proses pembakaran tanpa oksigen atau pirolisis.

“Banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket, tapi poin utamanya adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40%,” ujar Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Prof. Anny Sulaswatty.

 

Formula Lem Perekat yang Punya Peran Besar

Proses pembuatan bahan bakar hijau ini dimulai dengan mengeringkan seluruh ampas jahe sisa penyulingan di bawah terik matahari, kemudian dimasukkan ke dalam mesin karbonisasi untuk diubah menjadi arang halus (biochar).

Setelah menjadi bubuk hitam berpori, tim peneliti melakukan eksperimen dengan mencampurkan berbagai jenis zat perekat alami guna mencari formula briket yang paling kokoh dan tahan lama saat didistribusikan ke konsumen.

Variasi jenis lem perekat ini memegang peran vital karena berpengaruh langsung pada karakteristik fisik, mekanik, hingga daya tahan panas dari briket saat dibakar di dalam kompor. Tim melakukan analisis laboratorium untuk mengukur kadar air, densitas kepadatan, kuat tekan briket saat ditumpuk, laju kecepatan pembakaran, hingga total nilai kalori yang dihasilkan.

“Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat. Memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah,” sambung Anny Sulaswatty.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi antara struktur arang jahe yang berpori dengan zat perekat yang pas mampu menghasilkan pasokan api yang konstan, tidak cepat habis, serta mengeluarkan kadar abu yang sangat minim.

 

Hilirisasi Teknologi Hijau untuk Sektor UMKM Daerah

Keberhasilan meracik briket dari bahan sisa industri jamu ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai pajangan prestasi ilmiah di meja peneliti.

Cetak biru teknologi pembakaran biomassa ini dirancang sedemikian rupa agar mudah ditiru dan diaplikasikan langsung oleh masyarakat luas, khususnya di sentra-sentra penyulingan minyak atsiri rakyat serta pelaku UMKM herbal di berbagai daerah.

Lewat transfer teknologi yang praktis, para pengusaha kecil di desa kini bisa memiliki unit pengolahan limbah mandiri.

Pola ini membuat operasional pabrik menjadi nihil limbah (zero waste), karena seluruh sisa produksi bisa langsung dikemas ulang menjadi produk baru yang bernilai ekonomi tinggi untuk dijual ke pasar.

Pendekatan sains yang praktis dan terintegrasi ini diharapkan mampu mengubah paradigma berpikir masyarakat dalam menyikapi barang sisa produksi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.