Kawan GNFI, ada pertanyaan menarik yang jarang dipikirkan orang, mengapa kota-kota kecil di Bangka Belitung bisa melahirkan kuliner yang begitu khas dan dikenal luas hingga ke berbagai penjuru Indonesia? Jawabannya ternyata bukan sekadar soal bumbu atau resep, melainkan tentang sejarah panjang pertemuan berbagai budaya yang terjadi di tanah timah ini selama berabad-abad.
Martabak Bangka: Inovasi dari Tanah Penghasil Timah
Kawan, tahukah bahwa martabak manis yang kini ada di mana-mana, dari gerobak pinggir jalan hingga toko kue premium di Jakarta dan Surabaya, sesungguhnya berkaitan erat dengan warisan kuliner Bangka Belitung? Martabak yang dikenal secara nasional dengan berbagai nama, seperti terang bulan, kue bulan, atau martabak manis, memiliki versi Bangka yang sangat khas dengan keunikannya sendiri.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Sains Terapan Pariwisata (J-STP) secara khusus mengkaji inovasi kuliner khas Bangka Belitung melalui studi terhadap kulit martabak manis dari tepung kacang merah.
Studi ini menemukan bahwa martabak di Bangka sendiri sudah memiliki posisi tersendiri sebagai ikon kuliner wisata, dengan keunikan yang membedakannya dari varian-varian yang berkembang di daerah lain. Penelitian ini bahkan mengeksplorasi inovasi pengembangan kulit martabak menggunakan tepung kacang merah lokal sebagai upaya memperkuat identitas dan nilai gizi produk kuliner khas Bangka.
Sejarah martabak Bangka tidak terlepas dari komunitas Tionghoa yang telah mengakar kuat di kepulauan ini sejak masa penambangan timah. Kue-kue berkulit tipis yang dipanggang dan diisi berbagai bahan adalah tradisi kuliner yang dibawa komunitas Hakka dari Tiongkok, kemudian beradaptasi dengan bahan-bahan lokal yang tersedia di Bangka, menghasilkan versi yang khas dan berbeda dari aslinya.
Mi Koba: Sup Mi yang Lahir dari Jiwa Pemeluk Laut
Berbeda dari martabak yang lebih dikenal secara nasional, Mi Koba adalah kuliner Bangka yang masih relatif tersembunyi dari radar kuliner nasional namun sangat dicintai oleh masyarakat lokal. Mi ini dinamai dari Koba, sebuah kecamatan di Bangka Tengah yang menjadi tempat asalnya.
Yang membuat Mi Koba unik adalah kuahnya yang kental dan gurih, berbahan dasar ikan tenggiri segar yang dimasak dengan rempah-rempah khas Bangka. Tekstur mi-nya tebal dan kenyal, dengan topping berupa irisan timun, taoge, dan perasan jeruk kunci, citrus lokal khas Bangka yang memberikan kesegaran yang sangat khas. Berbeda dari bakso atau soto yang lebih dikenal secara nasional, Mi Koba menawarkan profil rasa yang benar-benar tidak ada duanya.
Penelitian yang dikutip dalam Prosiding PKM-CSR tentang pengenalan kuliner tradisional sebagai daya tarik wisata Belitung menegaskan bahwa kuliner-kuliner seperti ini memiliki potensi besar sebagai magnet wisata gastronomi yang belum cukup dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku pariwisata Bangka Belitung.
Mie Belitung: Ketika Warisan Tionghoa Bertemu Rempah Nusantara
Sementara Bangka punya Mi Koba, Pulau Belitung memiliki kuliner mi legendarisnya sendiri yang kini sudah mulai dikenal secara nasional, bahkan muncul di berbagai platform kuliner dan program wisata. Mie Belitung adalah hidangan mi kuning yang disajikan dengan kuah kari berbahan dasar udang atau kepiting, dilengkapi taburan taoge, mentimun, emping, dan perasan jeruk nipis.
Yang menarik dari Mie Belitung adalah betapa kuatnya ia merepresentasikan identitas multikultur Belitung dalam satu mangkuk. Mi kuningnya adalah warisan kuliner Tionghoa, kuah karinya menggunakan rempah-rempah yang kuat seperti kunyit dan serai yang mencerminkan tradisi Melayu Nusantara, sementara penggunaan seafood segar mencerminkan kekayaan laut Belitung yang melimpah. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari ratusan tahun percampuran budaya yang kemudian mengkristal dalam sebuah hidangan.
Kuliner sebagai Cermin Identitas yang Paling Jujur
Kawan GNFI, penelitian dalam Jurnal CENDEKIA (2025-2026) yang mengkaji peran kuliner tradisional dalam pembentukan identitas budaya menegaskan bahwa makanan khas daerah berperan sebagai identitas budaya dan sosial yang memperkuat kebersamaan masyarakat, serta berfungsi sebagai sarana pelestarian kearifan lokal dan solidaritas sosial. Kuliner bukan hanya tentang rasa, melainkan juga medium strategis dalam mengomunikasikan dan memperkuat nilai-nilai budaya lokal di tengah arus globalisasi.
Dalam konteks Bangka Belitung, hal ini terasa sangat nyata. Martabak Bangka, Mi Koba, dan Mie Belitung bukan hanya enak dimakan, melainkan juga bercerita tentang siapa orang Bangka Belitung: masyarakat yang lahir dari pertemuan berbagai budaya, yang hidup berdampingan dengan laut, hutan, dan bekas galian timah, dan yang mengolah semua itu menjadi identitas kuliner yang tidak bisa ditemukan di tempat lain manapun di Indonesia.
Panduan Kuliner Wajib di Bangka Belitung
Kawan yang berencana mengunjungi Bangka Belitung, jangan lewatkan untuk mencicipi langsung ketiga kuliner ini. Martabak Bangka paling autentik bisa ditemukan di berbagai warung tradisional di Pangkalpinang yang sudah berdiri puluhan tahun. Mi Koba paling legendaris tersaji di kawasan Koba, Bangka Tengah, yang memang menjadi kampung halamannya. Sementara Mie Belitung terbaik menurut banyak penikmat kuliner bisa ditemukan di warung-warung di sekitar Tanjung Pandan yang sudah meracik resepnya turun-temurun.
Jangan lupa juga menutup perjalanan kuliner dengan secangkir kopi Bangka yang diseduh dengan cara tradisional, ditemani otak-otak bakar yang masih mengepul di pinggir pantai saat sore hari. Itulah Bangka Belitung yang sesungguhnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


