Batik seperti yang kita ketahui merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang paling banyak dikenal. Batik sendiri memiliki berbagai macam motif atau corak yang berasal dari berbagai daerah. Salah satu motif batik yang paling dikenal oleh masyarakat adalah batik parang.
Batik parang merupakan motif atau corak kain batik yang berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta yang dikenal karena kesakralannya. Seiring berjalannya waktu, batik parang mengalami pengembangan motif.
Berbagai motif parang hadir, salah satunya adalah motif batik parang kusuma/kusumo. Untuk mengenal lebih jauh tentang motif ini, yuk simak pembahasannya sampai habis, Kawan GNFI!
Apa Itu Batik Parang Kusumo?
Batik parang kusumo adalah salah satu variasi dari motif batik parang. Dari segi tampilan, batik parang kusumo mudah dikenali lewat polanya yang tersusun berulang dengan bentuk menyerupai huruf "S" atau bilah parang.
Di sela-sela pola tersebut biasanya terdapat ornamen bunga atau motif yang membuatnya tampak sekilas seperti bunga. Warna-warna yang digunakan pada batik parang kusumo umumnya bernuansa alami, seperti cokelat sogan, hitam, krem, hingga hijau atau biru.
Asal-usul dan Sejarah Batik Parang Kusumo
Motif parang telah dikenal sejak masa Kesultanan Mataram pada abad ke-16 dan berkembang di lingkungan keraton. Nama parang diyakini berasal dari kata pereng yang berarti lereng atau tebing miring. Hal ini terlihat dari pola diagonal pada motifnya yang menyerupai lereng atau ombak laut yang bergerak.
Meski begitu, ada pula yang berpendapat bahwa kata parang memiliki arti pedang, sehingga motif ini juga kerap dikaitkan dengan makna kekuatan dan keberanian.
Dari motif batik parang kemudian berkembang berbagai variasi, salah satunya parang kusumo. Kata kusumo sendiri berarti bunga, yang dalam budaya Jawa melambangkan keharuman nama dan kebaikan sikap.
Pada zaman dahulu, motif ini hanya boleh dikenakan oleh keluarga kerajaan dan kalangan bangsawan sebagai simbol kehormatan sekaligus identitas sosial di lingkungan keraton.
Kini, Batik Parang Kusumo tidak lagi terbatas untuk kalangan tertentu. Motif ini dapat dikenakan oleh masyarakat umum dan sering dipilih untuk berbagai acara adat maupun acara resmi.
Makna Filosofi Batik Parang Kusumo
Batik parang kusumo memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan dan hubungan antar manusia. Pola yang saling menyambung pada motif ini melambangkan ikatan yang tidak mudah terputus, baik dalam hubungan keluarga maupun kehidupan bermasyarakat. Dari filosofi tersebut kita juga diajarkan tentang pentingnya menjaga keharmonisan dan saling menghargai sesama.
Namun, di balik makna tersebut, pernah berkembang mitos yang menyebutkan bahwa mengenakan batik parang kusumo saat pernikahan dapat membawa kesialan atau memicu pertengkaran dalam rumah tangga.
Namun, anggapan itu tidak sejalan dengan filosofi asli motif ini. Justru sebaliknya, parang kusumo mengandung doa dan harapan agar pemakainya dapat membangun hubungan yang harmonis.
Penggunaan Batik Parang Kusumo Secara Tradisional
Dalam tradisi Jawa, batik parang kusumo sering dikenakan pada berbagai acara adat yang memiliki makna penting, terutama yang berkaitan dengan pernikahan. Salah satu penggunaannya adalah saat prosesi pertunangan atau tukar cincin. Motif ini dipilih sebagai simbol doa agar calon pengantin dapat membangun rumah tangga yang harmonis.
Meski awalnya hanya digunakan oleh kalangan bangsawan di lingkungan keraton, kini motif ini dapat dikenakan oleh masyarakat umum tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Cara Merawat Batik Parang Kusumo
Kain batik sendiri dibuat dengan penuh hati-hati dan ketelitian, maka dari itu agar warna dan kualitas batik parang kusumo tetap awet, berikut beberapa cara perawatannya.
- Gunakan sabun khusus batik atau deterjen secukupnya saat mencuci agar warna kain tidak mudah pudar.
- Jika ingin menggunakan cara tradisional, cuci batik dengan air rendaman buah lerak yang dikenal lebih ramah untuk serat kain.
- Hindari mencuci batik menggunakan mesin cuci dengan putaran tinggi agar motif dan serat kain tetap terjaga.
- Jemur batik di tempat yang teduh dan hindari sinar matahari langsung dalam waktu lama.
- Setrika dengan suhu rendah atau sedang. Jika perlu, gunakan kain pelapis agar motif batik tidak mudah rusak.
- Simpan batik di tempat yang kering dan memiliki sirkulasi udara yang baik untuk menjaga kualitas kain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


