sejarah motif batik parang artinya apa - News | Good News From Indonesia 2026

Menelisik Keunikan Sejarah Motif Batik Parang: Asal-Usul, Makna Filosofis, dan Aturan Pemakaiannya

Menelisik Keunikan Sejarah Motif Batik Parang: Asal-Usul, Makna Filosofis, dan Aturan Pemakaiannya
images info

Menelisik Keunikan Sejarah Motif Batik Parang: Asal-Usul, Makna Filosofis, dan Aturan Pemakaiannya | @Museum Sonobudoyo


Menjadi salah satu batik larangan di Keraton Yogyakarta, mempelajari sejarah motif batik Parang akan membawa Kawan GNFI menyelami salah satu mahakarya seni warisan budaya keraton yang paling ikonik.

Bagi Kawan yang ingin tahu sebenarnya motif batik Parang dari mana, kain berharga ini berasal dari lingkungan Keraton Mataram yang kini terbagi menjadi wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Coraknya yang elegan menjadikan karya seni ini sebagai primadona dari masa lampau hingga terus menjadi inspirasi gaya busana kekinian.

Artikel ini akan membantu Kawan menelisik sejarah motif batik parang mulai dari arti dan makna filosofis coraknya, asal-usul kemunculannya, hingga aturan penggunaan batik Parang di masa lampau dan masa kini. Simak sampai habis, ya!

baca juga

Apa itu Batik Parang?

Batik Parang adalah salah satu batik dengan visual khas berupa deretan huruf S yang saling jalin-menjalin secara diagonal melambangkan harmoni. Dikutip dari laman resmi Museum Sonobudoyo, kata "Parang" sejatinya berasal dari bahasa Jawa yang bermakna "pedang," sehingga corak ini melambangkan sebuah kekuatan serta keberanian sejati bagi pemakainya.

Warnanya sangat identik dengan nuansa klasik yang hangat seperti paduan cokelat soga, putih kekuningan, dan hitam, walau saat ini Kawan GNFI bisa menemukan berbagai modifikasi warna di pasaran.

Variasinya pun sangat beragam dan disesuaikan dengan siapa pemakainya, mulai dari Parang Rusak, Parang Barong yang ukurannya sangat besar, hingga Parang Kusumo.

Makna Motif Batik Parang

Makna Motif Batik Parang dan Aturan Penggunaannya, Benarkah Dilarang Dikenakan di Keraton? | Kraton Jogja
info gambar

Makna Motif Batik Parang dan Aturan Penggunaannya, Benarkah Dilarang Dikenakan di Keraton? | Kraton Jogja


Corak batik Parang memiliki makna yang dalam. Selain menandai kedudukan sosial pemakainya, motif batik Parang juga menyimbolkan kekuatan, keberanian, serta adanya semangat juang.

Gambar motif batik Parang yang teratur dari satu sisi ke sisi lain memberi makna keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan yang dipercaya menjadi kunci kebahagiaan dan kedamaian, entah itu hubungan harmoni antara pekerjaan, keluarga, maupun hubungan sosial.

Rouffaer dan Joynboll dalam situs resmi Kraton Jogja berpendapat bahwa motif ini berasal dari pola bentuk pedang yang kerap digunakan para kesatria dan penguasa saat berperang dengan keyakinan atau harapan agar kekuatannya berlipat ganda.

Dalam versi lain disebut bahwa motif batik Parang ini diciptakan Panembahan Senapati saat tengah mengamati gerak ombak Laut Selatan yang menyapu karang di area tepi pantai. Dari situ, pola garis lengkungnya diartikan serupa kedudukan raja yang bagaikan ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam. Komposisi coraknya yang miring juga melambangkan kekuasaan, kebesaran, wibawa, hingga gerak yang cepat.

Di samping itu, mahakarya ini juga mencerminkan tingginya kreativitas dan inovasi manusia penciptanya. Desain yang rumit dan kompleks tentu memerlukan tingkat keterampilan tinggi serta keahlian khusus dalam seni kriya keraton. Desainnya bahkan senantiasa berkembang tidak hanya satu jenis, memperlihatkan kelihaian dan kecerdasan para pengrajin batik.

Batik Parang Dari Mana Asalnya?

Secara historis dan geografis, warisan seni ini lahir serta mengakar kuat di pusat pemerintahan Kesultanan Mataram di tanah Jawa. Setelah terjadi perpecahan kerajaan melalui Perjanjian Giyanti, kekayaan budaya ini terus dilestarikan dan dikembangkan oleh dua pusat kebudayaan penerusnya, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Itulah alasannya, Kawan GNFI akan selalu menemukan corak ini sebagai identitas kultural utama dari kedua daerah tersebut.

baca juga

Sejarah Motif Batik Parang, Bagaimana Asal-Usulnya?

Sejarah Motif Batik Parang, Apakah Kita Boleh Memakainya? | Kraton Jogja
info gambar

Sejarah Motif Batik Parang, Apakah Kita Boleh Memakainya? | Kraton Jogja


Dikutip dari laman Museum Sonobudoyo, corak legendaris ini memiliki akar sejarah yang amat kuat dalam budaya Jawa. Sejarah perkembangannya dapat ditelusuri kembali ke masa kejayaan Kesultanan Mataram pada abad ke-16.

Pada masa itu, motif batik Parang ini hanya digunakan secara eksklusif oleh kalangan bangsawan serta keluarga kerajaan sebagai simbol mutlak status kekuasaan mereka. Karya seni ini tidak sekadar dianggap sebagai pakaian, tetapi bergeser menjadi lambang sosial yang menunjukkan kedudukan seseorang dalam masyarakat.

Di samping itu, laman resmi Kraton Jogja berbagi bahwa terdapat dua versi pemaknaan terkait asal-usul batik Parang ini.

Menurut Rouffaer dan Joynboll, corak batik Parang terinspirasi dari pola pedang yang sering dikenakan oleh para ksatria dan penguasa di medan perang, dengan keyakinan bahwa ksatria yang mengenakannya akan mendapatkan kekuatan berlipat ganda.

Di sisi lain, versi berbeda menyebutkan bahwa motif batik Parang ini diciptakan oleh Panembahan Senapati ketika beliau mengamati pergerakan ombak Laut Selatan yang menerpa karang di tepi pantai. Garis lengkungnya diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, yang dalam hal ini merujuk pada kedudukan sang raja. Komposisi garis miringnya pun menjadi lambang kekuasaan, kebesaran, kewibawaan, serta kecepatan gerak.

Kesakralan makna batik Parang tersebut menjadikannya sebagai salah satu motif larangan yang sangat ditekankan di Keraton Yogyakarta, terutama pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII bertahta pada tahun 1921 hingga 1939. Kain ini hanya boleh dipakai oleh orang tertentu seperti raja dan putra mahkota, serta jajaran keluarga kerajaan berpangkat penting.

Regulasi penggunaannya secara khusus tertuang dalam dokumen "Rijksblad van Djokjakarta" tahun 1927 tentang Pranatan Dalem Bab Jenenge Panganggo Keprabon Ing Keraton Nagari Yogyakarta. Aturan tersebut membagi tata cara pemakaian dalam bentuk nyamping atau bebet serta kampuh atau dodot.

Aturan Pemakaian Batik Parang, Salah Satu Batik Larangan di Keraton Jogja

Batik Parang kini banyak digunakan berbagai kalangan yang tak dibatasi usia. Modelnya pun bervariasi mengikuti zaman. Meski begitu, karena maknanya, terdapat larangan memakai batik bermotif parang di lingkungan Keraton maupun pada acara formal spesial, misalnya pernikahan, sebab dipercaya bisa membawa perceraian.

baca juga

Adapun berikut aturan pemakaian batik Parang dalam lingkungan Keraton Yogyakarta:

Aturan untuk Nyamping atau Bebet (Kain Bawahan)

  • Parang Rusak Barong (Ukuran di atas 10 cm): Hanya boleh dipakai oleh Raja (Sultan) dan Putra Mahkota. Ini adalah kasta motif tertinggi karena ukurannya yang paling besar.
  • Parang Barong (Ukuran 10 sampai 12 cm): Boleh dipakai oleh keluarga inti kerajaan tingkat atas, seperti Permaisuri, Putra Mahkota, pejabat tinggi (Kanjeng Panembahan dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati beserta istri utama mereka), putra sulung Sultan beserta istri utama, putra-putri Sultan dari Permaisuri, dan Patih (perdana menteri).
  • Parang Gendreh (Ukuran 8 cm): Dipakai oleh kalangan keluarga keraton satu tingkat di bawahnya, yaitu istri selir Sultan (ampeyan dalem), istri Putra Mahkota, putra-putri dari Putra Mahkota, Pangeran Sentana, serta para pangeran beserta istri utama mereka.
  • Parang Klithik (Ukuran 4 cm ke bawah): Dipakai oleh keturunan keraton yang lebih muda atau tingkatannya di bawah, seperti anak dari selir Sultan, selir Putra Mahkota, serta para cucu, cicit (buyut), canggah, hingga wareng.

Aturan untuk Kampuh atau Dodot (Kain Kebesaran Upacara)

Aturan di bawah ini juga berlaku sama untuk kain kelengkapan pakaian prajurit keraton atau Bebet Prajuritan.

  • Motif Parang Barong: Khusus dikenakan oleh Sultan, Permaisuri beserta istri utama, Putra Mahkota, putri sulung Sultan, pejabat tinggi (Kanjeng Panembahan dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati), serta putra sulung Sultan beserta istri utamanya.
  • Kampuh Gendreh: Dipakai oleh putra-putri Sultan (baik anak dari Permaisuri maupun dari selir), istri selir Sultan, putra-putri dari Putra Mahkota, Pangeran Sentono, istri utama para pangeran, dan Patih.
  • Bebet Prajuritan (kain batik untuk kelengkapan busana keprajuritan): Dikenakan sama dengan ketentuan pemakaian kampuh.
  • Kampuh Parang Rusak Klithik: Khusus dibuat untuk digunakan oleh istri sah dan selir (garwa ampeyan) dari Putra Mahkota saja.

Sekian artikel berjudul "Menelisik Keunikan Sejarah Motif Batik Parang: Asal-Usul, Makna Filosofis, dan Aturan Pemakaiannya".

Semoga artikel ini membantu Kawan yang tengah mempelajari sejarah motif batik Parang dan ingin mengetahui arti corak serta dari mana asalnya!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.