Pagi baru saja dimulai ketika suara cangkul, adukan semen, dan tumpukan batu memecah kesunyian di Batu Lawang RW 009 Blok Cicapar, Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Di bawah hangatnya sinar matahari awal Juli 2026, puluhan warga bersama anggota Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Biru Indah Pisan bekerja bahu-membahu membangun saluran irigasi yang selama ini menjadi harapan banyak petani.
Pemandangan itu menjadi bukti bahwa gotong royong masih hidup di tengah masyarakat pedesaan. Tidak ada sekat antara pengurus kelompok, petani, maupun warga. Sebagian mengangkut batu, sebagian lainnya mencampur semen, sementara para tukang menyusun pasangan batu dengan teliti mengikuti gambar teknis yang telah disiapkan. Mereka memahami bahwa saluran irigasi yang dibangun hari ini akan menentukan keberlangsungan pertanian di masa depan.
Bagi masyarakat Desa Talagasari, air adalah sumber kehidupan. Selama beberapa tahun terakhir, sebagian lahan persawahan masih menghadapi persoalan distribusi air, terutama saat musim kemarau. Sawah yang berada di bagian hilir kerap menerima pasokan air lebih sedikit dibandingkan lahan lainnya. Kondisi tersebut membuat sebagian petani harus menunggu giliran pengairan, bahkan ada yang terpaksa menunda masa tanam.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, P3A Biru Indah Pisan memanfaatkan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang digagas Kementerian Pekerjaan Umum. Program ini bertujuan meningkatkan dan merehabilitasi jaringan irigasi melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Seluruh proses pembangunan dilakukan secara swakelola, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama pembangunan.

H. Sigit sedang mengontrol lokasi pembangunan Irigasi/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Ketua P3A Biru Indah Pisan, H. Sigit, mengatakan pembangunan irigasi tersebut merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat yang selama ini berharap adanya pemerataan distribusi air.
"Pembangunan ini bertujuan membantu masyarakat karena masih banyak sawah yang kekurangan air. Mudah-mudahan setelah saluran ini selesai, distribusi air menjadi lebih lancar sehingga seluruh lahan pertanian bisa mendapatkan pasokan yang cukup," ujarnya.
Menurut H. Sigit, keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program. Selain mempercepat pekerjaan, gotong royong juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang dibangun. Dengan demikian, masyarakat akan lebih peduli untuk menjaga dan merawat saluran irigasi setelah pembangunan selesai.
Di lokasi pembangunan, semangat kebersamaan benar-benar terasa. Warga bekerja tanpa mengenal lelah karena mereka menyadari bahwa manfaat saluran irigasi akan dirasakan bersama. Tidak hanya untuk musim tanam tahun ini, tetapi juga untuk tahun-tahun berikutnya.
Saluran irigasi dibangun menggunakan konstruksi pasangan batu yang dirancang agar kuat, tahan lama, dan mampu menjaga kestabilan aliran air. Dengan jaringan yang lebih baik, air diharapkan dapat mengalir lebih merata ke seluruh areal persawahan sehingga kebutuhan irigasi setiap petani dapat terpenuhi.
Selain memberikan manfaat bagi sektor pertanian, Program P3-TGAI juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Melalui sistem padat karya, warga sekitar memperoleh kesempatan bekerja selama proses pembangunan berlangsung. Penghasilan tambahan tersebut menjadi manfaat langsung yang dirasakan masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian desa.
Keberadaan jaringan irigasi yang lebih baik juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Pasokan air yang stabil memungkinkan petani mengatur pola tanam dengan lebih baik, mengurangi risiko kekeringan, dan meningkatkan hasil panen. Di sisi lain, biaya yang sebelumnya digunakan untuk memperbaiki saluran darurat juga dapat ditekan karena infrastruktur yang dibangun memiliki kualitas yang lebih baik.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, kisah dari Desa Talagasari menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat. Ketika warga dilibatkan sejak awal, pembangunan tidak hanya menghasilkan infrastruktur yang kokoh, tetapi juga memperkuat solidaritas, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian, langkah kecil dari sebuah desa di Kabupaten Garut ini menghadirkan optimisme. Saluran irigasi yang kini tengah dibangun menjadi simbol harapan baru bagi para petani. Harapan agar air dapat mengalir hingga ke setiap petak sawah, hasil panen semakin meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut tumbuh.

Area persawahan kekurangan air di lokasi dekat pembangunan irigasi/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Dari Talagasari, semangat gotong royong kembali mengingatkan bahwa ketahanan pangan Indonesia tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar, tetapi juga melalui kerja keras masyarakat desa yang dengan sukarela menyatukan tenaga dan harapan. Ketika air mengalir lebih lancar, bukan hanya sawah yang menjadi subur, melainkan juga masa depan para petani yang perlahan tumbuh semakin cerah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


