program volunteer di luar negeri melalui global volunteer di aiesec in untan - News | Good News From Indonesia 2026

Program Volunteer di Luar Negeri melalui Global Volunteer di AIESEC in Untan

Program Volunteer di Luar Negeri melalui Global Volunteer di AIESEC in Untan
images info

Dokumentasi Pribadi


Banyak anak muda Indonesia sebenarnya punya keinginan yang sama, melihat dunia, berinteraksi dengan orang-orang dari budaya berbeda, dan melakukan sesuatu yang berarti selama di sana.

Masalahnya, keinginan itu sering terhenti di tahap "mau mulai dari mana, ya?" tidak semua orang tahu jalan yang aman, terarah, dan bisa dipertanggungjawabkan untuk mewujudkannya. Di titik inilah AIESEC in Untan mengambil peran melalui program volunteer ke luar negeri.

Global Volunteer adalah program pertukaran berbasis sukarela untuk anak muda usia 18—30 tahun, yang membawa peserta tinggal dan berkontribusi dalam proyek sosial di luar negeri selama 6—8 minggu.

Setiap proyek dirancang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), mencakup isu pendidikan, kesetaraan gender, lingkungan hidup, hingga pemberdayaan pemuda.

Bedanya dengan sekadar jalan-jalan atau study trip, program ini akan membawa peserta masuk ke kehidupan sehari-hari sebuah komunitas.

baca juga

AIESEC yang Mendampingi Sepanjang Perjalanan

AIESEC mempunyai sistem pendampingan, mulai dari personal mentor, seminar persiapan sebelum keberangkatan, bantuan pengurusan visa, penjemputan di bandara, hingga pendampingan saat kepulangan.

Selain itu, peserta akan dibantu mencari akomodasi (baik global host maupun asrama), difasilitasi makan, diberi informasi lengkap soal proyek yang dijalani, dan didampingi local buddy yang siap membantu proses adaptasi di negara tujuan.

Di akhir program, peserta akan menerima sertifikat sebagai bukti kontribusi dari solusi global.

Ketika 6 Minggu di Luar Negeri Mengubah Cara Pandang Seseorang

Salah satu cerita yang menggambarkan bagaimana Global Volunteer benar-benar "membawa" seseorang ke versi terbaik dirinya datang dari Algio, peserta pertukaran yang berangkat ke Thailand untuk proyek pendidikan.

Awalnya, Algio mengaku minder dan takut berbicara bahasa Inggris. Namun, karena harus mengajar dan berkolaborasi dengan volunteer dari berbagai negara, ia perlahan-lahan keluar dari zona nyamannya. Setelah pulang dari program, Algio bahkan makin aktif berorganisasi dan mendirikan klub bahasa Inggris di kampusnya untuk membantu mahasiswa lain mengasah kemampuan komunikasi mereka.

baca juga

Cerita seperti ini bukan satu-satunya. Banyak returnee yang mengaku Global Volunteer jadi salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang masa kuliah mereka, bahkan menjadi turning point dalam memahami dunia dan peran mereka di masyarakat. 

Global Volunteer bukan hanya soal terbang ke negara lain, tetapi soal berani melangkah keluar dari zona nyaman, belajar dari perbedaan, dan menyadari bahwa satu individu pun bisa memberi dampak nyata bagi komunitas di belahan dunia mana pun. 

 

 

*artikel ini merupakan kerja sama antara GNFI dan komunitas AIESEC

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.