Waktu menunjukkan pukul 18:30 WIB pada Selasa (14/7/2026) ketika obrolan hangat itu dimulai di tengah heningnya kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor. Wawancara malam itu mengungkap sebuah kisah dari sosok inspiratif Rani Nur Ashifa yang membuktikan bahwa batas diri sejatinya diciptakan untuk dilewati.
Ia sekilas tampak seperti mahasiswi biasa yang tengah menempuh pendidikan di Program Studi Manajemen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati angkatan 2023. Ia dituntut piawai dalam membagi waktu antara jadwal kuliah dan profesinya sebagai tutor lepas (freelance) matematika serta ekonomi di salah satu lembaga les privat di Bandung.
Langkah hidupnya ternyata menyimpan sebuah kejutan yang membanggakan. Di tengah kesehariannya yang padat, siapa sangka bahwa perempuan yang mengaku dulunya sangat introvert ini kini memegang tongkat estafet kepemimpinan sebagai Ketua Komunita Kemenkeu Regional Bandung (K-004)?
Kiprah Rani Nur Ashifa di Komunita Kemenkeu

Rani Nur Ashifa saat memberikan sambutan dalam program Taxplore. | Foto: Demas Reyhan Adritama
Lazimnya, Kawan GNFI mungkin sering mendengar stereotip bahwa seorang pemimpin haruslah sosok yang sangat ekstrover dan selalu tampil merajai panggung. Lewat penuturannya, Rani justru mematahkan pandangan tersebut dengan sebuah pengakuan jujur tentang masa lalunya.
Yakinlah, ia sama sekali tidak melebih-lebihkan mengenai sifat tertutupnya itu. "Dulu aku introvert tahu, boro-boro ngobrol begini," kekehnya saat mengenang masa-masa awal berkuliah.
Orientasi selama beberapa semester awal memang difokuskan untuk bersembunyi di balik layar, berfokus murni pada nilai akademik dan jam mengajarnya. Oleh karena itu, ia secara sadar menghindari ingar-bingar organisasi intrakampus demi menjaga keseimbangan hidup (work-life balance).
Usaha untuk terus berada di zona nyaman itu pada akhirnya menemui titik balik ketika ia mendambakan ruang ekspresi baru. Ketertarikannya pada dunia keuangan membawanya berselancar secara iseng di Instagram, hingga ia menemukan akun Komunita dan langsung takjub melihat komunitas di bawah naungan Kementerian Keuangan tersebut.
Jejak Awal di Wadah Inklusif
Berawal dari pertengahan tahun 2025 saat resmi menjadi anggota baru, ia memberanikan diri merajut jejaring dengan mengikuti ajang tahunan Komunita Days Out (KDO) serta Komunita Academy. Keinginannya untuk mengeksplorasi ruang lingkup keuangan negara, khususnya impian berkarier di Bank Indonesia (BI), memotivasinya untuk aktif.
Eksistensi wadah yang diresmikan langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 18 November 2021 ini pun dirasa sangat inklusif. Meskipun selaras dan didominasi oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) maupun Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, nyatanya tidak ada sekat. Pengurus dan anggota lain ada yang berasal dari rumpun Hukum, FISIP, Teknik, hingga Desain Komunikasi Visual (DKV).
Momen pergantian tahun yang lazimnya dipakai untuk bersantai justru ia habiskan demi melangkah lebih jauh menjadi pengurus inti. "Dan aku ngerjainnya tuh waktu tahun baru loh, ngerjain administrasinya, itu aku posisinya lagi magang," kenangnya mengenai masa-masa hectic yang berhimpitan dengan rutinitas magang di Bank BJB Kantor Cabang (KC) Cianjur, hingga ia harus menyiapkan berkas dari Magrib sampai tengah malam.
Yang pasti, awalnya ia hanya mendaftar untuk posisi sekretaris karena kecintaannya pada kerja manajerial di belakang layar. Namun, setelah melalui Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara daring dari rumahnya di Cipanas, Puncak, yang sempat terkendala sinyal, Rani justru dilantik menjadi Ketua Regional Bandung pada Februari 2026 bersama Dwi Nurani Purwa Rahayu sebagai wakilnya.
Gebrakan Program dan Kolaborasi Regional

Rani Nur Ashifa (kiri) sedang berdiskusi hangat dengan wakilnya, Dwi Nurani Purwa Rahayu. | Foto: Demas Reyhan Adritama
Gebrakan di bawah arahannya langsung membuat Komunita Regional Bandung perlahan bertransformasi secara masif. Bersama wakilnya, mereka merancang grand design proker dan berkolaborasi tanpa henti untuk mendobrak tembok pembatas birokrasi.
Inisiatif proker pertama tersebut langsung dieksekusi sebagai ajang merajut chemistry antar anggota dengan pengurus baru. Langkah awal ini diwujudkan lewat acara buka puasa bersama (bukber) yang digelar di kawasan Braga pada bulan Maret 2026.
Rangkaian program kemudian berlanjut pada 19 Mei 2026, ketika ia sukses mengeksekusi program edukasi perpajakan bertajuk "Taxplore". Menguatkan misinya, kegiatan edukatif ini mengambil lokasi strategis secara langsung di Kantor Wilayah DJP Jawa Barat I.
Langkah kolaborasi terus membesar, tepatnya pada 29 Juni 2026, saat ia merangkul Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Berlokasi di Bale Sawala Unpad, kegiatan yang mengupas tuntas ekspor-impor ini dirancang secara inklusif sehingga pesertanya terbuka untuk umum, bukan hanya bagi mahasiswa Unpad.
Fakta dari berbagai kolaborasi tersebut membuktikan bahwa lingkungan di dalam Komunita dirasakan sangat suportif bagi perkembangan anak muda. "Selama aku di Komunita, lingkungannya sangat sehat. Aku ngerasa bahwa sama anak-anak Komunita tuh kita bisa bermimpi setinggi apa pun. Mereka tuh pasti ngesupport kita," ungkapnya antusias menceritakan kehangatan relasi tersebut.
Relasi yang asyik ini menjadikan wadah tersebut sebagai jembatan komunikasi yang sempurna untuk menghilangkan gap birokrasi. "Kita tuh seneng banget loh kalau semisalnya ada anak muda yang pengin belajar tentang keuangan negara," tekannya dengan penuh semangat.
Sisi Humanis Rani Nur Ashifa di Pelosok Cianjur
Implementasi pengabdian Rani rupanya tidak hanya berhenti di ranah literasi keuangan. Hal ini tercermin dari persiapannya menjelang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia berencana akan mulai berangkat pada Jumat (17/7/2026) mendatang untuk mengabdi di Desa Karya Bakti, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur.
Eksplorasi di lapangan berdasarkan hasil survei kelompoknya menunjukkan bahwa desa yang berjarak tiga jam perjalanan darat dengan akses terjal itu menyimpan realitas ketimpangan ekonomi. Kondisi ini sangat ironis, keringat petani dihargai amat murah—satu kilogram pisang berharga Rp1.500 dan kelapa Rp900 per butirnya.
Niat luhur untuk merespons kondisi tersebut akhirnya mereka wujudkan dalam bentuk solusi membumi untuk masyarakat. Mereka menginisiasi "Pojok Literasi" dengan mengajukan proposal buku ke lembaga perpustakaan, merancang pemeriksaan kesehatan gratis bagi lansia, serta membuat pemetaan geografis batas wilayah RT/RW yang selama ini sulit dipetakan.
Dedikasinya dari hulu ke hilir ini menjelma menjadi pelantang suara yang meruntuhkan sekat antara pemerintah, akademisi, dan realitas masyarakat. "Harapan ke depan, generasi muda, khususnya menuju Indonesia Emas 2045, menganggap bahwa literasi keuangan itu penting dan menganggap Kemenkeu itu sangat terbuka bagi anak muda," pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


