Di antara deretan gunung yang mengelilingi Cekungan Bandung, nama Gunung Tangkuban Parahu kerap menjadi primadona. Namun, tak jauh dari sana berdiri Gunung Burangrang, gunung yang justru menyimpan kisah geologi lebih tua sekaligus menjadi benteng penting bagi kelestarian alam Jawa Barat.
Gunung setinggi 2.050 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Purwakarta, dan sebagian Subang.
Meski popularitasnya kalah dibandingkan tetangganya, Burangrang memiliki nilai ilmiah, sejarah, sekaligus ekologis yang menjadikannya salah satu lanskap paling penting di kawasan Bandung Raya.
Warisan Gunung Sunda Purba Berusia Ratusan Ribu Tahun
Secara geologi, Gunung Burangrang bukanlah gunung yang terbentuk secara terpisah. Ia merupakan sisa tubuh Gunung Sunda Purba, gunung raksasa yang diperkirakan pernah mendominasi bentang alam Jawa Barat sebelum mengalami letusan besar pada masa prasejarah.
Peristiwa letusan tersebut membentuk kaldera raksasa yang kemudian melahirkan sejumlah gunung baru, seperti Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul, hingga Burangrang. Karena berasal dari tubuh Gunung Sunda Purba, Burangrang diyakini memiliki usia geologi yang lebih tua dibandingkan Gunung Tangkuban Parahu.
Beberapa kajian juga menyebut Burangrang sebagai hasil dari letusan terarah (directed blast) gunung api parasit di kompleks Gunung Sunda. Proses geologi ini menghasilkan morfologi gunung yang berbeda dengan gunung api berbentuk kerucut pada umumnya, sehingga kawasan ini menjadi laboratorium alam yang menarik bagi para peneliti kebumian.
Tak hanya dari sisi ilmiah, keberadaan Burangrang juga lekat dengan legenda Sunda. Dalam kisah Sangkuriang, gunung ini dipercaya berasal dari tumpukan ranting dan dedaunan yang dikumpulkan untuk membuat perahu.
Kata burangrang sendiri sering dihubungkan dengan istilah dalam bahasa Sunda yang menggambarkan susunan ranting yang jarang atau renggang. Kisah tersebut menjadi salah satu warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Rumah Bagi Hutan Pegunungan yang Masih Terjaga
Di balik sejarah panjangnya, Gunung Burangrang juga berperan sebagai kawasan konservasi penting. Sejak 1979, sebagian kawasan hutannya ditetapkan sebagai Cagar Alam Gunung Burangrang dengan luas sekitar 2.700 hektare.
Kawasan ini menjadi habitat berbagai tipe vegetasi, mulai dari hutan hujan pegunungan bawah hingga hutan montana. Beragam jenis pohon seperti puspa, saninten, rasamala, hingga berbagai tumbuhan paku dan anggrek masih dapat dijumpai di dalam kawasan. Vegetasi yang rapat tersebut berfungsi menjaga cadangan air sekaligus melindungi tanah dari erosi.
Selain tumbuhan, Burangrang juga menjadi habitat satwa liar seperti lutung jawa, surili, macan tutul jawa, kijang, trenggiling, hingga berbagai jenis burung endemik. Keberadaan satwa-satwa tersebut menunjukkan bahwa ekosistem Burangrang masih memiliki nilai konservasi yang tinggi meskipun berada tidak jauh dari kawasan perkotaan.
Gunung Burangrang berkarakter alam yang rentan. Curah hujan di kawasan tersebut tergolong tinggi, mencapai lebih dari 5.000 milimeter per tahun. Kondisi tersebut membuat lereng-lerengnya memiliki potensi longsor, terutama ketika vegetasi terganggu atau terjadi hujan ekstrem.
Peristiwa longsor di kawasan Cisarua pada awal 2026 menjadi pengingat bahwa keseimbangan ekosistem pegunungan harus dijaga.
Jalur Pendakian dengan Panorama yang Memikat
Bagi para pendaki, Gunung Burangrang menawarkan pengalaman yang berbeda. Medannya dikenal cukup menantang karena didominasi tanjakan panjang, tetapi masih dapat dinikmati oleh pendaki yang telah memiliki persiapan fisik memadai.
Saat ini terdapat beberapa jalur pendakian yang umum digunakan, antara lain Legok Haji, Komando (Kopassus), Pangheotan, dan Jalur Mentari. Masing-masing punya karakteristik berbeda, mulai dari jalur yang relatif cepat hingga rute yang lebih panjang dengan panorama hutan yang masih alami.
Jalur Legok Haji menjadi pilihan paling populer karena fasilitasnya lebih lengkap dan waktu tempuh menuju puncak sekitar tiga hingga empat jam.
Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati hutan pinus, hutan tropis yang lebat, hingga beberapa air terjun seperti Curug Cijalu, Curug Putri, dan Curug Cipalasari yang kerap menjadi tempat beristirahat sebelum melanjutkan pendakian.
Di puncaknya, terdapat Tugu Triangulasi yang menjadi penanda titik tertinggi sekaligus lokasi favorit untuk menikmati panorama pegunungan Bandung dan Purwakarta.
Mendaki Burangrang bukan sekadar mengejar puncak. Setiap langkah menjadi bentuk penghargaan terhadap lanskap yang telah menjadi saksi sejarah terbentuknya Bandung Raya selama ratusan ribu tahun.
Dengan menjaga dan menghormati kawasan konservasi, para pendaki turut berkontribusi menjaga warisan geologi dan keanekaragaman hayati agar tetap lestari.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


