kompos jerami mengubah limbah pascapanen menjadi pupuk organik - News | Good News From Indonesia 2026

Kompos Jerami: Mengubah Limbah Pascapanen jadi Pupuk Organik

Kompos Jerami: Mengubah Limbah Pascapanen jadi Pupuk Organik
images info

Proses Pembuatan Kompos Jerami (Dokumentasi Pribadi)


Setiap musim panen padi, hamparan sawah di berbagai daerah akan menyisakan tumpukan jerami. Demi mempercepat pengolahan lahan untuk musim tanam berikutnya, jerami tersebut tidak jarang dibakar.

Praktik yang telah berlangsung bertahun-tahun ini memang terasa praktis, tetapi juga meninggalkan persoalan bagi lingkungan dan keberlanjutan pertanian.

Asap hasil pembakaran jerami dapat menurunkan kualitas udara, sementara panas yang dihasilkan berpotensi merusak mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menguraikan bahan organik.

Di balik tampilannya yang kering, jerami masih mengandung berbagai unsur hara yang bermanfaat bagi tanah, seperti Nitrogen, Fosfor, Silikon, Kalium dan Kalsium.

Jika dikelola dengan tepat, jerami dapat kembali ke lahan dalam bentuk pupuk organik yang membantu menjaga kesuburan tanah.

baca juga

Inilah yang menjadi tantangan sekaligus peluang. Selama ini, persoalannya bukan semata-mata keberadaan jerami, melainkan cara pandang terhadapnya. Ketika jerami hanya dianggap sebagai sisa panen yang harus segera disingkirkan, potensi sumber daya lokal yang sebenarnya masih bernilai ikut terbuang.

Sebaliknya, ketika jerami dipandang sebagai bahan baku pupuk organik, limbah pertanian dapat menjadi bagian dari solusi untuk mewujudkan pertanian yang lebih berkelanjutan.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Inovasi IPB University menghadirkan Kompos SAJI (Sahabat Jerami), sebuah program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pemanfaatan limbah jerami padi menjadi kompos organik.

Program ini dilaksanakan bersama masyarakat petani di Desa Sukaratu, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, sebagai upaya mengurangi praktik pembakaran jerami sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang lebih bijaksana.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap jerami. Bukan lagi sebagai limbah yang dibakar, tetapi sebagai aset pertanian yang mampu mengembalikan kesuburan tanah secara berkelanjutan," ujar Cecep selaku penanggung jawab program kerja.

Pada Jumat, 17 Juli 2026, kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai dampak pembakaran jerami terhadap lingkungan dan kesuburan tanah. Selain membahas berbagai manfaat jerami sebagai bahan baku pupuk organik, petani juga diperkenalkan pada proses pembuatan kompos menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar mereka.

Melalui pendekatan ini, masyarakat diajak melihat bahwa jerami bukan lagi sisa panen yang harus disingkirkan, melainkan sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan kembali.

Kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung pembuatan kompos jerami. Peserta mempelajari setiap tahapan, mulai dari menyiapkan jerami, mencampurkannya dengan bahan pendukung seperti kotoran ternak, kapur, urea, dan aktivator mikroorganisme, hingga menyusun bahan ke dalam wadah pengomposan.

Proses ini memberikan pengalaman langsung kepada petani mengenai teknik pengomposan yang sederhana dan dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan mereka.

Namun, perubahan perilaku tidak dapat dibangun hanya melalui satu kali pelatihan. Oleh karena itu, program Kompos SAJI disertai dengan monitoring dan pendampingan selama proses pengomposan berlangsung.

Tahapan ini dilakukan untuk memastikan proses dekomposisi berjalan sesuai prosedur hingga kompos mencapai kondisi matang dan siap dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Pendampingan menjadi bagian penting agar pengetahuan yang diperoleh dapat benar-benar diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Lebih dari sekadar mengolah limbah pertanian, program Kompos SAJI membawa pesan bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari perubahan cara memandang sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.

Jerami yang sebelumnya hanya menjadi sisa panen ternyata dapat kembali menyuburkan tanah, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, sekaligus membantu menjaga kualitas lingkungan.

baca juga

“Keberlanjutan tidak hanya tentang teknologi baru, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai kembali sumber daya yang selama ini dianggap tidak bernilai. Jerami yang diolah menjadi kompos merupakan salah satu bukti bahwa solusi pertanian sering kali sudah tersedia disekitar kita,” ujar Bivany selaku penanggung jawab program kerja.

Bagi Kawan GNFI, membangun pertanian yang berkelanjutan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit atau biaya yang besar.

Perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, yaitu mengubah kebiasaan dan cara pandang terhadap sumber daya yang ada di sekitar.

Pada akhirnya, jerami tidak harus selalu dipandang sebagai limbah. Dengan pengelolaan yang tepat, sisa hasil panen ini dapat kembali memberi manfaat bagi tanah dan mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.