Ketika artefak ditemukan, para arkeolog menyusun kembali kehidupan manusia pada masa lampau, dari bentuk alat, bahan pembuatnya, bekas pemakaian, hingga lapisan tanah tempat artefak terkubur.
Arkeolog merekonstruksi bagaimana manusia purba berburu, mengolah makanan, dan beradaptasi dengan lingkungannya. Salah satu peninggalan yang paling banyak mengungkap kisah tersebut berasal dari Zaman Paleolitikum.
Peninggalan Paleolitikum adalah benda-benda hasil aktivitas manusia purba. Pada masa ini, manusia belum mengenal kehidupan menetap dan masih bergantung pada alam dengan cara berburu, mengumpulkan makanan, serta berpindah mengikuti sumber daya yang tersedia.
Mengapa Peninggalan Paleolitikum Didominasi Alat Batu?
Sebagian besar peninggalan Paleolitikum yang ditemukan berupa alat batu. Pada awalnya, manusia memanfaatkan benda-benda yang tersedia di alam, seperti ranting kayu dan batu, sebagai alat untuk berburu, memukul, atau memecahkan tulang. Seiring waktu, mereka mulai menyadari bahwa batu yang dibentuk dan ditajamkan lebih efektif digunakan.
Perkembangan teknologi sederhana menandai dimulainya periode Paleolitikum atau Zaman Batu Tua, yang diperkirakan berlangsung selama lebih dari 100 ribu tahun.
Batu memiliki keunggulan besar, yaitu mampu bertahan jauh lebih lama. Ketika terkubur dalam tanah selama ribuan hingga ratusan ribu tahun, batu lebih tahan terhadap proses pembusukan dibandingkan bahan organik.
Karena alasan itulah kapak genggam, kapak perimbas, serpihan batu (flakes), dan alat serpih menjadi saksi utama yang membantu para ilmuwan memahami kehidupan manusia di masa lampau.
Berbagai alat tersebut menunjukkan bahwa manusia Paleolitikum telah mampu membuat teknologi sederhana sesuai kebutuhan. Bentuk dan fungsi setiap artefak pun berbeda, bergantung pada aktivitas yang dilakukan, mulai dari berburu hingga mengolah makanan.
Kapak Genggam hingga Alat Serpih, Teknologi Sederhana Manusia Purba
Berbagai artefak Paleolitikum menunjukkan bahwa manusia purba telah memiliki kemampuan membuat suatu alat sesuai kebutuhan.
Kapak genggam menjadi salah satu contoh alat yang banyak dikenal, bentuknya berupa batu yang salah satu sisinya dipangkas hingga memiliki bagian tajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya agar nyaman digunakan untuk menggenggam. Alat ini diperkirakan digunakan untuk memotong, mengolah hasil buruan, serta membantu aktivitas sehari-hari.
Selain itu, terdapat kapak perimbas yang memiliki satu sisi tajam hasil pemangkasan. Alat ini digunakan untuk pekerjaan seperti memotong kayu dan mengolah hasil buruan.
Penelitian yang dilakukan sejak awal 1990-an, termasuk hasil ekskavasi tim Indonesia-Perancis di Pegunungan Sewu pada tahun 2000, memperkuat dugaan kapak genggam digunakan oleh manusia purba jenis Homo erectus.
Selain di Punung, Pacitan, kapak perimbas dan kapak genggam juga ditemukan di berbagai daerah lain, seperti Jampang Kulon, Parigi, Tambang Sawah, Lahat, Kalianda, Awangbangkal, Cabenge, serta Sembiran dan Terunyan.
Temuan lain berupa flakes dan alat serpih menunjukkan perkembangan teknologi yang lebih ringan dan praktis. Serpihan batu berukuran kecil dengan sisi tajam tersebut berfungsi sebagai alat untuk menguliti hewan, memotong daging, dan mengolah umbi-umbian sehingga sering disamakan dengan pisau pada masa kini.
Artefak ini juga ditemukan di Pacitan, Gombong, Parigi, Jampang Kulon, Ngandong, Lahat, Batturing, Cabbenge, Wangka, Soa, dan Mangeruda
Selain batu, manusia Paleolitikum juga memanfaatkan tulang dan tanduk hewan. Namun, alat dari bahan tersebut lebih jarang ditemukan karena lebih mudah mengalami kerusakan alami.
Alat dari tulang umumnya berbentuk menyerupai bilah atau ujung tombak bergerigi. Alat ini digunakan untuk mengorek umbi-umbian dari dalam tanah serta membantu menangkap ikan.
Berbagai temuan tersebut tidak hanya menjelaskan jenis alat yang digunakan manusia purba, tetapi juga menunjukkan bagaimana artefak itu ditemukan dan dipelajari oleh para arkeolog.
Bagaimana Artefak Paleolitikum Ditemukan?
Penemuan artefak Paleolitikum tidak terjadi secara kebetulan. Para arkeolog melakukan survei penggalian dengan metode ilmiah untuk menemukan lokasi yang kemungkinan pernah menjadi tempat aktivitas manusia purba.
Situs seperti Sangiran di Jawa Tengah dan kawasan Pacitan di Jawa Timur menjadi contoh penting penelitian prasejarah Indonesia. Sangiran dikenal sebagai salah satu situs manusia purba dunia dengan rekaman fosil dan artefak yang sangat penting, sementara Pacitan terkenal dengan temuan industri alat batu Paleolitik.
Dalam penelitian arkeologi, kelestarian artefak juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat benda tersebut terkubur. Faktor seperti jenis tanah, kelembapan, suhu hingga aktivitas mikroorganisme menentukan apakah sebuah benda dapat bertahan selama ribuan tahun atau justru hancur.
Kondisi inilah yang menyebabkan tidak semua peninggalan manusia purba dapat ditemukan. Sebagian besar benda yang terbuat daribahan organis telah terurai oleh proses alam selama ribuan hingga ratusa ribu tahun.
Karena itu, artefak yang ditemukan saat ini hanyalah sebagian dari benda yang pernah digunakan manusia Paleolitikum. Temuan tersebut memberikan gambaran penting tentang kehidupan masa lalu, tetapi belum dapat menggambarkan seluruh aspek kehidupan manusia purba secara lengkap.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


