Saya ingat tahun 1980-an beberapa maskapai penerbangan di Indonesia terkenal bukan karena tingkat pelayanannya, namun karena selalu terlambat dan keterlambatannya itu tidak tanggung-tanggung, lebih dari 1-2 jam. Maskapai penerbangan Garuda sebagai national flag carrier juga sering delay, terlambat.
Seingat saya, tahun-tahun itu pernah mengalami keterlambatan keberangkatan Garuda ini. Seorang penumpang asal Madura yang berdiri persis di depan saya di antrean yang panjang di counter Garuda di Bandara Soekarno-Hatta mengekspresikan kekesalannya atas keterlambatan keberangkatan Garuda dengan mengatakan dengan suara keras bahwa singkatan GIA itu bukan “Garuda Indonesian Airways”, tapi “Garuda Insya Allah”, Insya Allah berangkat, Insya Allah delay. Soal keterlambatan ini juga sering dikeluhkan penumpang warga asing yang protes atas masih berlakunya “rubber time” atau jam karet di Indonesia.
Garuda pernah mengalami kerugian setelah pajak sebesar US$2,47 miliar pada tahun 2020, serta memiliki utang US$12,7 miliar pada tahun itu. Penyebaran virus mematikan Covid-19 di Indonesia tahun 2021 menyebabkan kondisi keuangan Garuda juga mengalami keterpurukan.
Akhir-akhir ini saya sering menggunakan Garuda bila ada tugas dari Universitas Airlangga Surabaya dan menyaksikan bahwa Garuda yang pernah mengalami menurunnya kondisi keuangan itu sudah berubah, sudah tidak lagi “Garuda Insya Allah”, namun keberangkatannya selalu tepat waktu. Penilaian itu tidak hanya datang dari saya, namun dari OAG (Official Airline Guide) yang merupakan lembaga penyedia data perjalanan global yang berkantor pusat di Inggris. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1929 dan beroperasi di Amerika Serikat, Singapura, Jepang, Lituania, dan Tiongkok.
Laman resmi Garuda menyebutkan bahwa maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia terus memperkuat transformasi operasional melalui penerapan strategi operational excellence yang berfokus pada peningkatan kesiapan penerbangan, keandalan armada, efektivitas pengendalian operasional, serta pemanfaatan data untuk mendukung pengambilan keputusan secara lebih cepat dan terukur.
Konsistensi implementasi strategi tersebut kembali memperoleh rekognisi global setelah Garuda Indonesia mencatatkan tingkat ketepatan waktu (On-Time Performance/OTP) sebesar 97,13% dari 6.283 penerbangan yang dioperasikan sepanjang Juni 2026. Berdasarkan laporan OAG Flightview, capaian tersebut merupakan yang tertinggi di antara maskapai global pada periode tersebut.
Capaian pada Juni sekaligus menempatkan Garuda Indonesia sebagai maskapai paling tepat waktu di dunia selama empat bulan berturut-turut, sejak Maret hingga Juni 2026. Konsistensi tersebut menjadi salah satu indikator penguatan kualitas operasional Garuda Indonesia sekaligus mencerminkan keberlanjutan implementasi agenda transformasi perusahaan.
Di laman Garuda itu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengungkapkan bahwa rekognisi global tersebut tidak hanya merepresentasikan capaian ketepatan waktu, tetapi juga menjadi validasi terhadap strategi transformasi operasional yang dijalankan secara konsisten, terukur, dan terintegrasi di seluruh lini perusahaan.
“Ketepatan waktu merupakan hasil dari rangkaian proses operasional yang saling terhubung, mulai dari kesiapan armada dan kru, efektivitas penanganan penumpang, disiplin waktu pelayanan di darat, hingga kecepatan koordinasi dalam mengantisipasi dinamika operasional. Karena itu, konsistensi capaian ini menjadi indikator penting bahwa penguatan fundamental operasional yang kami jalankan terus bergerak ke arah yang tepat,” jelas Glenny.
Dalam menjaga konsistensi ketepatan waktu, Garuda Indonesia menerapkan sejumlah fokus strategis yang dimulai sejak penerbangan pertama setiap hari. Penguatan kesiapan first departure menjadi salah satu prioritas untuk menjaga stabilitas rotasi penerbangan pada sektor-sektor berikutnya sekaligus meminimalkan potensi dampak keterlambatan secara berantai.
Strategi tersebut didukung melalui optimalisasi proses aircraft turnaround dengan pengendalian Ground Time Performance, peningkatan disiplin terhadap setiap operational time frame, serta penguatan koordinasi pada proses passenger handling dan boarding. Pemantauan pada setiap tahapan operasional dilakukan secara intensif agar potensi deviasi dapat diidentifikasi dan ditangani sedini mungkin.
Disebutkan juga bahwa penguatan ketepatan waktu turut ditopang oleh tingkat keandalan armada yang konsisten. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Garuda Indonesia mencatatkan Aircraft Dispatch Reliability sebesar 99,49%. Capaian tersebut mencerminkan efektivitas program keandalan dan perencanaan perawatan armada yang dijalankan secara komprehensif untuk meminimalkan potensi gangguan teknis serta memastikan kesiapan pesawat sesuai jadwal operasional.
Semoga capaian gemilang Garuda tentang ketepatan waktu itu merupakan sustainable achievement — capaian yang berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


