Pernahkah Kawan mendengar istilah PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome)? Bagi kebanyakan perempuan di Indonesia, gangguan keseimbangan hormonal dan metabolik (sebelumnya dikenal sebagai PCOS), masih menjadi istilah yang asing untuk dibicarakan.
Di tengah masyarakat yang masih kental dengan tuntutan budaya terhadap kesehatan reproduksi dan kesuburan perempuan, penderita gangguan hormonal seringkali menanggung beban mental dari ini.
Hal itulah Kawan, yang mendasari sekelompok mahasiswa konsentrasi Marketing Communication dari LSPR Institute of Communication & Business untuk menginisiasi sebuah gerakan sosial bernama Daraloka. Mereka tergabung dalam program Community Development.
Dengan tema utama "Every Dara, Beyond the Stigma", Daraloka dihadirkan untuk membangun kepedulian bagi wanita dan melawan stigma yang membayangi mereka.
Tentu saja, sebuah langkah untuk membangun kesadaran tidaklah mudah. Pada Minggu (12/7/2026), kawasan Car Free Day (CFD) Sudirman, Jakarta Pusat, dipilih sebagai tempat rangkaian pra-acara fun walk yang diberi nama "Langkah Untuk Dara".
Dengan memanfaatkan ruang publik ini, para peserta berjalan bersama menyusuri rute dari Sudirman Two menuju Upper Taman Budaya.
Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk mengajak masyarakat bergerak aktif dan melepas stres, tetapi juga sebagai tempat berbagi cerita dan literasi seputar kesehatan hormonal.
Setibanya di garis finish, peserta dihibur dengan ragam kuis interaktif seputar kesehatan hormonal, peluncuran e-book edukatif, dan pengenalan situs resmi Daraloka.
Sheila, salah satu peserta fun walk, menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan tersebut:
"Fun walk-nya seru banget, ngasih aku insight baru kalau PCOS sekarang ternyata sudah ganti nama jadi PMOS. Aku jadi lebih tahu deeply tentang PMOS, awareness-nya nyampe banget di aku pas tadi mampir ke booth."

Agung Prasetyo Teguh Wahono (@agngprsy)
Melvin Bonardo Simanjuntak, M.I.Kom, selaku dosen pengampu mata kuliah Community Development di LSPR, menjelaskan bahwa pendekatan pra-kampanye seperti ini dirancang untuk menjembatani teori komunikasi digital dan pemberdayaan komunitas ke dalam aksi nyata yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Dua minggu berselang, tepatnya pada Minggu, 26 Juli 2026, aktivitas ini mencapai puncaknya melalui "Asa Dara". Berkolaborasi dengan komunitas Kata Nona, Asa Dara diselenggarakan di Tamananda Lifestyle Park, Cilandak, Jakarta Selatan dengan tema "Beyond the Stigma: How Indonesian Culture Shapes Women's Wounds".
Acara dimulai dengan sesi PMOS Yoga di pagi hari, dilanjutkan dengan konferensi pers yang dihadiri akademisi, pendiri komunitas, serta mitra media untuk menegaskan komitmen bersama dalam mengawal isu kesehatan perempuan.
Salah satu event utama yang diunggulkan adalah "Dara Bersuara". Ini adalah sebuah pameran interaktif hasil kolaborasi dengan lebih dari 10 seniman lokal. Pameran ini menghadirkan instalasi visual, penggalan suara emosional melalui Audio Experience yang difasilitasi oleh Love Line, Message of Love, hingga Interactive Wall tempat pengunjung membagikan kisah dan dukungan mereka secara anonim.
Diskusi berlanjut pada sesi talkshow bertajuk "Menjadi Perempuan" yang dipandu oleh Hapsa Arafa dan menghadirkan perspektif holistik dari pakar medis dr. Mahatmasara Adhiwasa, Sp.OG, pakar psikologi RA Oriza Sativa, S.Psi., Psi., CH., CCR, serta figur publik dan aktivis Prily Soetiman dan Aya Canina.
Pembahasan membedah bagaimana ekspektasi sosial sering kali menjadi beban ganda bagi perempuan dengan gangguan hormonal, serta bagaimana dukungan medis dan psikologis yang tepat dapat memulihkan kualitas hidup mereka.
Aya Canina, selaku pendiri komunitas Kata Nona, menyampaikan poin penting mengenai keberanian berbicara.
"Bersama Daraloka, Kata Nona percaya bahwa membicarakan PMOS secara terbuka adalah bentuk keberpihakan pada perempuan; mengakui ketubuhan dan tantangan psikososial mereka, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan komunitas lain."
Tidak hanya mendengar, peserta juga diajak menyentuh sisi artistik dalam diri mereka melalui dua workshop kreatif bersama Flora Craftee.
Pada sesi "Rangkai Rupa Diri: Bracelet Charm" peserta diajak untuk membuat gelang sebagai simbol keterikatan dan dukungan persahabatan, sementara "Rangkai Rupa Diri: Flower Arrangement" menjadi terapi untuk merawat rasa cinta dan penerimaan terhadap diri sendiri.
Tamananda Lifestyle Park dihangatkan oleh agenda Karaoke Night bertema "No Sad Songs" sebagai penutup, diiringi alunan musik dari DJ Tithanauli, peserta saling bertukar kartu apresiasi bertuliskan "You Made Someone's Night Better".
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


