Ratusan siswa SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang mendapat "kelas tambahan" yang tidak biasa pada Jumat (24/7).
Bukan pelajaran wajib, melainkan pembekalan soal cara bermedia sosial yang sehat, dikemas dalam program bertajuk DIGICARE (Digital Literacy, Empathy, and Privacy for Youth).
Program ini digagas empat dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (Ilkom FISIP UMJ): Syifa Astasia Utari, Sofia Hasna, Winda Dwi Astuti Zebua, dan Velda Ardia Murdiana.
Bentuknya pengabdian kepada masyarakat, tetapi pelaksanaannya juga turut melbatkan mahasiswa mata kuliah Event Management kelas I, termasuk penyusunan rencana, koordinasi tim, eksekusi acara, sampai dengan evaluasi hasil.
Skema ini sengaja dipilih sebagai praktik nyata dari pendekatan Outcome-Based Education yang diterapkan program studi tersebut.
Rektor UMJ Prof. Ma'mun Murod hadir langsung membuka acara. Di hadapan siswa, ia menegaskan bahwa anak muda hari ini adalah calon pemimpin di berbagai tingkatan, dari daerah sampai nasional. Namun, untuk menuju ke sana, sebutnya, dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil, termasuk kemampuan menyaring informasi dan menjaga empati di ruang digital, yang justru menjadi inti dari DIGICARE.
Ma'mun menyoroti isu perundungan yang menurutnya masih marak di kalangan pelajar, dan menyebut empati sebagai salah satu kunci untuk menekannya.
Ia lalu menitipkan tiga pesan sebagai bekal para siswa, yakni menjaga hubungan dengan Tuhan lewat ibadah, mempertahankan prestasi akademik, dan kelak aktif berorganisasi begitu masuk bangku kuliah.
Di sela acara, Ketua Program Studi Ilkom FISIP UMJ, Dr. Oktaviana Purnamasari, memanfaatkan momen untuk memperkenalkan tiga konsentrasi yang ada di program studinya: Advertising, Public Relations, dan Broadcasting.
Dirinya juga menyinggung peluang karier sebagai jurnalis, news anchor, praktisi PR, hingga di agensi periklanan. Kehadiran komunitas radio kampus, Mradio, pada hari itu turut jadi contoh bagaimana mahasiswa Ilmu Komunikasi UMJ mendapat praktik ‘kerja nyata’ sebelum lulus.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tangerang Selatan, Hari Eko Purwanto, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan ini dan membuka peluang kolaborasi lanjutan.
“PDM Tangerang Selatan akan sangat mendukung untuk membuat UMJ Corner di SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang. Semoga acara ini menjadi bagian daripada pendidikan literasi siswa. Kita boleh main HP, kita boleh berinternet, tetapi kita juga harus cerdas dan beretika,” ujarnya.
Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, Dr. Hartono, menilai acara ini memberi manfaat langsung, baik untuk guru maupun murid, mengingat derasnya arus media sosial saat ini.
“Acara DIGICARE ini bermanfaat dan berdampak untuk guru dan anak-anak. Karena memang literasi digital ini penting di zaman maraknya media sosial. Memang harus ada rambu-rambu yang diinfokan sehingga siswa bisa menggunakan media sosial secara bijak,” sebutnya saat diwawancarai Tim Humas DIGICARE, pada Jumat (24/7).
Acara ini turut dihadiri Pengawas dan Penjamin Mutu Perguruan Muhammadiyah Setiabudi Pamulang Hj. Zesmita Umar, jajaran wakil kepala sekolah, serta dosen Ilkom FISIP UMJ lainnya, Asep Rahman Umbara.
DIGICARE 2026 didukung sejumlah pihak, mulai dari Peau Jeune sebagai sponsor, komunitas internal kampus seperti Mradio, Lembaga Musik Pervagatus, Himakom, dan BEM FISIP UMJ, hingga IPM SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang. Sejumlah media turut menjadi mitra pemberitaan, termasuk GNFI.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


