Kawan GNFI, Suasana hangat pedesaan Jambi langsung terasa saat angin malam berembus pelan di hamparan sawah sehabis panen.
Menariknya, para pemuda suku Melayu Tua di Desa Muara Kibul Merangin punya cara yang sangat elegan untuk berkumpul. Bukan lewat hura-hura modern, melainkan melalui tradisi sastra lisan bernama Ampek Gonjie Limo Gonop.
Melalui tradisi unik tersebut, para remaja desa bisa saling berkomunikasi, bersosialisasi, bahkan mencari jodoh dengan cara yang santun.
Sastra lisan tersebut menjadi bukti nyata bahwa sejak dahulu masyarakat agraris di Jambi selalu menjunjung tinggi kehormatan dan etika pergaulan anak muda di atas segalanya.
Filosofi Angka di Balik Bilik Belerong

Ilustrasi perkumpulan para pemuda Pexels | Ega Morgan
Secara harfiah, arti nama tradisi kebanggaan tersebut yaitu "Empat Ganjil Lima Genap". Penamaan unik tersebut merujuk pada aturan utama dalam pertunjukan balas pantun sebagai konsep tradisinya.
Semua kegiatan tradisi tersebut berlangsung di dalam sebuah bilik pertemuan bernama belerong. Bilik tersebut dibuat dari bentangan kain panjang berukuran 2x3 meter. Di dalam bilik rakitan para tetua kampung inilah pergaulan muda-mudi dijaga supaya tidak bebas tanpa batas seperti ivarat kehidupan masyarakat kota.
Formasi pertunjukan tersebut wajib diisi oleh dua pemuda dan dua pemudi yang duduk saling berhadapan. Berdasarkan pembagian yang sudah diatur, jumlah empat remaja tersebut dihitung sebagai angka ganjil.
Susunan posisi empat remaja tersebut mencerminkan keseimbangan sekaligus simbol ketaatan empat remaja terhadap norma adat desa. Menariknya, empat remaja tersebut pantang berinteraksi sebelum hadirnya satu sosok penting sebagai pelengkap.
Para pemuda dan pemudi baru boleh mulai saling melempar bait pantun yang indah saat sang penggenap masuk, sehingga jumlah formasi menjadi genap lima orang.
Sosok penggenap yang hadir yaitu seorang ibu (induk semang) yang memegang kendali penuh jalannya tradisi, mulai dari awal malam sampai fajar menyingsing.
Ketatnya aturan jumlah peserta tersebut menjadi bukti nyata betapa disiplinnya warga desa dalam menjaga tradisi leluhur, tanpa mengurangi keseruan pelaksanaan tradisi rasa syukur sehabis panen.
Kehadiran Sang Penggenap Pelindung Batas Moralitas

Ilustrasi sosok perempuan sepuh bijaksana Pexels | Mehmet Turgut Kirkgoz
Kawan GNFI perlu mengetahui bahwa sosok penggenap yang menyeimbangkan suasana tersebut diperankan oleh seorang ibu atau perempuan dewasa yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
Perempuan sepuh yang hadir tersebut sedang memikul tanggung jawab besar selama proses interaksi muda-mudi berlangsung di dalam bilik belerong. Peran krusialnya tentu bukan untuk mengekang ruang gerak para pemuda, melainkan bertindak sebagai pelindung moral para pemuda.
Pengawasan dari seorang ibu memastikan seluruh prosesi balas pantun berjalan dengan sehat, terhormat, dan terhindar dari hal-hal yang melanggar batas kewajaran. Di sisi lain, pandangannya yang penuh kasih sayang justru menciptakan ruang aman bagi muda-mudi untuk mengekspresikan diri para pemuda yang sebenarnya.
Kehadiran sosok orang tua ibu di tengah-tengah para pemuda tersebut menjadi gambaran indah betapa kokohnya jembatan komunikasi antargenerasi pada Suku Melayu Tua di Merangin.
Diplomasi Pantun Mengasah Rasa dan Kecerdasan

Ilustrasi komunikasi lisan penuh keceriaan Pexels | Mikhail Nilov
Intisari dari kegiatan tradisi Ampek Gonjie Limo Gonop yang dilakukan di balai adat (belerong) tersebut yaitu tradisi berbalas pantun selama semalam suntuk. Tema yang dibawakan pun beragam, mulai dari ungkapan cinta, lika-liku kehidupan, sampai harapan masa depan.
Saat melantunkan pantun indah tanpa iringan musik modern sedikit pun, kemampuan merangkai kata para pemuda Desa Tabir Barat yang mengikuti tradisi tersebut benar-benar diuji.
Rangkaian pantun dimanfaatkan maksimal layaknya seperangkat alat diplomasi canggih untuk melihat kejujuran hati, pola pikir, sampai tingkat sopan santun dari calon pendamping hidup.
Aturan rima dalam tradisi tersebut membuat percakapan semakin seru. Setiap orang dituntut berpikir cepat untuk membalas ucapan lawan bicaranya dengan kalimat yang kreatif, indah, dan memikat pendengar.
Kawan GNFI perlu mengetahui bahwa Ampek Gonjie Limo Gonop terbukti sukses melahirkan generasi muda yang cerdas. Generasi muda tidak hanya pintar berbicara secara logis, tetapi juga mampu menyampaikan pendapat dengan penuh perasaan.
Dinamika perlombaan berbalas pantun menyajikan banyak ragam tema menarik seiring pergantian waktu larut malam menuju awal fajar. Babak awal pertemuan umumnya dipenuhi pantun jenaka bernuansa kegembiraan pelipur lelah pascapanen. Kemudian, disusul dengan suasana syahdu dan penuh perenungan sejenak ketika munculnya mentari pagi.
Berbekal keindahan rima pantun yang dilakukan, para jejaka ksatria dan gadis jelita diajarkan cara mengungkapkan cinta secara terhormat dan sopan sehingga sangat jauh dari kebiasaan buruk. Kekuatan mengolah kepekaan rasa akhirnya mampu menciptakan hubungan sosial yang sangat rukun di masyarakat.
Warisan Takbenda Pemandu Harmoni Generasi Muda

Ilustrasi pelestarian budaya generasi muda Pexels | Nurul Sakinah Ridwan
Tradisi lisan dari pedalaman Pulau Sumatra tersebut berhasil menjaga identitas budaya lokal, bahkan sampai diakui di tingkat nasional. Tradisi kebanggaan masyarakat Desa Muara Kibul tersebut resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2018.
Supaya tidak punah, pemerintah daerah dan berbagai sanggar seni terus menggelar pertunjukan tersebut sebagai sarana belajar bagi generasi muda.
Segala upaya pelestarian sastra tutur tersebut berdampak besar dalam menjaga sejarah dan identitas warga agar tidak hilang ditelan zaman.
Identitas budaya desa tersebut makin kuat berkat komitmen penuh dari pemerintah, tokoh adat, sampai seluruh warga Kecamatan Tabir Barat.
Kawan GNFI perlu memahami bahwa menggali kembali nilai-nilai leluhur ternyata bisa menjadi solusi nyata untuk mengatasi kemerosotan moral remaja di era digital masa kini.
Pesan moral dari rumah adat (belerong) dengan tegas mengingatkan bahwa kemajuan teknologi jangan sampai merusak sopan santun dalam pergaulan. Di sinilah pentingnya peran orang tua untuk terus membimbing langkah generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


