dua warisan suku besemah ghumah baghi dan tadut yang terancam hilang di era modern - News | Good News From Indonesia 2026

Dua Warisan Suku Besemah Ghumah Baghi dan Tadut yang Terancam Hilang di Era Modern

Dua Warisan Suku Besemah Ghumah Baghi dan Tadut yang Terancam Hilang di Era Modern
images info

Afrinaldi Zulhen (wikimedia commons)


Kawan GNFI, di Kota Pagaralam (sebagian menulis dengan Kota Pagar Alam) yang dikelilingi hamparan kebun teh dan kaki Gunung Dempo, ada dua warisan budaya suku Besemah yang perlahan tergerus arus modernisasi, tetapi masih berjuang untuk tetap hidup.

Pertama adalah Ghumah Baghi, rumah adat kayu yang atapnya menjulang tinggi sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhan.

Kedua adalah Tadut, seni tutur lisan yang menjadi media penyampaian nilai-nilai leluhur secara turun-temurun.

Ghumah Baghi, Rumah yang Menyimpan Kosmologi?

Ghumah Baghi adalah warisan budaya Suku Besemah yang kini mulai langka. Keunikannya mencerminkan upaya masyarakat menjaga nilai leluhur agar tetap diwariskan. Selain sebagai tempat tinggal, rumah ini juga merepresentasikan identitas dan karakter khas masyarakat Besemah.

Ciri utamanya adalah atap menjulang, simbol hubungan manusia dengan Tuhan. Keistimewaannya terletak pada unsur bangunan, motif ukiran, dan tata ruang yang mencerminkan kosmologi dan nilai-nilai spiritual masyarakat Besemah secara menyeluruh.

Dalam kamus Besemah, istilah ghumah itu yang artinya adalah "rumah", sedangkan baghi jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah "lama" atau "terdahulu".

Artinya ghumah baghi itu dimaksudkan rumah lama atau rumah yang bersejarah dan masih berdiri kokoh sampai saat ini. Rumah adat ini dipertahankan karena bernilai warisan dan masyarakat berasumsi bahwa warisan merupakan barang yang harus dijaga.

Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Palembang yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah mengkaji pelestarian Ghumah Baghi di Kelurahan Pelang Kenidai, Kota Pagaralam. Dalam kajian ini, ditemukan bahwa meski jumlah Ghumah Baghi terus berkurang seiring generasi tua yang meninggal dan anak-anak mereka memilih membangun rumah modern. 

Namun, ada komunitas-komunitas kecil yang dengan gigih mempertahankan rumah adat ini sebagai bagian dari identitas mereka yang tidak bisa diperjualbelikan.

baca juga

Tadut: Seni Tutur yang jadi Jembatan Generasi

Selain Ghumah Baghi, Suku Besemah juga memiliki tradisi seni tutur yang disebut Tadut. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam (2023) berjudul "Tadut: Eksistensi Seni Tutur Bahasa Besemah Era Modern" mengkaji bagaimana seni tutur ini bertahan di tengah gempuran budaya populer dan modernisasi yang terus menggerus minat generasi muda terhadap seni tradisional.

Tadut adalah salah satu tradisi lisan khas Besemah yang disampaikan dalam bahasa Besemah dengan irama dan melodi tertentu, biasanya dibawakan dalam berbagai upacara adat.

Melalui Tadut, nilai-nilai moral, sejarah, dan kearifan lokal Besemah disampaikan dari generasi ke generasi dalam format yang menarik dan mudah diingat. Ia adalah media pendidikan tradisional yang telah berfungsi selama berabad-abad sebelum sekolah formal ada.

Pantawan Bunting: Tradisi yang Merayakan Solidaritas

Di antara berbagai tradisi Suku Besemah, Pantawan Bunting adalah salah satu yang paling semarak dan paling mencerminkan nilai-nilai sosial masyarakat Besemah.

Tradisi Pantawan Bunting adalah tradisi sosial yang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Besemah di Kota Pagaralam sebagai bentuk ekspresi solidaritas komunal yang paling nyata.

Dalam tradisi ini, seluruh anggota komunitas berpartisipasi dalam proses pernikahan, bukan hanya sebagai tamu yang datang memberi selamat, melainkan sebagai bagian aktif dari persiapan dan pelaksanaan upacara.

Prinsip pertukaran sosial yang mendasari tradisi ini mencerminkan nilai gotong-royong yang sudah menjadi DNA masyarakat Besemah selama berabad-abad.

baca juga

Terancam oleh Modernisasi, Dijaga oleh Kecintaan

Dalam 40 tahun terakhir, terutama di atas tahun 2000-an, berbagai bencana terjadi di sepanjang DAS Lematang yang merupakan ruang hidup Suku Besemah. Tekanan ganda antara modernisasi dan bencana alam telah mempercepat erosi budaya tradisional Besemah.

Namun di balik tantangan itu, ada komunitas-komunitas yang terus berjuang melestarikan Ghumah Baghi, Tadut, dan Pantawan Bunting sebagai penanda identitas yang tidak boleh hilang.

Kawan GNFI, kisah suku Besemah adalah kisah tentang ketangguhan identitas budaya di tengah perubahan yang tak terelakkan.

Ghumah Baghi yang atapnya menjulang tinggi, Tadut yang iramanya mengalun dalam upacara adat, dan Pantawan Bunting yang mengumpulkan seluruh komunitas dalam suka cita bersama, semuanya adalah jembatan yang menghubungkan Pagaralam masa kini dengan leluhurnya yang membangun peradaban megalitik ribuan tahun silam.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.