Usia 20-an sering digambarkan sebagai masa penuh energi dan kemungkinan. Kita pun jadi termotivasi untuk melakukan banyak hal. Namun, di sisi lain, usia 20-an juga jadi masa ketika kelelahan datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Kelelahan yang dimaksud bukan kelelahan biasa, melainkan kelelahan yang menumpuk sampai terasa seperti kehilangan arah.
Fenomena ini punya nama, yaitu burnout. Hal yang mengejutkan dari burnout adalah bahwa mereka tidak lagi eksklusif milik pekerja senior. Semakin banyak anak muda, bahkan yang baru satu-dua tahun bekerja, mengalaminya.
Mengapa Usia 20-an jadi Rentan?
Bayangkan seseorang berusia 25 tahun. Di LinkedIn, kariernya terlihat menanjak. Di Instagram, hidupnya terlihat seru. Namun di balik itu, dia bangun setiap pagi dengan rasa berat yang sulit dijelaskan dan mulai bertanya-tanya, "Untuk apa semua ini?".
Ini adalah pola yang makin sering dijumpai di kalangan pekerja muda, terutama di kota besar dengan tekanan karier tinggi.
Ada beberapa tekanan unik yang dihadapi generasi saat ini:
FOMO karier. Melihat teman sebaya promosi atau memulai bisnis sendiri memicu rasa harus "mengejar ketertinggalan", padahal setiap perjalanan karier punya ritmenya sendiri.
Media sosial sebagai etalase pencapaian. Feed yang penuh pencapaian orang lain membuat standar sukses terasa harus dicapai lebih cepat dan lebih muda.
Budaya hustle. Kebiasaan mengisi waktu dengan magang dan proyek sampingan membuat ritme "selalu sibuk" terlanjur jadi kebiasaan saat masuk dunia kerja.
Growth mindset yang kebablasan. Semangat berkembang itu bagus. Akan tetapi, tanpa ruang untuk berhenti sejenak, semangat tersebut berubah jadi tekanan tanpa henti.
Fenomena ini sudah meluas di kalangan anak muda. Survei Eagle Hill Consulting terhadap pekerja Amerika Serikat pada 2025 menemukan tingkat burnout tertinggi ada di generasi Z, yakni 66 persen, diikuti milenial di angka 58 persen, di atas generasi X (53%) dan Baby Boomers (37%).
Riset UKG di tahun 2024 terhadap hampir 13 ribu pekerja garis depan di 11 negara juga mencatat generasi Z paling sering merasa burnout dibanding generasi lain.
Di Indonesia, gambarannya tidak jauh berbeda. Survei Workplace Happiness Index oleh Jobstreet pada akhir 2025 mencatat 43 persen pekerja Indonesia mengaku pernah burnout, bahkan di antara yang mengaku bahagia dengan pekerjaannya.
Laporan yang dirujuk Human Care Consulting menyebut lebih dari separuh karyawan Indonesia mengalami kelelahan kerja kronis, dengan generasi Z sebagai kelompok paling rentan.
Psikolog klinis Phoebe Ramadina, mengutip ANTARA, menyoroti bagaimana budaya hustle tanpa jeda membuat tubuh dan pikiran mengalami kelelahan kronis jangka panjang.
Singkatnya, burnout tidak hanya mempengaruhi kehidupan personal, melainkan kehidupan profesional kita. Lebih lanjut, burnout menjadi fenomena yang “normal”, dan menjadi indikasi bahwa kita bekerja keras.
Ketika Ambisi jadi Bumerang
Ambisi tanpa batas bisa membuat seseorang mengabaikan sinyal dari tubuh dan pikirannya sendiri. Rasa lelah dianggap kemalasan, kebutuhan berhenti sejenak dianggap kurang berdedikasi. Padahal ambisi yang sehat seharusnya punya ruang untuk jeda.
Sukses yang dikejar dengan mengorbankan kesehatan mental cenderung sulit dinikmati, bahkan ketika akhirnya tercapai.
Tidak ada cara instan keluar dari burnout. Yang lebih penting adalah menata ulang beberapa hal:
Definisi ulang arti sukses. Cari tahu apa yang benar-benar penting buat diri sendiri, bukan standar orang lain.
Batasan kerja-hidup yang jelas. Bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan, misalnya jam kerja yang konsisten dan dihormati.
Mengenali kapan butuh bantuan profesional. Burnout yang dibiarkan bisa berkembang jadi masalah mental yang lebih serius. Berbicara dengan psikolog bukan tanda kelemahan.
Ambisi Boleh, tetapi Perlu Rem
Punya ambisi bukan sesuatu yang salah. Hal yang patut kita pertanyakan adalah ketika ambisi berjalan tanpa jeda, tanpa ruang mendengarkan diri sendiri. Usia 20-an memang masa membangun banyak hal, tapi bukan berarti harus mengorbankan kesehatan mental sebagai taruhannya.
Kadang, langkah paling produktif justru adalah berhenti sejenak, dan bertanya pada diri sendiri: kita sedang berlari menuju apa, dan demi siapa?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

