Di era sekarang, umumnya masyarakat telah menggunakan jam digital maupun analog sebagai penunjuk waktu. Namun, jauh sebelum itu, masyarakat suku Karo telah memiliki sistem pembagian waktu tradisional yang menjadi pedoman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Masyarakat suku Karo menentukan waktu berdasarkan petunjuk alam, seperti perubahan iklim, posisi matahari, suasana lingkungan, hingga kebiasaan makhluk hidup.
Kawan GNFI yang penasaran dengan pembagian waktu dalam suku Karo, simak artikel ini, ya.
Mengenal Suku Karo
Suku Karo merupakan salah satu dari sekian banyak suku yang mendiami Provinsi Sumatra Utara. Dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS), suku Karo masih memiliki kekerabatan dengan suku Batak. Bedanya, Suku Karo punya bahasa sendiri yang disebut bahasa Karo atau Ercakap Karo, serta sistem kekerabatan yang dikenal dengan nama Merga Silima (kemudian ada Rakut Sitelu dan Tutur Siwaluh).
Merga Silima sendiri terdiri dari lima kelompok marga utama, yaitu Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Perangin-angin. Kelima marga tersebut menjadi dasar dalam hubungan sosial masyarakat Karo, termasuk dalam pelaksanaan berbagai kegiatan adat.
Bagi masyarakat Karo, marga bukan hanya sekadar nama keluarga yang diturunkan dari orang tua, tetapi juga menjadi penanda hubungan kekerabatan. Melalui Merga Silima, masyarakat Karo dapat mengetahui hubungan satu sama lain dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk menentukan peran seseorang dalam acara adat.
Sistem kekerabatan ini hingga kini masih terus dipertahankan oleh masyarakat Karo sebagai bagian dari warisan budaya leluhur yang membedakan mereka dengan kelompok masyarakat lainnya.
Asal-usul masyarakat Karo diperkirakan berasal dari perpaduan kelompok-kelompok Austronesia yang bermigrasi ke daerah pegunungan Sumatra. Kelompok ini kemudian menetap dan berkembang menjadi masyarakat yang kini dikenal sebagai suku Karo atau Kalak Karo.
Pembagian Waktu Suku Karo
Masyarakat modern umumnya membutuhkan jam tangan atau gawai jika ingin mengetahui pembagian waktu. Namun, sejak zaman dahulu, masyarakat Karo telah memiliki penamaan waktu yang menjadi pedoman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dari pagi hingga malam.
Dalam buku Adat Karo, Darwan Prinst menjelaskan bahwa masyarakat tersebut telah mengenal sistem pembagian waktu tradisional. Berikut pembagian waktu dalam tradisi suku Karo:
- Erpagi-pagi sekitar pukul (06.00—09.00) merupakan waktu pagi ketika masyarakat memulai aktivitas seperti berangkat bekerja, pergi berladang "juma" atau sekedar memasak di rumah.
- Pengului Sekitar Pukul (09.00—11.00) Pengului menandakan waktu sudah hampir memasuki tengah hari, intensitas pekerjaan masyarakat sedang tinggi-tingginya.
- Ciger sekitar pukul (11.00—13.00) memasuki waktu ini biasanya digunakan masyarakat untuk istirahat makan siang setelah lelah berladang.
- Linge Sekitar pukul (13.00—15.00) Waktu setelah tengah hari hingga awal sore, masyarakat kembali melakukan aktivitasnya.
- Karaben sekitar pukul (15.00–17.00) Waktu sore ketika masyarakat mulai menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke rumah.
Pembagian Waktu Malam
- Berngi sekitar pukul (18.00–00.00) Menunjukkan waktu malam hingga menjelang tengah malam. Uniknya para petani biasanya akan bersama-sama pergi ke warung kopi "kede kopi" untuk sekadar minum kopi dan berbincang "ercakap-cakap" setelah seharian lelah berladang
- Tengah Berngi (00.00) menandakan sudah tengah malam.
- TekuakManukSekali (01.00) Waktu ayam mulai berkokok pertama.
- Tekuak Manuk Dua Kali (02.00) ditandai dengan kokok ayam kedua.
- Tekuak Manuk Telu Kali (03.00) ditandai dengan kokok ayam ketiga.
- Tekuak Manuk, Mbincar Matawari (04.00–06.00) Waktu menjelang matahari terbit hingga fajar menyingsing.
Penamaan Waktu Tradisional yang Masih Lestari Hingga Kini
Di tengah gempuran teknologi yang kian pesat, faktanya hingga saat ini masih banyak masyarakat Karo yang masih menggunakan istilah-istilah tersebut dalam menunjukkan waktu.
Jika Kawan GNFI berkunjung ke Sumatra Utara, khususnya daerah yang didiami suku Karo seperti Berastagi, Kawan akan mudah menjumpai masyarakat yang masih sering menuturkan bahasa tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

