Gelaran ke-10 dari 100% Manusia Film Festival resmi dimulai. Mengangkat tema "A Decade of Love Language", program yang berlangsung dari 6–15 Agustus 2026 ini turut menghadirkan 62 film dan berbagai medium kreatif sebagai ruang berbagi cerita, memperluas perspektif, dan merawat empati.
Semua film bisa dinikmati gratis di 11 tempat di Jakarta, Jogja, dan Bali. Bukan hanya film karya sineas lokal, gelaran kali ini juga menayangkan film dari 21 negara.
Film Pendek Pilihan pada Malam Pembukaan
Malam pembukaan 100% Manusia Film Festival sendiri bertempat di Erasmus Huis Jakarta. Bukan hanya sambutan dari kepala program, acara pembukaan tahun ini turut menayangkan "100% Love Language".
Program tersebut merupakan sebuah kompilasi enam film pendek karya sineas Indonesia yang merepresentasikan beberapa bentuk kasih sayang, keberanian kehilangan, penerimaan, hingga harapan. Meski genrenya berbeda-beda, keenam film ini memiliki satu benang merah, yaitu perasaan.
Pada film pertama yang berjudul Waktu Luang karya Satria Dhesto Wicaksana, penonton diajak untuk turut merasakan kerinduan ibu yang ditinggal merantau oleh anak perempuannya. Lewat narasi sederhana yang menunjukkan adegan panggilan video sang anak untuk mengucapkan ulang tahun pada ibunya, film ini berhasil menunjukkan perasaan lewat ekspresi dan gestur badan dari pemeran utamanya.
Adapun film lainnya yang berhasil membuat penonton cukup berekspresi saat penayangan adalah film Parade si Rambo karya Axel Wesiang. Film ini menceritakan seorang lelaki paruh baya yang dihantui oleh tekanan dan ketakutan karena masalah kesuburannya. Tekanan dan kecemasan tersebut kemudian mendorongnya untuk melakukan hal ekstrem yang malah berujung merugikan dirinya.
Yang menariknya lagi, film ini juga menyimpan sindiran terhadap kehidupan nyata yang sering terjadi di era sekarang. Satu hal sederhana yang menjadi konflik cerita adalah adegan si lelaki melihat poster promosi.
Dirinya salah mempersepsikan dan baru menyadari kekeliruannya setelah beberapa kali mencoba, tetapi tidak merasakan efeknya. Hal ini sama seperti realitas pengguna media sosial saat ini yang sering kali terkecoh dengan konten-konten clickbait sebelum membaca konteksnya secara keseluruhan.
Sambutan 4 Kepala Program 100% Manusia Film Festival 2026 di Erasmus Huis Jakarta | Dok. 100% Manusia Film Festival
“Film-film pendek yang terpilih sebagai pembuka festival dalam program 100% Love Language ini memperlihatkan kisah-kisah cinta di masyarakat kita yang majemuk dan hadir dalam berbagai bentuk, cerita, dan rasa. Lewat enam film pendek Indonesia ini, kami ingin mengajak penonton melihat bahwa memahami pengalaman orang lain adalah bagian dari memahami pesan kemanusiaan,” ujar Meninaputri Wismurti, Kepala Program 100% Manusia Film Festival.
Lokasi dan Jadwal Penayangan Filmnya
Memasuki satu dekade penyelenggaraan, 100% Manusia Film Festival terus mengajak masyarakat menjadikan film sebagai titik awal percakapan mengenai kemanusiaan, keberagaman, dan hak asasi manusia. Tahun ini programnya terbagi menjadi pemutaran film, diskusi dengan sutradara dan film expert, pameran, lokakarya, hingga berbagai kegiatan komunitas digelar digelar di tiga kota besar.
Di Jakarta dan Bali, rangkaian program berlangsung di lima lokasi, sedangkan di Jogja, seluruh programnya bisa dihadiri di IFI Jogja. Adapun lokasi acara, jadwal pemutaran, dan reservasi tiketnya dapat dilihat melalui laman webnya, 100persenmanusia.com.
Tentang 100% Manusia Film Festival
100% Manusia Film Festival dicetuskan pada 2017 dari organisasi nonprofit, Bhinneka Cipta Setara (BCS), dengan semangat membebaskan manusia dari label, stereotipe, prasangka, dan stigma lewat kekuatan film dan media kreatif.
Festival bertema hak asasi manusia internasional ini digerakkan oleh para relawan dari beragam latar belakang profesi, menyatukan diri dalam satu visi: mewujudkan Indonesia yang toleran, rumah yang damai bagi semua orang tanpa diskriminasi.
Tak berhenti di situ, BCS juga turut memberikan dukungannya kepada festival-festival film lain di Indonesia yang mengangkat perspektif sosial serupa, seperti Europe on Screen, 16 FilmFestival, dan Bebas Batas Festival.
Mereka sendiri terus aktif menjalin kolaborasi lintas batas, baik dengan festival film lokal maupun internasional, komunitas film, sekolah film, hingga generasi sineas muda, demi memperluas jangkauan dan dampak dari misi kemanusiaan yang mereka usung
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


