Praktik pertanian organik di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, kini punya wajah baru. Lewat program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University 2026, sekelompok mahasiswa menghadirkan dua solusi yang saling melengkapi bagi petani setempat: burung hantu sebagai pengendali hama, dan pupuk dari kotoran sapi sebagai penyubur tanah.
Sahabat Sawah, Pengendalian Hama Terpadu yang Ramah Lingkungan
Tikus sawah (Rattus argentiventer) selama ini dikenal sebagai salah satu hama utama yang mengancam produktivitas padi di berbagai daerah, termasuk Blora. Menurut data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, kehilangan hasil panen padi akibat serangan tikus sawah di Indonesia diperkirakan mencapai 200.000—300.000 ton per tahun.
Menjawab persoalan ini, mahasiswa KKNT Inovasi IPB menginisiasi program bernama Sahabat Sawah, yang menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memadukan metode hayati dan pengendalian ramah lingkungan lainnya. Salah satu andalannya adalah pemanfaatan predator alami, yaitu burung Serak Jawa atau Barn Owl(Tyto alba), yang menurut sumber yang sama mulai diberdayakan di berbagai daerah untuk menanggulangi hama tikus.
Bekerja sama dengan Kelompok Tani Sido Makmur di Dusun Kedungpereng yang juga menjadi bagian dari Kelompok Tani Organik Mugi Rahayu binaan Yayasan Bina Trubus Swadaya (BTS) mahasiswa memetakan titik-titik rawan hama, lalu membangun dan memasang tenggeran atau tempat bertengger bagi Serak Jawa di area persawahan. Tenggeran ini diyakini dapat memperluas jangkauan berburu burung tersebut, sehingga kehadirannya di sekitar sawah diharapkan bisa menekan populasi tikus secara alami dan berkelanjutan.
Sebelum kegiatan, tim juga menjalankan penyuluhan kepada kelompok tani mengenai manfaat serta cara pengelolaan tenggeran, dilengkapi pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman peserta. Total ada sebelas tenggeran Serak Jawa yang kini berdiri di lahan pertanian Gondel, hasil kerja bersama mahasiswa dan kelompok tani setempat.
Selain mengandalkan predator alami, Sahabat Sawah juga melengkapi strategi PHT-nya dengan membagikan dua produk pengendali hama berbahan alami kepada petani. Pertama, Bioyoso, racun tikus yang diracik dari bekatul, kulit pohon kamboja, ragi tape, umbi gadung, ikan segar, dan beras. Kedua, Momotaro, pembasmi hama yang terbuat dari air, buah bintaro, batang brotowali, dan daun wali songo, yang bekerja membasmi wereng, sundep, ulat, kutu daun, dan walang sangit sekaligus mengusir tikus dari area persawahan. Kedua produk ini dapat terurai secara alami, sehingga sejalan dengan semangat pertanian organik yang diusung program ini.
Zainudin, anggota Kelompok Tani Sido Makmur sekaligus Ketua Kelompok Tani Organik Mugi Rahayu, menyampaikan harapannya agar program ini dapat membantu petani menangani hama tikus secara ramah lingkungan, serta dapat berjalan efektif dan berkelanjutan bagi petani Desa Gondel.
Mupuk Gondel, Sinergi Menuju Pertanian Organik Berkelanjutan
Selain persoalan hama, limbah kotoran sapi yang menumpuk di kandang-kandang warga turut jadi perhatian. Program kedua, Mupuk Gondel atau Masyarakat Unggul Produksi Pupuk Organik di Desa Gondel, hadir untuk mengubah limbah tersebut menjadi pupuk organik yang bernilai guna dan ekonomi.
Program ini digarap bersama Yayasan Bina Trubus Swadaya (BTS), lembaga yang menaungi Majalah Trubus dan telah lebih dari lima dekade bergerak dalam pemberdayaan petani serta edukasi pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Menariknya, kelompok binaan BTS yang digandeng dalam Mupuk Gondel tak lain adalah kelompok yang sama dengan mitra Sahabat Sawah, Kelompok Tani Organik Mugi Rahayu dan Kelompok Tani Organik Sri Saketi sehingga kedua program ini sekaligus menyasar penerima manfaat yang sama dari dua sisi berbeda. Kolaborasi dimulai dengan survei lokasi bersama tim BTS, sebelum pertemuan pelatihan pertama digelar keesokan harinya.
Dalam pertemuan itu, ibu-ibu Kelompok Tani Organik binaan BTS diajak memahami cara mengolah limbah ternak menjadi dua jenis pupuk sekaligus: pupuk organik padat dari feses sapi, serta pupuk organik cair yang diolah dari campuran urine hewan ternak dan kotoran padat. Prosesnya mencakup penyampaian materi, praktik langsung, hingga sesi tanya jawab, sebelum hasil pupuk dikemas agar bisa langsung dimanfaatkan warga maupun dijual sebagai sumber pemasukan tambahan.
"Program ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan dan berkelanjutan. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya berhenti setelah program KKN-T selesai, tetapi dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan menjadi peluang usaha atau bisnis sampingan bagi keluarga," ujar Filahul Anis, peserta pelatihan Mupuk Gondel, di Desa Gondel, Minggu (12/7/2026). Ia menambahkan bahwa program ini memberi ilmu dan pengetahuan baru yang bisa langsung diterapkan sehari-hari, apalagi bahan baku seperti feses sapi mudah didapat dan tersedia cukup banyak di lingkungan sekitar, sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik alih-alih terbuang sia-sia.
Sinergi Dua Program demi Pertanian Organik Desa Gondel
Sahabat Sawah dan Mupuk Gondel sekilas berjalan terpisah, tetapi keduanya menopang satu visi yang sama, yakni pertanian organik yang berkelanjutan di Desa Gondel. Sahabat Sawah menjaga hasil panen di hulu dengan mengurangi ketergantungan pada racun kimia, sementara Mupuk Gondel menyiapkan input organik yang menyuburkan tanah tanpa mencemari lingkungan.
Kolaborasi ini juga tidak lepas dari dukungan sejumlah pihak, mulai dari IPB University, Yayasan Bina Trubus Swadaya, hingga Pemerintah Kabupaten Blora, yang sama-sama melihat potensi Desa Gondel sebagai basis pertanian organik yang mandiri.
"Program ini bukan sekadar meninggalkan sebuah bangunan berupa tenggeran, tetapi juga meninggalkan ilmu, kepedulian, dan semangat untuk membangun pertanian Desa Gondel yang lebih maju," ujar Suko Hadiwiyono, Kepala Desa Gondel, saat meresmikan tenggeran Serak Jawa di Desa Gondel, Selasa (21/7/2026).
Dalam sambutannya, Suko juga berharap program ini terus dirawat dan diamati perkembangannya. Jika hasilnya baik, ia menilai bukan tidak mungkin pemasangan tenggeran dapat diperluas ke wilayah persawahan lain di Desa Gondel.
Fakta bawa Sahabat Sawah dan Mupuk Gondel sama-sama bersentuhan dengan kelompok tani eksisting dan kelompok tani organik memperkuat gambaran bahwa kedua program ini bukan sekadar berjalan beriringan, melainkan benar-benar saling menopang bagi satu kelompok petani yang sama di sawah maupun di kandang.
Bagi Kawan GNFI yang tertarik dengan kisah pemberdayaan semacam ini, Desa Gondel menunjukkan bahwa pertanian organik tidak selalu lahir dari satu solusi besar. Kadang, ia tumbuh dari dua langkah kecil yang saling menopang: burung hantu yang menjaga sawah, dan kotoran sapi yang menyuburkan tanah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


