belajar berkawan tanpa perundungan mengapa edukasi bullying perlu dimulai sejak sd - News | Good News From Indonesia 2026

Belajar Berkawan Tanpa Perundungan, Mengapa Edukasi Bullying Perlu Dimulai Sejak SD?

Belajar Berkawan Tanpa Perundungan, Mengapa Edukasi Bullying Perlu Dimulai Sejak SD?
images info

Dokumentasi KKN Kelompok 65


Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar, bermain, dan membangun pertemanan. Namun, di tengah interaksi sehari-hari, perilaku seperti mengejek, memberikan julukan, mengucilkan, hingga melakukan kekerasan fisik masih dapat ditemukan dalam lingkungan anak-anak. Tidak jarang, perilaku tersebut justru dianggap sebagai candaan biasa.

Padahal, candaan yang membuat seseorang merasa takut, tertekan, atau terluka tidak lagi dapat dipandang sebagai hal sepele. Perundungan atau bullying dapat memberikan dampak yang lebih panjang bagi anak, termasuk terhadap kondisi psikologis dan proses belajarnya.

Berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2021 yang dikutip Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sebanyak 24,4 persen peserta didik berpotensi mengalami insiden perundungan di satuan pendidikan.

Data tersebut menunjukkan bahwa perundungan merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam lingkungan pendidikan.

Persoalan ini juga tidak hanya terjadi pada jenjang pendidikan menengah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pernah mencatat bahwa dari 37 kasus perundungan yang diterima pada Januari-April 2019, sebanyak 25 kasus atau 67 persen melibatkan siswa sekolah dasar.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa edukasi mengenai perundungan perlu diberikan sejak anak berada di bangku sekolah dasar.

baca juga

Mengenali Bullying Sejak Dini

Kawan GNFI, bullying tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Perundungan dapat dilakukan melalui perkataan, tindakan, maupun pengucilan yang membuat seseorang merasa tertekan atau tidak nyaman.

Ejekan mengenai kondisi fisik, pemberian julukan yang merendahkan, menyebarkan cerita yang mempermalukan teman, sengaja mengucilkan seseorang dari kelompok, hingga tindakan memukul atau mendorong merupakan beberapa contoh perilaku yang perlu dikenali oleh anak.

UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa bullying dapat berdampak terhadap kesehatan mental dan emosional anak. Anak yang mengalami perundungan dapat merasa cemas, tertekan, kehilangan kepercayaan diri, hingga mengalami kesulitan dalam mengikuti aktivitas di sekolah.

Dampaknya pun tidak selalu dapat langsung terlihat. Seorang anak yang menjadi korban perudungan mungkin tidak selalu menceritakan apa yang dialaminya kepada orang tua atau guru.

Perubahan perilaku, menarik diri dari pergaulan, kehilangan semangat untuk pergi ke sekolah, atau kesulitan berkonsentrasi dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan oleh lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, mengenalkan bullying kepada anak sejak dini menjadi langkah penting. Anak perlu mengetahui perilaku apa saja yang termasuk perundungan, memahami dampaknya terhadap orang lain, serta mengetahui tindakan yang dapat dilakukan ketika mereka menjadi korban maupun ketika melihat temannya mengalami perundungan.

Mengajarkan Anak untuk Tidak Diam

Pencegahan bullying tidak cukup hanya dengan mengajarkan anak untuk tidak menjadi pelaku. Anak juga perlu memahami bahwa mereka memiliki peran ketika melihat temannya diperlakukan secara tidak baik.

Tidak ikut menertawakan teman yang sedang diejek, membantu korban menjauh dari situasi tersebut, serta melaporkan kejadian kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya merupakan beberapa tindakan sederhana yang dapat dilakukan.

Lingkungan sekolah juga memiliki peran penting dalam menciptakan rasa aman bagi anak. Guru perlu menjadi sosok yang dapat dipercaya ketika siswa ingin menceritakan pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman.

Di sisi lain, orang tua juga perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita mengenai apa yang terjadi di sekolah.

Dengan demikian, pencegahan bullying bukan hanya menjadi tanggung jawab korban maupun pelaku. Teman sebaya, guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang saling menghargai.

baca juga

Edukasi Anti-Bullying di SDN Ciranjang Girang 2

Kesadaran mengenai pentingnya mengenali dan mencegah bullying sejak dini menjadi latar belakang dilaksanakannya seminar anti-bullying di SDN Ciranjang Girang 2, Desa Neglasari, pada Jumat (7/8/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKN-SISDAMAS Kelompok 65 UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut ditujukan kepada seluruh siswa SDN Ciranjang Girang 2. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada pengertian bullying, bentuk-bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, serta cara mencegah dan menghadapi perilaku tersebut.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia siswa agar pembahasan mengenai bullying dapat dipahami secara sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Metode yang digunakan sangat interaktif dan juga menyenangkan untuk siswa SD yaitu dengan diskusi, permainan, kuis, simulasi, video edukasi dan tanya jawab.

Antusiasme siswa terlihat ketika kami mahasiswa KKN memasuki ruangan anak anak sangat antusias untuk mengikuti seminar ini. Melalui seminar ini, siswa diajak untuk mengenali berbagai situasi yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari dan menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi tersebut.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Ciranjang Girang 2 Ibu Rahmawati menyampaikan bahwa kondisi bullying di sekolah sudah sering terjadi dan dampaknya sangat buruk terhadap kondisi mental anak.

Oleh karena itu pentingnya edukasi anti perundungan. Harapannya, setelah seminar ini para siswa SDN Ciranjang Girang 2 mendapatkan ilmu tentang bahayanya bullying dan dampaknya.

Membangun Sekolah yang Aman Dimulai dari Hal Sederhana

Seminar anti-bullying bukanlah satu-satunya cara untuk menghentikan perundungan. Edukasi perlu diteruskan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.

Menghargai perbedaan, menjaga perkataan, tidak menjadikan kekurangan teman sebagai bahan lelucon, berani membela teman yang diperlakukan tidak baik, serta tidak takut untuk meminta bantuan merupakan langkah kecil yang dapat dilakukan oleh anak.

baca juga

Pada akhirnya, mencegah bullying bukan hanya tentang menghentikan tindakan ketika perundungan sudah terjadi. Lebih jauh, pencegahan berarti membangun budaya sekolah yang membuat setiap anak merasa dihargai dan aman.

Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik. Di dalamnya, anak juga belajar mengenal empati, membangun pertemanan, menghargai perbedaan, dan memahami bagaimana memperlakukan orang lain.

Dari hal sederhana seperti memilih kata yang baik kepada teman, budaya saling menghargai dapat mulai tumbuh. Sebab, setiap anak berhak belajar dan bertumbuh di lingkungan yang aman, tanpa rasa takut menjadi sasaran perundungan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.