kisah rina marlina art disabilitas bergaji 150 ribu per bulan yang jago bulu tangkis dan berprestasi di asean para games - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Rina Marlina, ART Disabilitas Bergaji 150 Ribu Per Bulan yang Jago Bulu Tangkis & Berprestasi di ASEAN Para Games

Kisah Rina Marlina, ART Disabilitas Bergaji 150 Ribu Per Bulan yang Jago Bulu Tangkis & Berprestasi di ASEAN Para Games
images info

Rina Marlina, atlet para bulu tangkis Indonesia./Kemenpora


Hidup Rina Marlina sungguh bagaikan plot twist. Dari yang awalnya bekerja sebagai asisten rumah tangga, ia kemudian menjadi atlet yang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional.

Rina Marlina adalah atlet para bulu tangkis alias varian olahraga bulu tangkis yang dimainkan oleh atlet penyandang disabilitas fisik asal Desa Ciakar, Cibeureum, Tasikmalaya, Jawa Barat. Saat ini, ia dikenal sebagai salah satu atlet paling cemerlang milik Indonesia yang namanya tersohor hingga kancah ASEAN.

Siapa sangka, di balik nama besar Rina di dunia para bulu tangkis saat ini, ada pahitnya hidup yang pernah dialaminya. Itu terjadi pada 2009, saat ia harus bekerja sebagai buruh dan asisten rumah tangga (ART) untuk bertahan hidup.

"Semenjak bapak enggak ada, saya sama ibu kerja jadi ART sekitar 2009-2010. Upahnya dulu itu kalau enggak salah Rp150 ribu atau Rp300 ribu saya lupa, bukan per hari tapi per bulan," kata Rina.
Rina menceritakan pengalaman tersebut saat berlaga dalam laga final nomor Women's Single SH6 ASEAN Para Games 2025 Thailand lalu. Saat itu, ia bermain melawan wakil tuan rumah Thailand untuk memperebutkan medali emas di SPADT 80th Anniversary Stadium, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (25/1/2026) siang.

Sejak kecil, hidup Rina sebetulnya sudah amat keras. Bagaimana tidak, ia sudah mengalami keterbatasan fisik sejak lahir dan keluarganya pun tergolong tidak mampu. Almarhum ayahnya bekerja sebagai tukang becak, sementara ibunya berjualan cimol.

Di tengah kerasnya kehidupan yang harus dijalani, Rina menyimpan kecintaan mendalam terhadap bulu tangkis. Awalnya, ia kerap dipercaya menjadi wasit saat ada pertandingan di gelanggang olahraga dekat rumahnya. Dari situlah, impian untuk menjadi atlet bersemi.

Kala itu, Rina membayangkan apabila ia bisa berlaga dengan disaksikan banyak penonton. Tak hanya sekadar bermimpi, ia berusaha mewujudkan impiannya itu dengan berlatih tekun.
Jangan bayangkan juga Rina berlatih dengan fasilitas dan program yang mumpuni layaknya atlet sungguhan. Latihan dijalaninya dengan penuh keterbatasan. Ia bahkan sempat berlatih dengan menggunakan piring seng karena tidak mampu membeli raket.

"Dekat rumah ada GOR bulutangkis, saya sering jadi wasit buat uang jajan. Saat yang lain istirahat, saya coba main dan akhirnya saya termotivasi. Dulu saya masih pakai piring seng yang buat makan itu, karena belum punya modal beli raketnya," kata Rina.

Meskipun penuh keterbatasan, Rina tak mau menyerah untuk menggapai mimpi. Setapak demi setapak, prestasi ditorehkannya. Dimulai dari juara di level daerah yang berlanjut ke tingkat nasional, ia dipercaya untuk masuk ke pelatnas pada 2019.

"Di pikiran saya, suatu saat nanti saya bakal bisa main di tengah lapangan dikerumuni dan ditonton banyak orang. Sebelum masuk pelatnas, saya sempat Peparda di Bogor dapat emas, Kejurnas (2019) dapat emas, dan 2019 awal saya dipanggil pelatnas," tambah Rina.

Tempaan di pelatnas memberi Rina kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam ajang-ajang besar di dunia. Di sini, namanya kemudian dikenal publik internasional sebagai pebulu tangkis dengan kemampuan dan prestasi cemerlang.

Pada 2022, Rina meraih masing-masing dua emas dari ASEAN Para Games di Surakarta dan Kejuaraan Dunia Para Bulu Tangkis di Tokyo. Tahun berikutnya, ia mendapat satu emas dan satu perak dari Asian Para Games di Tiongkok. Dalam tiga ajang tersebut, ia tampil di nomor tunggal putri dan ganda campuran.

Pada 2024, giliran Paralimpiade Paris yang jadi panggung Rina. Di pesta olahraga bergengsi itu, ia mendapat perunggu dari nomor ganda campuran SH6. Jadilah koleksi medali Rina lengkap karena semua ajang besar internasional sudah ditaklukannya.

Kadang, kemenangan Rina juga diraih dengan cara yang mencengangkan. Final ASEAN Para Games 2025 adalah contohnya, di mana ia berhasil memenangi laga final dengan amat meyakinkan. Tak tanggung-tanggung, ia melibas lawannya dua set langsung dengan skor super telak yang bisa bikin mata penonton terbelalak, yakni 21-5, 21-1.

"Saya tidak menyangka bisa bermain bulutangkis di APG, hingga di paralimpiade sangat ga nyangka sampai sekarang, bisa keliling dunia. Ibu saya terus menyemangati saya agar tidak minder. Intinya bersyukur, senang dan bangga saya bisa lagi persembahkan medali emas ini untuk bangsa Indonesia, karena APG ini hattrick saya dan masih bisa mempertahankan emas," kata perempuan berusia 33 tahun ini.

Kini, Rina bersiap-siap tampil di Asian Para Games Jepang dan menargetkan lolos kualifikasi Paralimpiade Los Angeles tahun 2028. Dengan demikian, sobat pencinta bulu tangkis Indonesia juga perlu siap-siap menyaksikan aksi-aksi Rina lagi di lapangan!

baca juga

 

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.