Dari pesisir hingga pegunungan, bentang alam Papua Tengah membentuk keragaman bahan pangan dan tradisi kulinernya. Hasil laut, sagu, hingga umbi-umbian hadir dalam sajian yang berbeda di tiap wilayah dan komunitas.
Di Mimika, misalnya, karaka atau kepiting bakau menjadi salah satu hasil perikanan yang penting bagi masyarakat pesisir. Sementara itu, di dataran tinggi, petatas atau ubi jalar memiliki peran besar sebagai sumber pangan.
Di antaranya keduanya ada sagu, ikan, umbi-umbian dan berbagai tradisi pengolahan yang memperlihatkan hubungan erat antara makanan, alam, dan kehidupan sosial masyarakat Papua Tengah.
Kekayaan Alam yang Membentuk Kuliner Papua Tengah
Papua Tengah memiliki bentang alam yang sangat beragam. Pemerintah Provinsi Papua Tengah memetakan wilayahnya mulai dari dataran rendah dan pesisir di Nabire, kawasan pegunungan di bagian tengah, hingga dataran rendah, rawa, sungai, dan pesisir di Mimika. Dua kabupaten yang memiliki wilayah pesisir dan laut adalah Nabire di utara serta Mimika di selatan.
Perbedaan lingkungan tersebut ikut berperan dalam menentukan bahan pangan yang mudah diperoleh masyarakat. Kawasan pesisir menyediakan berbagai hasil perikanan dan biota laut, sementara wilayah dataran tinggi cocok untuk membudidayakan umbi seperti ubi jalar.
Di dataran tinggi Papua Tengah, petatas menjadi salah satu pangan penting bagi masyarakat. Ubi jalar ini memiliki ratusan varietas dengan karakter warna serta tekstur yang beragam. Selain umbi, sagu juga berperan penting dalam tradisi pangan Papua. Pati dari batang pohon sagu dapat diolah menjadi berbagai makanan, salah satunya papeda.
8 Makanan Khas Papua Tengah yang Menarik untuk Dikenal
Makanan khas Papua Tengah banyak memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di alam, seperti sagu, ubi, ikan air tawar, serta hasil buruan. Pengolahannya juga masih mempertahankan cara tradisional yang memberi cita rasa khas sekaligus menjaga warisan budaya masyarakat.
Berikut beberapa kuliner Papua Tengah yang menarik untuk dicoba saat berkunjung.
Papeda

Papeda︱Wikimedia Commons - Rik Schuiling
Papeda merupakan olahan sagu yang dikenal luas di Papua dan Maluku. Karena itu, papeda tidak tepat disebut sebagai makanan yang berasal dari Papua Tengah.
Di Papua Tengah, hidangan berbahan sagu ini tetap relevan sebagai bagian penting makanan lokal Papua, termasuk dalam sajian yang dapat ditemui di Nabire. Salah satu tempat makan yang tercatat menyajikan papeda dan ikan kuah kuning berada di Kabupaten Nabire.
Bahan utamanya adalah pati sagu yang dimasak dengan air panas hingga berubah menjadi bubur yang kental, bening, lengket, dan kenyal. Papeda sendiri memiliki rasa yang relatif netral sehingga cita rasanya banyak ditentukan oleh lauk pendamping.
Ikan kuah kuning menjadi salah satu pasangan lauk yang paling umum dijumpai, dengan rasa gurih, segar, dan sedikit pedas dari bumbu seperti kunyit, serai, dan rempah lainnya. Tekstur papeda yang khas membuat cara menikmatinya pun berbeda dari nasi.
Papeda biasanya diambil menggunakan alat makan khusus atau digulung sebelum dipindahkan ke piring, kemudian disantap bersama kuah ikan.
Karaka
Karaka merupakan sebutan lokal untuk kepiting bakau atau mud crab dari genus Scylla yang ditemukan di kawasan pesisir dan muara di Kabupaten Mimika. Sumber akademik mengenai masyarakat pesisir Mimika juga menyebut karaka sebagai komoditas perikanan yang mendukung mata pencaharian nelayan di wilayah tersebut.
Karaka memiliki kaitan erat dengan ekosistem mangrove dan kawasan muara. Di Mimika, komoditas ini bahkan terus dikembangkan sebagai produk perikanan bernilai ekonomi.
Sebagai bahan kuliner, kepiting bakau dikenal memiliki daging yang gurih dan tekstur yang padat. Cara pengolahannya dapat berbeda menurut rumah tangga atau tempat makan, mulai dari direbus hingga dimasak dengan bumbu tertentu.
Ikan Ekor Kuning Bakar
Ikan ekor kuning disebut sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam hidangan pesisir, termasuk di kawasan Nabire. Namun, ikan ekor kuning sendiri bukan spesies yang eksklusif Papua Tengah dan juga dikonsumsi di berbagai wilayah Indonesia.
Teknik pengolahannya relatif sederhana: ikan dibersihkan, dibumbui, kemudian dibakar hingga bagian luarnya matang dan mengeluarkan aroma asap. Kesederhanaan tersebut justru memungkinkan rasa alami ikan tetap menonjol. Teksturnya cenderung lembut dan gurih ketika ikan masih segar.
Ikan bakar juga dapat dipadukan dengan sambal segar. Salah satunya adalah colo-colo, sambal yang dikenal di sebagian wilayah Papua dan berasal dari tradisi kuliner Maluku. Colo-colo umumnya menggunakan cabai, bawang, tomat, dan perasan jeruk, menghasilkan perpaduan rasa pedas, asam, segar, dan sedikit asin atau manis tergantung racikannya.
Bakar Batu

Bakar Batu︱Wikimedia Commons - Paul
Bakar batu bukan hanya teknik memasak, tetapi juga menjadi kegiatan bersama bagi sejumlah komunitas di Papua. Prosesnya melibatkan banyak orang, mulai dari menyiapkan bahan hingga memasak dan menyanta makanan bersama-sama
Dalam prosesnya, batu dipanaskan hingga sangat panas, kemudian digunakan untuk memasak makanan yang disusun berlapis dan ditutup menggunakan bahan alami. Teknik ini dikenal dengan berbagai nama menurut komunitas dan wilayah. Di Paniai, misalnya, tradisi tersebut dikenal dengan istilah gapii atau mogo gapii.
Bakar batu juga dapat dilakukan dalam konteks kegiatan bersama, seperti perayaan, ungkapan syukur, peresmian, atau kegiatan sosial lainnya. Proses persiapannya melibatkan pembagian pekerjaan dan kebersamaan warga.
Karena itu, makna bakar batu tidak berhenti pada teknik memasak menggunakan batu panas, tetapi juga berkaitan dengan hubungan sosial di dalam komunitas.
Pelaksanaannya pun tidak selalu sama. Nama, bahan, tahapan, dan konteks pelaksanaan dapat berbeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya.
Petatas

Petatas︱Indonesia.travel
Petatas adalah sebutan yang umum digunakan untuk ubi jalar (Ipomoea batatas) di Papua. Di wilayah dataran tinggi Papua Tengah, petatas penting dalam pola konsumsi masyarakat. Sumber Indonesia Travel mencatat bahwa ubi jalar menjadi pangan penting di wilayah yang kini termasuk Papua Tengah, seperti Paniai, Deiyai, Dogiyai, dan Intan Jaya.
Berbeda dari anggapan bahwa umbi hanya berfungsi sebagai pengganti nasi. Di sejumlah komunitas, petatas ini berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, ritual adat, sistem pertukaran, dan ketahanan pangan. Bahkan, terdapat banyak varietas dengan warna, tekstur, dan karakter rasa yang berbeda.
Cara pengolahannya sederhana, tanaman ini dapat dibakar ataupun direbus. Beberapa varietas juga dapat diolah menjadi bentuk makanan lain. Ketika dibakar, bagian luarnya menghasilkan aroma khas sementara bagian dalamnya menjadi lunak dan cenderung manis.
Udang Selingkuh
Udang selingkuh bukan merupakan makanan khas Papua Tengah. Indonesia Travel menjelaskan bahwa makanan ini menggunakan udang air tawar dari sungai dan danau kawasan pegunungan Papua. Bentuknya menyerupai udang, tetapi memiliki capit besar seperti pada kepiting, udang selingkuh termasuk Genus Cherax sp.
Udang selingkuh juga dapat ditemukan di perairan Danau Paniai, Papua Tengah. Meski memiliki keterkaitan dengan wilayah tersebut, kuliner ini lebih dikenal sebagai hidangan khas Papua Pegunungan.
Dagingnya dikenal gurih dengan sedikit rasa manis, sementara teksturnya lembut tetapi padat. Pengolahannya dapat dilakukan dengan berbagai saus atau bumbu. Udang selingkuh kuliner yang dapat ditemukan di wilayah perairan Papua Tengah.
Bagea
Bagea merupakan camilan berbahan sagu yang dikenal di kawasan Indonesia timur. Karena persebarannya luas, makanan ini tidak tepat dikatakan sebagai makanan yang hanya berasal dari Papua Tengah saja.
Bagea yang berbahan sagu memiliki tekstur cenderung renyah dan rasa manis. Bahan tambahannya dapat berbeda-beda, tetapi sagu menjadi bahan utama yang memberikan karakter pada camilan ini.
Camilan bagea menunjukkan bahwa sagu tidak hanya hadir sebagai makanan utama seperti papeda. Pati sagu dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan, termasuk kudapan kering yang lebih mudah disimpan dan dibawa.
Colo Dabu-Dabu
Colo-colo berasal dari Maluku dan kemudian dikenal di sebagian wilayah Papua, sedangkan dabu-dabu berasal dari Sulawesi Utara. Keduanya sama-sama menggunakan bahan segar seperti cabai, bawang, dan tomat, tetapi tidak identik.
Di Papua, colo-colo dapat menjadi pendamping ikan bakar dan hidangan laut. Karakter rasanya segar, pedas, dan asam, terutama dari cabai serta perasan jeruk. Beberapa versi juga menggunakan kecap atau minyak kelapa sehingga menghasilkan rasa yang lebih kompleks.
Karakter pangan Papua Tengah terbentuk oleh kondisi geografisnya. Di sepanjang pantai Nabire dan Mimika, hidangan laut seperti ikan bakar dan karaka melimpah, sementara di pegunungan, ubi jalar atau petatas menjadi sumber pangan utama warga.
Kuliner Papua Tengah menggambarkan kekayaan alam, tradisi, dan cerita masyarakat yang hadir di dalamnya. Menjelajahi kuliner Papua menjadi salah satu cara untuk mengenal Papua lebih dekat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


