Papua sering kita kenal lewat bentang alamnya yang indah, tetapi selain itu, kekayaan alamnya juga tak kalah megah. Dari pesisir hingga pegunungan, Papua menghasilkan beragam bahan pangan lokal seperti buah matoa, buah merah, sagu, kelapa, ubi, hingga kopi yang kemudian diolah menjadi berbagai jenis olahan, salah satunya minuman.
Selama ini minuman di Papua identik dengan kopi pegunungan, tetapi ternyata masih banyak minuman lain yang layak dicoba. Mulai dari seduhan herbal, es buah, hingga kreasi es krim berbahan sagu.
9 Minuman Khas Papua yang Menarik untuk Dicoba
Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut 9 minuman khas Papua yang menarik untuk Kawan coba.
Es Matoa
Matoa merupakan salah satu buah khas Papua yang memiliki bentuk bulat lonjong dengan kulit keras. Saat matang, daging buahnya terasa manis, beraroma wangi, serta memiliki tekstur yang kenyal dan sedikit lengket. Cita rasanya kerap digambarkan seperti perpaduan rambutan, kelengkeng, dan leci.
Di Papua, matoa juga dapat dinikmati sebagai minuman dingin melalui sajian es buah. Dalam salah satu penyajiannya, buah matoa yang telah dibuang bijinya dicampurkan dengan kolang-kaling, agar-agar, cincau hitam, biji selasih, dan biji pala.
Campuran tersebut kemudian diberi sirup, es batu, serta pelengkap seperti jeruk limau dan daun pandan. Ada pula versi yang menggunakan mangga, carica, tape ketan, madu, dan santan.
Teh Sari Sarang Semut
Namanya mungkin terdengar seperti minuman yang dibuat dari sarang semut, tetapi bahan utamanya justru menggunakan tanaman bernama Myrmecodia pendans. Tanaman yang memiliki batang yang menggembung dan berongga.
Rongga tersebut menjadi tempat hidup bagi kawanan semut sehingga masyarakat kemudian mengenalnya sebagai sarang semut. Tanaman ini juga telah lama dikenal di Papua dan dimanfaatkan sebagai bahan seduhan.
Untuk membuatnya menjadi teh, bagian sarang semut yang sudah tua atau matang terlebih dahulu dipilih, kemudian dikeringkan. Setelah kering, bahan tersebut dipotong atau dihaluskan menjadi bubuk dan diayak sebelum digunakan sebagai bahan seduhan.
Saat diseduh, teh sarang semut memiliki rasa yang cenderung pahit, sehingga seringkali dipadulan dengan bahan lain yang membuat teh ini enak dinikmati.
Es Kelapa Muda Asam Manis
Es kelapa muda asam manis menawarkan cara lain untuk menikmati kelapa muda. Minuman ini menggunakan kelapa degan yang dikerok, air kelapa, biji selasih, serta air jeruk nipis sebagai bahan utamanya. Rasa manis berasal dari gula yang telah dimasak dan rasa asamnya berasal dari perasan jeruk nipis.
Cara penyajiannya pun cukup sederhana. Kelapa muda, selasih, air kelapa, dan air jeruk nipis dicampurkan terlebih dahulu, kemudian diberi es batu dan sirup gula. Minuman lalu dituangkan ke dalam gelas dan dilengkapi potongan jeruk nipis sebagai hiasan. Minuman ini cocok diminun saat cuaca panas.
Es Sunset Papua
Es sunset Papua terdiri dari jus jeruk pada bagian bawah dan jus wortel pada bagian atas. Perpaduan kedua jus tersebut menghasilkan warna yang menyerupai pemandangan matahari terbenam, sehingga lahirlah nama “Sunset Papua”.
Dari segi rasa, es sunset Papua memiliki cita rasa alami dari jeruk dan wortel. Namun, bagi Kawan yang kurang menyukainya dapat menambahkan gula agar lebih sesuai dengan lidah masing-masing.
Swansrai
Bagi masyarakat di wilayah Biak, Supiori, dan Numfor, ada minuman yang tidak hanya menawarkan rasa khas, tetapi juga memiliki cara penyajian yang unik, yaitu swansrai. Nama tersebut berasal dari bahasa Biak, yaitu swan yang berarti air atau minuman dan srai yang berarti kelapa. Minuman ini dibuat dari air atau nira yang diperoleh dari pohon kelapa tua, kemudian melalui proses fermentasi hingga menghasilkan minuman beralkohol.
Swansrai dikenal memiliki rasa yang kuat dan sedikit pahit. Proses fermentasi membuat minuman ini mengandung alkohol, dengan sejumlah sumber mencatat kadarnya dapat mencapai sekitar 20–30 persen.
Keunikan lainnya yaitu dari cara penyajiannya. Swansrai secara tradisional disajikan menggunakan tempurung kelapa yang telah dibelah atau diberi lubang pada bagian atas.
Kopi Papua Wamena
Di kawasan pegunungan Papua, Wamena menjadi salah satu daerah yang dikenal dengan produksi kopinya. Perkebunan kopi Wamena berada di sekitar Lembah Baliem, kawasan yang berada di ketinggian sekitar 1.200–1.600 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis pegunungan tersebut menjadi salah satu bagian dari lingkungan tempat kopi arabika Wamena dibudidayakan.
Kopi Wamena memiliki rasa yang cukup beragam. Terdapat aroma floral dan spicy hingga aksen citrus dan herbal. Keasamannya disebut berada pada tingkat medium dengan after taste yang manis dan lembut.
Jus Buah Merah
Buah merah (Pandanus conoideus L.) merupakan tanaman dari keluarga Pandanaceae yang banyak ditemukan di berbagai wilayah Papua dan juga dikenal di Papua Nugini. Selain dikonsumsi dalam bentuk buah, bagian daging buah merah juga dapat diolah menjadi jus. Pengolahan buah merah menjadi jus membuat buah ini lebih mudah dinikmati.
Sari buah merah memiliki warna yang kuat karena kandungan pigmen alami pada buahnya. Tekstur dan cita rasanya dapat berbeda bergantung pada proses pengolahan, sehingga penyajiannya sebagai minuman tidak selalu memiliki karakter yang sama.
Es Krim Sagu
Sagu tidak hanya diolah menjadi papeda atau makanan tradisional lainnya. Di Papua, bahan pangan yang menjadi salah satu ikon ini juga dikembangkan menjadi sajian yang lebih modern, salah satunya es krim sagu.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh UMKM di Kabupaten Jayapura dan mendapat pembinaan dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Papua sebagai upaya memperbanyak produk turunan sagu sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Es krim sagu memiliki tekstur dan rasa yang tidak jauh berbeda dari es krim pada umumnya, tetapi tetap menyisakan karakter sagu sebagai bahan dasarnya. Penyajiannya juga hadir dalam berbagai varian rasa.
Di Galeri Kreatif Kehutanan Papua, misalnya, terdapat enam pilihan, yaitu cokelat, mangga, buah naga, kopi, matoa, dan buah merah. Varian matoa dan buah merah menjadi salah satu ciri khas karena menggunakan bahan yang tersedia di Papua.
Selain di pusat oleh-oleh di Jayapura, es krim sagu juga dapat ditemukan di Kampung Yoboi, Kabupaten Jayapura. Beberapa sajian bahkan memadukan sagu dengan sari buah merah maupun buah lain seperti mangga, buah naga, dan alpukat.
Kopi Amungme
Kopi Amungme merupakan kopi Arabika yang dibudidayakan oleh masyarakat Amungme di sejumlah kampung sekitar Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Sumber Budaya Indonesia mencatat perkebunan kopi ini berada di Kampung Oroanop, Tsinga, Hoya, dan Banti, pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut.
Dalam proses produksinya, biji kopi disaring terlebih dahulu untuk memilih biji yang sesuai sebelum dipanggang. Kopi Amungme kemudian tersedia dalam bentuk biji utuh maupun bubuk yang siap diseduh. Untuk menikmatinya, kopi dapat diseduh menggunakan air panas dan disesuaikan tingkat kekentalannya menurut selera.
Dari Sagu hingga Kopi, Apa yang Membuat Minuman Papua Unik?
Keragaman minuman Papua tidak terlepas dari penggunaan bahan pangan yang tumbuh alamu di wilayahnya. Sagu dan kelapa banyak dimanfaatkan di kawasan pesisir, sementara buah seperti matoa dan buah merah memberikan pilihan rasa serta warna yang berbeda. Di wilayah pegunungan, kopi menjadi salah satu komoditas yang menonjol dan diolah dengan karakter yang khas di masing-masing daerah.
Perbedaan bahan tersebut membuat minuman Papua punya karakter yang beragam, mulai dari segar dan manis hingga kuat dan pahit. Namun, keunikannya bukan hanya soal bahan yang mungkin jarang ditemui di daerah lain. Cara masyarakat mengolah bahan yang tersedia di lingkungan mereka juga menjadi bagian penting dari cerita kuliner Papua.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


