Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September. Kondisi kering juga semakin meluas. Hingga akhir Juli, sebanyak 516 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan sebelumnya menyebut puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. "Puncak musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi terjadi mayoritas pada bulan Agustus hingga September tahun 2026," kata Ardhasena dalam jumpa pers pada 30 Juli 2026.
Perkembangan kondisi atmosfer hingga awal Agustus menunjukkan periode kering masih berlanjut. BMKG mencatat sekitar 76,3 persen wilayah Indonesia mengalami sifat hujan di bawah normal pada Dasarian III Juli. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan meteorologis dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Musim kemarau saat ini terutama dipengaruhi oleh kondisi El Niño kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase positif. Indeks Niño3.4 tercatat berada di atas +2 derajat Celsius, sedangkan indeks IOD berada pada angka +0,63. Kombinasi keduanya membuat suplai uap air ke Indonesia berkurang sehingga kondisi kemarau berpotensi lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Hujan Masih Bisa Turun secara Lokal
Meski musim kemarau semakin dominan, bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan sepenuhnya tanpa hujan. BMKG masih memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah.
Pada 11-14 Agustus, hujan dengan intensitas sedang berpeluang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua. Sementara pada 15-17 Agustus, potensi hujan sedang diperkirakan terdapat di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Papua Pegunungan, dan Papua.
Fenomena atmosfer seperti Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah. Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi cuaca harian meskipun sebagian besar wilayah sedang mengalami kemarau.
Pada periode 11-17 Agustus, kondisi cuaca secara umum diperkirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, angin kencang juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
Dampaknya Menyentuh Banyak Sektor
Kondisi kemarau perlu diantisipasi oleh berbagai sektor. Dalam bidang pertanian, BMKG mengimbau petani menyesuaikan musim tanam dan memilih varietas tanaman yang sesuai dengan ketersediaan air.
Informasi curah hujan juga penting bagi pengelolaan sumber daya air dan sektor energi. Menurut Ardhasena, data iklim dapat digunakan untuk menentukan rencana penggunaan air pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Cuaca panas juga dapat meningkatkan konsumsi energi karena kebutuhan pendinginan yang lebih tinggi.
Dampak kemarau juga berkaitan dengan kesehatan. Tutupan awan yang lebih rendah dapat membuat paparan sinar matahari meningkat dan suhu terasa lebih panas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko heatstroke, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas lama di luar ruangan.
Udara yang lebih kering juga dapat menurunkan kualitas udara dan berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu memperhatikan kondisi tubuh dan cuaca.
Hemat Air dan Waspadai Kebakaran
BMKG mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air karena kondisi kering diperkirakan masih berlangsung. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat diingatkan untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan. Jika menemukan indikasi titik api atau hotspot, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang.
Untuk menghadapi cuaca panas, BMKG juga mengimbau masyarakat menggunakan pelindung atau tabir surya serta menjaga kecukupan cairan tubuh, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Kewaspadaan tetap diperlukan ketika hujan turun. Hujan lokal yang disertai petir dan angin kencang masih mungkin terjadi selama musim kemarau. Masyarakat diminta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan yang rapuh ketika cuaca memburuk.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi, termasuk laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg. Informasi tersebut dapat membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas dan mengambil langkah antisipasi selama periode puncak musim kemarau.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


