taek lauk jejak leluhur yang masih hidup di lereng gunung kayangan lombok utara - News | Good News From Indonesia 2026

Taek Lauk, Jejak Leluhur yang Masih Hidup di Lereng Gunung Kayangan, Lombok Utara

Taek Lauk, Jejak Leluhur yang Masih Hidup di Lereng Gunung Kayangan, Lombok Utara
images info

@aryaindraputra


Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada masyarakat yang setia menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari identitasnya. Pemandangan itulah yang dapat ditemukan di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Setiap tahun, masyarakat adat berjalan bersama menuju Montong Gedeng atau Gunung Kayangan untuk melaksanakan ritual Taek Lauk. Ini adalah sebuah tradisi yang bukan sekadar seremoni adat, tetapi juga menjadi simbol syukur, persaudaraan, dan penghormatan terhadap alam.

Tahun demi tahun berlalu, tradisi ini tetap hidup. Anak-anak, pemuda, orang tua, hingga para tokoh adat berkumpul dalam satu tujuan yang sama. Mereka membawa doa, harapan, sekaligus amanah untuk menjaga adat yang telah diwariskan turun-temurun.

Ritual Taek Lauk dilaksanakan setiap tanggal 14 Hijriah pada bulan kelima dalam penanggalan adat Jango Bangar, atau yang dikenal sebagai Taon Dal. Lokasinya berada di Montong Gedeng, Dusun Sidutan, Desa Kayangan, sebuah kawasan yang dipercaya masyarakat adat memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi.

Bagi masyarakat adat Wet Sesait, Taek Lauk merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa agar hujan tetap turun sehingga keseimbangan alam dan kehidupan para petani tetap terjaga. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan hanya soal memanfaatkan, tetapi juga merawat dan menghormatinya.

Bukan Milik Satu Desa, tetapi Warisan Bersama

Sekilas, ritual ini memang berlangsung di wilayah administratif Desa Kayangan. Namun secara adat, Taek Lauk adalah milik seluruh masyarakat Wet Sesait.

Kepala Desa Kayangan terdahulu, Edi Kartono, S.E., menjelaskan bahwa meskipun wilayah Kecamatan Kayangan telah berkembang menjadi beberapa desa secara administratif, masyarakat adat tetap berada dalam satu kesatuan wilayah adat. Karena itu, pelaksanaan Taek Lauk tidak hanya diikuti oleh warga Desa Kayangan, tetapi juga masyarakat dari Sesait, Santong, Santong Mulia, hingga Pendua.

Kesatuan adat tersebut menjadi bukti bahwa batas pemerintahan tidak menghapus ikatan budaya yang telah terbentuk jauh sebelum desa-desa dimekarkan. Tradisi justru menjadi ruang yang menyatukan masyarakat dalam satu identitas yang sama.

baca juga

Bagian dari Kalender Leluhur

Hal menarik lainnya adalah penentuan waktu pelaksanaan ritual yang tidak mengikuti kalender Masehi maupun Hijriah semata. Masyarakat adat masih menggunakan kalender Jango Bangar, sistem penanggalan tradisional yang diwariskan oleh leluhur.

Dalam kalender ini dikenal delapan siklus tahun, yaitu Alif, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Delapan siklus tersebut terus berputar sehingga satu abad menurut perhitungan adat berjumlah 64 tahun, berbeda dengan satu abad dalam kalender Masehi yang berjumlah 100 tahun.

Melalui penanggalan inilah masyarakat menentukan kapan berbagai ritual adat dilaksanakan. Bulan keempat menjadi waktu pelaksanaan Taek Daya di Gunung Kenawan, sedangkan bulan kelima merupakan waktu penyelenggaraan Taek Lauk di Gunung Kayangan. Setelah itu masyarakat mulai memasuki masa persiapan musim tanam.

Penanggalan adat tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat Sasak tidak hanya berkaitan dengan budaya, tetapi juga menjadi pedoman dalam mengatur ritme kehidupan agraris.

Tapak Tilas Raden Panji Mas Kolo

Di balik ritual Taek Lauk tersimpan sebuah kisah yang terus hidup melalui tradisi lisan masyarakat, yakni legenda Raden Panji Mas Kolo.

Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Raden Panji Mas Kolo dipercaya melakukan perjalanan panjang mengelilingi Pulau Lombok untuk membuktikan ikatan persaudaraan dengan Datu Bayan. Dalam perjalanan tersebut beliau wafat sebelum mencapai tujuan.

Jenazahnya kemudian terus digotong oleh para pengikut hingga tiba di Montong Gedeng. Di tempat inilah beliau dimakamkan.

Masyarakat meyakini bukit yang kini dikenal sebagai Montong Gedeng berkaitan dengan kisah itu. Terlepas dari nilai historisnya, legenda ini memiliki pesan yang jauh lebih penting, yaitu bahwa persaudaraan tidak dibatasi oleh asal daerah, suku, maupun wilayah. Semua manusia memiliki hubungan sebagai sesama ciptaan Tuhan. Nilai inilah yang terus diwariskan kepada generasi muda melalui ritual Taek Lauk.

Tradisi yang Menguatkan Solidaritas

Taek Lauk bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat sakral. Ritual ini juga menjadi ruang bertemunya seluruh masyarakat adat.

Sejak beberapa hari sebelum pelaksanaan, warga bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan ritual. Kaum perempuan memasak hidangan tradisional, para laki-laki menyiapkan perlengkapan acara, sementara para tokoh adat mempersiapkan seluruh prosesi sesuai aturan yang diwariskan leluhur.

Kebersamaan tersebut menjadi wajah nyata dari budaya gotong royong masyarakat Sasak yang masih terpelihara hingga sekarang.

Taek Lauk juga mengandung nilai-nilai sosial berupa gotong royong, tolong-menolong, kekeluargaan, serta penghormatan terhadap warisan budaya. Tradisi ini menjadi media yang memperkuat solidaritas sosial sekaligus menjaga identitas masyarakat adat Wet Sesait.

baca juga

Menjaga Warisan, Merawat Masa Depan

Di tengah perubahan zaman, Taek Lauk menunjukkan bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan modernitas. Sebaliknya, tradisi menjadi fondasi yang memperkuat identitas masyarakat sekaligus mengajarkan nilai-nilai yang tetap relevan hingga hari ini.

Melalui Taek Lauk, masyarakat adat Kayangan mengajarkan bahwa rasa syukur kepada Tuhan, kepedulian terhadap alam, dan persaudaraan antarsesama merupakan warisan yang tidak boleh hilang ditelan waktu.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Taek Lauk adalah bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang hidup bersama masyarakatnya. Selama nilai-nilai itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tradisi ini akan tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat adat di Lombok Utara sekaligus menjadi salah satu wajah indah keberagaman budaya Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.