bukan sekadar potong rambut ini makna di balik ruwatan anak gimbal dieng - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sekadar Potong Rambut, Ini Makna di Balik Ruwatan Anak Gimbal Dieng

Bukan Sekadar Potong Rambut, Ini Makna di Balik Ruwatan Anak Gimbal Dieng
images info

ruwatan rambut gimbal dieng | sumber: Pemprov Jateng


Ruwatan rambut gimbal Dieng merupakan tradisi pemotongan rambut sakral yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Dataran Tinggi Dieng dan tetap lestari hingga saat ini. Di balik hamparan kabut dingin dan keindahan alamnya tradisi ini menghubungkan kehidupan masyarakat lokal dengan tradisi yang kuat. 

Adanya fenomena rambut melilit secara alami pada anak-anak diyakini masyarakat Dieng membawa pesan spiritual khusus. Dengan adanya tradisi ruwatan rambut gimbal anak-anak di Dieng, masyarakat tidak hanya menyucikan sang anak dari malaptaka dan menghormati warisan kebudayaan leluhur yang tak pernah pudar oleh zaman.

Bagi Kawan GNFI yang penasaran tradisi ruwatan rambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng, simak artikel berikut ini.

Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di Dieng, Tradisi yang Terjaga

Ruwatan rambut gimbal merupakan sebuah tradisi pemotongan rambut pada anak-anak yang memiliki rambut gimbal pada masyarakat Dataran Tinggi Dieng, lereng Gunung Sindoro-Sumbing, lereng Merbabu, hingga Kabypaten Bajarnegeara. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada tanggal satu Suro atau satu Muharram.

Upacara adat ini umumnya diperuntukkan bagi anak dengan rambut yang gimbal alami dengan kisaran umur sekitar 7 hingga 10 tahun, di mana kondisi fisik dan mental sang anak dianggap siap menghadapi prosesi pembersihan diri secara spiritual. 

Ruwatan rambut gimbal, titisan Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Ronce

ruwatan, ruwatan rambut gimbal, ruwatan rambut dieng, ruwatan rambut gimbal dieng
info gambar

Ruwatan Rambut Gimbal Dieng | Sumber: Pemprov Jateng


Masyarakat setempat meyakini bahwa fenomena rambut gimbal tidak muncul secara kebetulan, melainkan memilik hubungan dengan sejarah masa lalu tanah Dieng. Dikutip dari situs Kemendikdasmen, masyarakat Dieng meyakini munculnya rambut gimbal merupakan warisan leluhurnya yaitu Kyai Kolodete dan Nini Roro Ronce. 

Menurut cerita, demi kemakmuran desa, Kyai Kolodete bersumpah tidak akan memotong rambutnya dan tidak akan mandi sebelum desa yang dibukanya menjadi makmur. Hal inilah yang menyebabkan keturunan Kyai Kolodete nantinya akan mempunyai ciri rambut yang sama seperti dirinya.

Versi lain menyebutkan bahwa munculnya rambut gimbal pada anak-anak merupakan titipan Kanjeng Ratu Kidul melalui Nini Roro Ronce. Sosok Nini Roro Ronce yang merupakan abdi dari Nyi Roro Kidul, Sang penguasa Laut Selatan yang bertugas tinggal dan menjaga Dataran Tinggi Dieng, juga digambarkan sebagai wanita yang memiliki rambut gimbal.

Versi lain menyebutkan bahwa munculnya rambut gimbal pada anak-anak merupakan titipan Kanjeng Ratu Kidul bagi masyarakat yang masih menganut kepercayaan Kejawen. Munculnya rambut gimbal diawali dengan gejala demam tinggi selama beberapa waktu yang tidak dapat disembuhkan secara medis, tetapi akan sembuh dengan sendirinya. Ketika sembuh, rambut sang anak akan menempel satu sama lain hingga menjadi gimbal.

Dikutip dari laman resmi DJKN Kemenkeu, perubahan juga terlihat dari tingkah laku sang anak yang cenderung lebih banyak menyendiri. Anak-anak berambut gimbal ini dianggap membawa kesialan jika tidak diruwat, namun sebaliknya akan membawa limpahan rezeki setelah potong rambut atau ruwatan dilakukan.

Keinginan Anak jadi syarat ruwatan

Keunikan tersendiri dari gelaran ruwatan rambut anak gimbal berada pada syarat mutlak yang bersumber langsung dari keputusan sang anak bukan dari orangtua yang menetapkan potong rambut.

Dikutip dari laman Kemendikdasmen, acara ruwatan dilakukan setelah si anak mengajukan permintaan sendiri untuk potong rambut dengan persyaratan khusus yang disebut "bebana".

Sebagaimana dirangkum dari laman resmi Kemenkeu, prosesi tersebut hanya akan dilaksanakan ketika sang anak sudah memiliki keinginan untuk memotong rambutnya.

Selain itu, beberapa saat sebelum dipotong, sang anak akan mengajukan suatu permintaan yang harus dipenuhi oleh orang tua atau penyelenggara. Syarat ini wajib disanggupi apabila tidak dipenuhi, konon rambut sang anak akan kembali menjadi gimbal meskipun telah dicukur melalui ruwatan.

Beragam Rangkaian Proses Ruwatan Rambut Gimbal

Rangkaian ruwatan berlangsung secara sistematis, sakral, dan penuh hikmat melalui beberapa tahapan utama seperti dimulai sehari sebelumnya dengan memanjatkan doa di sepuluh titik sakral agar upacara berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut meliputi Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (Gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.

Dilanjutkan jamasan atau penyucian pusaka-pusaka yang akan dibawa saat ikrar atau kirab keesokan harinya, kirab budaya yang dipimpin tokoh adat. Setelah kirab kemudian anak-anak dimandikan di sumur Sendang Sedayu atau Sendang Maerokoco.

Kemudian proses pencukuran rambut di depan Candi Arjuna untuk dicukur selama kurang lebih 30 menit. Potongan rambut tersebut dibungkus dengan kain putih untuk dilarungkan.

Setelah itu, orang tua atau pemangku adat menyerahkan barang atau hadiah bebana yang diminta oleh anak secara langsung. Terakhir adalah pelarungan rambut, para abdi upacara menghanyutkan potongan rambut gimbal ke Telaga Warna yang nantinya berhilir ke Pantai Selatan di Samudera Hindia.

Keberlanjutan tradisi ruwatan rambut gimbal di Dieng menjadi bukti nyata betapa masyarakat lokal dan sekitarnya terus memegang teguh komitmen untuk memelihara warisan leluhur serta memperlihatkan betapa kayanya akar identitas yang dimiliki bangsa ini.

Eksplorasi ragam kebudayaan dan kekayaan tradisi Indonesia tentu tak berhenti di puncak dingin Dataran Tinggi Dieng saja. Masih banyak cerita menarik seputar sejarah, budaya, hingga keanekaragaman fenomena kuliner khas dari berbagai penjuru nusantara yang siap menggugah rasa ingin tahu Kawan GNFI.

Mari lanjutkan perjalanan menelusuri kehangatan tradisi dan kearifan lokal lainnya melalui deretan artikel inspiratif di Good News From Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Evita Damayanti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Evita Damayanti.

ED
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.